Oleh: Firhan Bagas Pramanda *)
Dinamika hubungan semenanjung Korea, menjadi babak baru dalam periode pasca perang dingin.
Berakhirnya pemerintahan kolonial Jepang di Korea membawa era baru.
Diawali dengan Amerika Serikat dan Uni Soviet (Rusia) membagi Korea menjadi dua wilayah administratif.
Yang pada awalnya untuk mengawasi penarikan pasukan Jepang dari Korea.
Perang dingin menciptakan polarisasi, perpecahan kekuatan internasional menjadi dua blok.
Yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet (Rusia). Komunisme Soviet dan kapitalisme Amerika Serikat, memberikan pondasi dalam pertarungan ideologi di semenanjung Korea.
Upaya penyatuan kedua negara telah dilakukan, namun tidak membuahkan hasil.
Mengingat jika penyatuan kedua negara terjadi, tentu menuai perdebatan mengenai ideologi mana yang akan dipakai.
Serta akan ada perbedaan pendapat dalam sistem pemerintahan dan kehidupan sosial.
Seiring berkembangnya teknologi, kedua negara memiliki banyak perbedaan dalam perkembangan ekonomi, teknologi maupun budaya.
Perbedaan signifikan, dalam teknologi maupun berbagai macam potensinya, mengakibatkan kondisi ekonomi yang berbeda.
Dominasi dinasti Kim mengakibatkan Korea Utara terisolir dengan kediktatoran militernya.
Dan juga embargo ekonomi, mengakibatkan pertumbuhan ekonomi melambat.
Kebebasan beragama di Korea Utara menjadi hal yang diatur oleh pemerintah.
Keleluasaan mengakses internet merupakan hal yang mustahil.
Begitu juga pendidikan yang berfokus pada ideologi komunis.
Bagaikan langit dan bumi, popularitas K-pop dan inovasi teknologi Korea Selatan, menjadi revolusi yang memberikan pengaruh besar dalam pertumbuhan ekonomi.
Kemajuan teknologi dan modernisasi budaya yang berdampak pada sektor pendidikan, mengakibatkan sumber daya manusia yang terus berkembang dan dinamis.
Semenanjung Korea merupakan kawasan yang mempunyai peranan penting dalam persaingan kekuasaan global.
Kawasan ini merupakan kawasan yang rentan dengan konflik.
Menurut Charles K Armstrong, sejarah panjangnya membentuk kenyataan bahwa semenanjung Korea tidak luput dari pengaruh four great powers.
Yaitu Cina, Rusia, Amerika, dan Jepang. Mereka memandang semenanjung Korea sebagai peluang strategis.
Tidak hanya memperluas ideologinya tetapi juga teknologi maupun inovasi.
Tantangan masa depan, terutama terletak dalam upaya reunifikasi, keterlibatan empat negara besar, dan pertumbuhan ekonomi negara kawasan Asia Timur.
Dorongan utama dalam upaya menyongsong masa depan dengan mengakomodir penyatuan Korea Utara dan Korea Selatan dalam membentuk pemerintahan bersama.
Kedua negara dapat mewujudkan reunifikasi, namun perbedaan ideologi adalah hal yang harus digaris bawahi dan juga menjadi tantangan besar dalam upaya penyatuan.
Langkah-langkah penyatuan kedua negara harus dilakukan dengan hati-hati. Keterbukaan Korea Utara dalam berbagai aspek dibutuhkan dalam hal ini.
Bantuan kemanusiaan, kerja sama ekonomi juga harus ditingkatkan.
Seperti bantuan proyek infrastruktur, modernisasi peralatan militer, perubahan tata kelola pendidikan maupun pemerintahan, dapat menstimulus penyatuan kedua negara untuk menunjang masa depan semenanjung Korea yang lebih baik.
*) Mahasiswa Prodi Ilmu Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Ainul Hafidz