Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Menyelami Kontekstualisasi Kesalehan Sosial Islam & Stoikisme dalam Puasa

Ainul Hafidz • Senin, 3 Maret 2025 | 13:53 WIB
Siti Fatimah Junita Sari, S.Pd, penulis buku Bimbingan Konseling Pesantren Suatu Pengantar & Guru BK  MAN 4 Jombang
Siti Fatimah Junita Sari, S.Pd, penulis buku Bimbingan Konseling Pesantren Suatu Pengantar & Guru BK MAN 4 Jombang

Islam bukanlah agama individual melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin).

Agama yang tidak hanya untuk kepentingan penyembahan dan pengabdian diri pada Allah semata tetapi juga menjadi rahmat bagi semesta alam.

Puasa implikasi sosialnya juga sangat jelas, dengan menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, seseorang akan mampu merasakan kaum duafa dan mampu bersimpati terhadap derita orang lain. Sehingga,fungsi puasa adalah tahzib, ta’dib dan tadrib.

Puasa merupakan sarana untuk mengarahkan (tahzib), membentuk karakteristik jiwa (ta’dib), serta medium latihan untuk berupaya menjadi manusia yang kamil dan paripurna (tadrib), yang pada esensinya bermuara pada tujuan akhir puasa, yakni takwa.

Takwa dan kesalehan sosial tak bisa dipisahkan.

Kesalehan sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesempurnaan iman.

Seorang mukmin akan sempurna imannya dengan kesalehan sosialnya. Ada dua dimensi kesalehan.

Yang pertama adalah sholehah li nafsihi, yaitu kesalehan untuk diri sendiri. Yang kedua adalah sholehah bi ghoiri, yaitu bermanfaat bagi orang lain, inilah kesalehan sosial.

Dalam hadis Bukhari disebutkan, siapa muslim yang paling utama? Muslim yang paling utama adalah ketika orang muslim lain selamat dari lisan dan amalnya.

Keberadaannya membuat nyaman, aman, tenteram, bagi orang-orang di sekelilingnya. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Hal yang menarik di sini adalah, jika kita selami kesalehan sosial dalam Islam esensinya sama dengan teori stoikisme, yang telah dikembangkan oleh filsuf Yunani Marcus Aurelius dalam buku ‘The Art of Stoicism’.

Baca Juga: Selama Ramadan, Karateka Jombang Tetap Latihan, Hanya Kurangi Porsi dan Durasi

Dalam teori tersebut ada bahasan tentang bijak dalam memahami orang lain.

Aurelius memaparkan bahwa dalam konteks kesalehan sosial ada beberapa implikasi yakni: mengembangkan empati dan pemahaman terhadap perspektif orang lain dan hubungan kita yang baik terhadap orang lain (Kinara, 2023;154-162).

Konteks teori ini kalau kita kuak esensinya sama dengan konsep kesalehan sosial yang ada dalam agama Islam, yakni muslim yang paling utama adalah seoramg muslim yang ketika orang muslim lain selamat dari lisan dan amalnya.

Penulis:

Siti Fatimah Junita Sari, S.Pd. *)

*) Penulis merupakan penulis buku ‘Bimbingan Konseling Pesantren Suatu Pengantar’  & Guru BK  MAN 4 Jombang

Editor : Ainul Hafidz
#BK #stoikisme #puasa #Sosial #Jombang #ramadan #guru #islam #MAN 4