Awal Juli sebelum berangkat mondok, ayah saya, Arsad Rumakway, di Kecamatan Gorom Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, menyampaikan pesan yang sampai sekarang masih saya ingat.
’’Nak, tumbuhlah menjadi manusia yang baik. Teruskanlah belajar, banyak hal yang kamu harus tahu,’’ tuturnya.
Ibu saya, Suryani Rumaday, juga menyampaikan pesan yang sangat menyentuh.
’’Nak, tidak selamanya ayah dan ibu bersamamu. Tugas ayah dan ibu hanya mengantarmu sampai pintu gerbang kehidupan yang kamu tuju. Setelah itu, kamu akan berjuang mensyukuri kehidupan yang baru. Karena nanti ada masa dimana ayah dan ibu tidak lagi ada di sampingmu,’’ ungkapnya.
Ibu juga mengucapkan kalimat yang membuat saya tidak bisa menahan air mata.
’’Maaf, selama menjadi orng tua, ayah dan ibu jauh dari kata sempurna. Semoga kamu menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari ayah dan ibumu ini. Satu hal yang pasti, pantang menyerah ya nak, ayah dan ibu tahu kamu pasti bisa,’’ pesannya.
Keduanya juga selalu mendoakan agar sukses.
’’Apa yang kamu hadapi saat ini, atau susah yang kamu hadapi sekarang ini, bersabarlah. Pasti suatu saat nanti kamu akan jadi orang yang sukses. Doa ayah dan ibu akan selalu menyertaimu,’’ urainya.
Guru saya di SMPN 10 SBT, Husni M Rumakway, juga berpesan agar selalu mengingat jasa guru.
’’Suatu saat nanti kalau kalian semua menjadi orang yang sukses, jangan lupa nasihat saya dan jangan lupa pada semua guru yang sudah mengajar kalian. Kemuliaan kalian tergantung sejauhmana kalian memuliakan orang tua dan guru,’’ jelasnya.
Oleh: Nuraida Rumakway, kelas 10 Akuntansi SMK Unggulan NU Mojoagung, Jombang
Editor : Ainul Hafidz