JombangBanget.id – Tiga tahun terakhir, Pemkab Jombang sudah memecahkan tujuh rekor MURI.
Tahun ini, Pemkab Jombang juga meminta puluhan ribu siswa SD dan SMP membuat peraga jaranan untuk memecahkan rekor MURI Oktober nanti.
Sejumlah pihak menilai, mengejar rekor MURI hanya menghambur-hamburkan anggaran tanpa dampak dan tindak lanjut yang jelas.
’’Setiap MURI minimal Rp 100 juta dikeluarkan,’’ ungkap sumber internal Pemkab Jombang.
Selama tiga tahun terakhir, sudah ada tujuh rekor MURI dipecahkan.
Oktober 2021, rekor pemrakarsa dan penyelenggaraan tingkeban masal di 22 tempat secara virtual diikuti 660 ibu hamil di 21 kecamatan.
Oktober 2022, rekor tari remo boletan, 41.112 siswa mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, guru dan SDN terbanyak.
Juli 2023, pecah tiga rekor MURI sekaligus. Seni rodat ISHARI, diikuti 37.816 siswa.
Salawat tibbil qulub diikuti 100.113 peserta. Serta pelajar terbanyak mengenakan busana sarung dan songkok, 37.816 siswa.
September 2023, MURI sajian sego kikil (gokil) 15.000 porsi, tumpeng lele setinggi 4,2 meter dengan total 4.000 ekor lele.
Menurutnya, dari tujuh MURI yang telah dipecahkan itu, tak satupun ada tindak lanjutnya usai kegiatan selesai.
Baca Juga: Praktisi Pendidikan di Jombang Angkat Suara Soal Pemkab Berambisi Pecahkan Rekor MURI Jaranan Dor
Sementara itu, Akhmad Zainuddin, pengamat pendidikan Jombang mengatakan, Jombang sudah mulai harus mengurangi kegiatan-kegiatan yang sifatnya seremonial.
Menurutnya, kegiatan memecahkan rekor MURI tidak memiliki banyak manfaat yang dirasakan banyak orang.
’’Dari rekor MURI yang sudah dilaksanakan, sekarang apa yang bisa dirasakan? Apakah semua siswa sekarang sudah bisa tari remo boletan? Lalu bagaimana kabar sampur yang dibeli semua siswa saat itu sekarang? Apakah dipakai lagi untuk menari, kan tidak,’’ ungkapnya.
Menurutnya, MURI hanya dipakai untuk gebyar sehari.
Besarnya anggaran yang dikeluarkan tidak setimpal dengan manfaat yang didapatkan.
’’Jika alasannya melestarikan budaya, masih banyak cara yang lain, tidak hanya seremonial seperti yang sudah-sudah,’’ jelasnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Senen, mengatakan, MURI dilakukan sebagai upaya Pemkab Jombang untuk menyelamatkan warisan budaya tak benda khas Jombang.
’’Tari remo boletan, itu khas Jombang. Kita harus menyelamatkan itu, sebagai warisan budaya tak benda, yang hanya ada di Jombang,’’ urainya.
Begitu juga rencana MURI jaranan dor yang sekarang sedang disiapkan.
Menurutnya, jaranan dor adalah kesenian khas Jombang, sehingga harus dilestarikan. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz