JombangBanget.id – MTsN 16 Jombang terus meningkatkan kualitas mutu pendidikan di bidang akademik maupun non-akademik.
Tahun ini, MTsN 16 Jombang memperkuat madrasah rasa pesantren, dengan pembelajaran kitab kuning, juga penguatan di asrama madrasah.
”Tahun ini seluruh siswa kami beri pembelajaran kitab kuning untuk mendukung materi PAI,” kata Kepala MTsN 16 Jombang Hj Emi Tahmidah SPd MA.
MTsN 16 Jombang merupakan satu-satunya madrasah di luar lingkungan pondok pesantren yang memiliki asrama untuk tempat tinggal siswa.
Kegiatan di asrama juga sama persis dengan kegiatan di pondok pesantren.
Pulang sekolah sore, siswa sekaligus santri istirahat sampai magrib. Setelah Maghrib, santri ngaji dan belajar, ngaji juga dilakukan setelah Subuh.
”Kegiatannya sama persis dengan di pesantren, saya juga yang mengajar secara langsung. Setelah maghrib gitu saya ke asrama, mengajar Hadits Arbain Nawawi,” ungkapnya.
Bangunan asrama MTsN 16 Jombang ada sejak tahun 2021. Kini sudah memasuki tahun ketiga beroperasi.
Kuota asrama ada 32 santri, namun tahun ini baru terisi 12 santri putri.
Sebab banyak siswa yang rumahnya dekat dengan madrasah, sehingga memilih untuk pulang ke rumah masing-masing.
”Kadang juga anaknya mau, orang tuanya yang tidak berkenan, ada juga yang orang tuanya yang ingin anaknya di asrama, tapi anaknya yang tidak mau. Berapa pun santrinya tetap kami kelola dengan sebaik-baiknya, biaya makan juga sangat murah, Rp 5 ribu per sekali makan,” jelasnya.
Pembelajaran yang diberikan juga persis pesantren. Ada materi tentang Tauhid, Hadits, Fiqih, Akhlaq, dan Quran.
Tidak hanya di asrama, madrasah rasa pesantren juga terasa di seluruh kelas baik kelas unggulan maupun kelas reguler. Siswa dibekali dengan kitab kuning.
”Tahun lalu hanya kelas unggulan saja yang kami berikan, tapi tahun ini semuanya kita beri, baik unggulan maupun reguler. Tahun lalu kita pakai Al Miftah dari Sidogiri, alhamdulillah bisa tampil di depan wali murid, hafalan Al Miftah maupun baca kitabnya,” katanya.
Untuk pembelajaran hadits, MTsN 16 Jombang menggunakan kitab Bulughul Maram, dan pembelajaran Fiqih menggunakan kitab Taqrib.
Pembelajaran kitab tersebut dilakukan setelah KBM selesai.
”Sementara pagi, hari Senin, Selasa dan Rabu siswa mendapatkan penguatan pembelajaran Alquran dengan metode At Tartil, sedangkan Kamis dan Jumat pendalaman Bahasa Inggris,” bebernya.
Pendalaman Bahasa Inggris rampung di kelas 8, setelah siswa mengikuti ujian di Candi Borobudur dan Malioboro.
Sehingga kelas 9, siswa fokus belajar kitab kuning Sulam Taufiq yang membahas tentang Fiqih.
Ini dilakukan agar ketika siswa lulus dari MTsN 16 Jombang kemudian lenjut ke madrasah aliyah atau di pondok, siswa sudah memiliki bekal.
”Harapannya agar anak-anak bisa memahami dan membaca kitab kuning, minimal kita membekali, barangkali anak-anak masuk pondok, sudah siap,” jelasnya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz