JombangBanget.id – Sejumlah sekolah di Jombang sudah mulai menerapkan penggunaan baju adat kepada siswanya.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang belum mewajibkan sekolah memiliki baju adat.
Pengadaan baju sekolah harus dengan kesepakatan orang tua.
”Belum wajib, ya meski ada beberapa sekolah yang sudah memiliki baju adatnya masing-masing, itu tidak apa-apa,” kata Senen, kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang.
Seragam adat yang digunakan sekolah juga belum ditentukan bagaimana motif dan modelnya oleh dinas P dan K.
Menurut Senen, seragam adat jika sudah disepakati di sekolah, maka corak dan motif sementara masih mengikuti corak khas daerah.
”Motif seragam adat sementara ditentukan sekolah masing-masing, belum ada ketentuan dari dinas,” jelasnya.
Seragam adat juga tidak boleh memberatkan orang tua wali.
Pengadaan baju sekolah juga harus dengan kesepakatan orang tua.
Begitu juga dengan pengadaan seragam yang lain, seperti pramuka, baju identitas sekolah dan seragam olahraga.
Sekolah hanya boleh menawarkan saja, sedangkan pengadaan harus dilakukan orang tua melalui paguyuban.
Baca Juga: Distribusi Program Kain Seragam Gratis Molor Belasan Hari, Dinas P dan K Jombang Bilang Begini
”Prinsip pengadaan kami serahkan ke sekolah, sekolah ke wali murid, sesuai kesepakatan paguyuban bukan melalui komite, tapi paguyuban orang tua,” katanya.
Pembelian seragam juga tidak boleh melalui koperasi sekolah.
Yang boleh langsung melalui konveksi, atau ke penyedia kain yang seragam dan dalam jumlah banyak.
”Ya memang identitas memiliki corak khusus, memang tidak ada di pasaran tapi kan ada penyedianya, pihak ketiga,” pungkasnya.
Salah satu sekolah yang telah memiliki seragam adat adalah SDN Mayangan Kecamatan Jogoroto, Jombang.
Seragam adat dipakai oleh seluruh siswa dan guru setiap Kamis.
Motif seragam juga disamakan, anatara guru dan siswa, yaitu motif lurik.
”Sebelumnya kami pakai bawahan hitam, rok dan celana motif parang baru selesai dijahit minggu lalu, jadi baru mulai minggu ini digunakan, guru sementara belum jadi semua bawahannya motif parang, jadi sementara pakai bawahan hitam,” kata Wiwik Andriani, kepala SDN Mayangan.
Untuk laki-laki diminta untuk mengenakan peci, karena blankon yang sebetulnya akan dipakai masih belum jadi, sedangkan perempuan menggunakan kerudung merah hati.
”Sesuai kesepakatan orang tua, kami bertahap, atasan dulu, baru kerudung, baru bawahannya,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz