Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Student Journalism: Etika Bersalawat

Ainul Hafidz • Rabu, 18 September 2024 | 16:47 WIB
Naufal Bima Supriono, kelas XI-H MA Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang
Naufal Bima Supriono, kelas XI-H MA Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang

Minggu (15/09) malam kala peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung PP Madrasatul Qur an Tebuireng, Dr KH Ahmad Mustain Syafi’ie Alhafiz, selaku mudir 2 menyampaikan etika membaca salawat.

’’Anak MQ kalau membaca salawat harus menghadirkan Nabi Muhammad SAW di dalam hatinya,’’ tuturnya.

Hadrah maknanya hadir, sehingga harus menghadirkan Nabi di dalam hati.

’’Jika salawatan dibarengi hadrah menjadikan lebih khusyuk, maka disebut salawat dan bernilai pahala. Jika lebih dominan alat musiknya, maka disebut bernyanyi,’’ terangnya.

Maulid Nabi Muhammad SAW harus diisi dengan meneladani dan mempratikkan sifat dan akhlaknya Nabi sebagai teladan yang baik.

Beliau tidak setuju salawatan dibarengi dengan gerakan yang tidak etis. Seperti melemparkan buah-buahan ataupun memutar-mutar sorban di atas kepala.

’’Itu namanya su’ul adab. Nabi hadir ketika kita baca salawat. Masak dihadapan Nabi seperti itu,’’ urainya.

Kiai Mustain cerita, di desa kecil di Iran, pada bulan Rabiul Awwal para penduduknya berdiam diri di dalam rumah selama satu bulan penuh.

Tidak keluar rumah jika tidak penting. Mereka membaca salawat sebanyak-banyaknya.

Ketika bulan Rabiul Awwal telah selesai, mereka saling bertanya sesama tetangga.

Menanyakan berapa kali bermimpi ditemui Nabi Muhammad SAW. Ada yang menjawab dua kali, sepuluh kali, bahkan ada juga yang 18 kali. Sungguh menakjubkan.

Oleh: Naufal Bima Supriono, kelas XI-H MA Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang

Editor : Ainul Hafidz
#Tebuireng #etika #siswa #Jombang #Student Journalism #bersalawat