JombangBanget.id – Kasus putus sekolah masih tinggi di Jombang.
Sepanjang 2024, setidaknya tiga siswa memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan jenjang SLTA.
Ini setelah ketiganya mengalami kekerasan seksual berbuntut kehamilan tidak diinginkan (KTD).
Satu siswa lainnya yang mengalami keguguran melanjutkan pendidikan kesetaraan di luar Jombang.
’’Dari tiga yang hamil, ada satu yang sudah melahirkan,’’ kata Direktur WCC Jombang, Ana Abdillah.
Bayinya diasuh sendiri. Satu mengalami keguguran dan kini melanjutkan pendidikan kesetaraan di Kota Madiun. Sementara dua lainnya belum melahirkan.
Ana memastikan, tiga anak yang seluruhnya dari Kecamatan Jombang jenjang SLTA tersebut tidak melanjutkan pendidikan.
Ia mengaku miris, hampir setiap tahun ada kasus anak korban kekerasan seksual yang mengalami KTD.
Tahun 2022 ada 10 kasus anak dan empat kasus dewasa yang mengalami KTD. Tahun 2023 ada 10 anak dan tiga kasus dewasa yang mengalami KTD.
Ana mengatakan, akar persoalan yang sering kali terjadi adalah karena banyak anak yang lebih percaya dengan lawan jenis.
Bahkan lawan jenis sering kali dijadikan tempat curhat hingga terjadi kenyamanan di sana.
Baca Juga: Buntut Siswa SDN 1 Wuluh Kesamben Keracunan, Dinas P dan K Jombang Minta Ini ke Sekolah
’’Banyak yang terjadi karena bujuk rayu, jadi anak punya ketergantungan finansial kepada orang dewasa, punya ketergantungan emosi dengan lawan jenis,’’ jelasnya.
Menurut Ana, pendidikan kesehatan reproduksi menjadi sangat penting saat ini. Pendidikan anti kekerasan harus masuk dalam kurikulum pendidikan yang ada di Jombang.
Pendidikan anti kekerasan harus dilandasi dengan pemahaman informasi soal kesehatan reproduksi.
’’Waktu ini kami sampaikan, ada yang mengatakan jika kesehatan reproduksi sudah disanpaikan dalam mapel IPA. Itu terbatas sekali, IPA hanya terbatas tentang anatomi tubuh, organ reproduksi, sedangkan kesehatan reproduksi lebih jauh dari itu,’’ jelasnya.
Kesehatan reproduksi mengenalkan kepada anak relasi yang sehat seperti apa.
’’Juga hubungan manipulatif seperti apa,’’ jelasnya. Kesehatan reproduksi bisa diintegrasikan dengan mapel yang relevan.
’’Anak harus tahu informasi ini dari orang yang tepat. Karena tentang cara membuat anak, hingga aborsi, anak cukup buka internet, kalau sumber dari internet dan bukan dari orang yang tepat ini sangat bahaya sekali,’’ jelasnya.
Ia mengisahkan, di Kecamatan Peterongan 2024 lalu. Kasus perempuan yang melahirkan bayi perempuan hingga meninggal dunia.
Setelah ditelisik, ia juga tak memahami tentang kesehatan reproduksi.
Korban kekerasan seksual lebih banyak menerima masukan soal pendidikan dari pendamping kasus.
Sehingga pendamping yang mencarikan sekolah, mendaftarkan, hingga mencarikan beasiswa.
’’Seperti kasus disabilitas Kecamatan Mojoagung yang jadi korban pacar ibunya, kita yang daftarkan ke salah satu SLB lain,’’ terangnya. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz