JombangBanget.id – Kesetaraan guru pendidikan anak usia dini (PAUD) terus diperjuangkan.
Terutama agar bisa mengikuti pendidikan profesi guru (PPG) sehingga bisa mendapatkan tunjangan sertififikasi dari pemerintah.
’’Sudah 20 tahun Himpaudi memperjuangkan kesetaraan, perlindungan dan pemberdayaan. Terakhir kita sampaikan kepada Mendikdasmen Abdul Mu’ti pada 18 November,’’ kata Ketua PP Himpaudi, Dr Betty Nuraini, dalam workshop pembelajaran berbasis project bagi PAUD di aula MAN 4 Jombang, Rabu (5/2).
Dia menyampaikan aspirasi kesulitan pendidik PAUD. ’’Menteri, wakil menteri dan seluruh jajarannya berjanji bakal memperjuangkan nasib guru non formal,’’ terangnya.
Satu tahun ini dia intens turun ke bawah.
’’Satu hal yang membuat saya semakin gencar memperjuangkan kesetaraan, ketika saya mendengar ada guru PAUD yang berbohong kepada kepala sekolahnya tidak bisa mengajar karena ada acara keluarga. Padahal tidak ada acara, tapi karena tidak punya ongkos untuk berangkat mengajar,’’ ungkap Popo Betty, sapaan akrab Dr Betty Nuraini.
Perjuangan kesetaraan terus dilakukan, karena guru PAUD tidak memiliki kesempatan mengikuti PPG untuk mendapatkan sertifikasi.
Juga tidak punya jenjang karir yang jelas seperti guru formal lainnya.
Mereka juga berharap ada perlindungan. Baik dari sisi hukum maupun sosial.
’’Saat ini sudah ada direktur guru PAUD dan PNFI agar bisa mengurus guru PAUD dan non formal dengan baik,’’ ungkapnya.
Sementara itu Ketua Himpaudi Kabupaten Jombang, Purnomo, mengatakan, melalui pembelajaran berbasis project, diharapkan anak didik dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, sosial, dan komunikasi.
’’Anak juga menjadi lebih mandiri, percaya diri, dan belajar secara bermakna melalui pengalaman nyata,’’ urainya.
Workshop diikuti 579 peserta dan 17 pengurus Himpaudi Jombang. Satu lembaga diwakili satu guru.
Juga dihadiri Kepala bidang PAUD dan PNFI Dinas P dan K Jombang, Kasmuji Raharja.
Sekretaris Umum PP Himpaudi, Dr Yuni Herlina juga Ketua PW Himpaudi Jawa Timur, Galih Waskito. (wen/jif)