Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Sekolah Korbankan Program Pengadaan Buku dan Sarpras, Soal Ambisi Pemkab Jombang Pecah Rekor MURI Jaranan Dor

Wenny Rosalina • Selasa, 21 Mei 2024 | 15:50 WIB
Ilustrasi tari jaranan dor.
Ilustrasi tari jaranan dor.

JombangBanget.id – Rencana Pemkab Jombang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang memecahkan rekor MURI jaranan dor, dengan melibatkan hampir seluruh siswa SD dan SMP masih dikeluhkan.

Utamanya terkait tingginya anggaran yang harus dikeluarkan sekolah. Setiap sekolah setidaknya mengeluarkan anggaran Rp 30 juta.

’’Memang boleh pakai dana BOS, tapi ya harus mengorbankan yang lain,’’ kata salah satu kepala sekolah.

Estimasi itu dihitung jika siswa membuat jaranan sendiri.

Butuh kardus dengan panjang lebih dari satu meter.

Jika menggunakan kardus air mineral berukuran kecil, maka harus diberikan penyangga agar bisa tegak.

Setelah dibuat, siswa masih butuh cat untuk mengecat.

Satu jaranan membutuhkan cat dengan anggaran Rp 30 ribu.

’’Kemarin kita meminta tukang jaranan bikin sampel jaranan, harganya Rp 85 ribu. Kalau bikin sendiri tanpa biaya jasa dan tanpa foam, hanya catnya saja, saya perkirakan Rp 30 ribuan,’’ jelasnya.

Siswa yang ikut sebanyak dua angkatan, kelas 7 dan 8, jumlahnya 550 siswa. Sehingga biaya cat saja Rp 16 juta.

Ditambahkan dengan biaya latihan, konsumsi, dan lain sebagainya. Sehingga total anggaran yang harus dikeluarkan satu sekolah sekitar Rp 30 juta.

Baca Juga: Dipaksakan dan Bebani Orang Tua Siswa, Soal Ambisi Pemkab Jombang Pecahkan Rekor MURI Tari Jaranan Dor

Dana BOS memang ada dan boleh dipakai untuk kegiatan tersebut.

Hanya saja perencanaan yang dilakukan setelah proses penganggaran selesai.

Sehingga harus mengorbankan hal lain. Seperti pengadaan buku, atau sarana prasarana yang sudah dianggarkan sebelumnya.

Jaranan dor juga tidak sesuai dengan mata pelajaran kesenian.

’’Kesenian kan ada jenisnya. Ada seni budaya, ada seni rupa. Di sekolah kami seni rupa. Jadi tidak punya guru yang ahli di bidang tersebut,’’ terangnya.

Saat ini pihaknya belum mempersiapkan secara detail, hanya latihan tari dengan tongkat dan alat seadanya.

Persiapan matang baru akan dilakukan di awal semester ganjil.

Pelatih tari juga bukan dari guru kesenian. Tapi dari guru mata pelajaran lain yang memiliki kemampuan menari.

’’Sekarang sudah banyak yang ujian. Jadi baru di mulai awal semester depan,’’ urainya.

Menurutnya, pelestarian budaya bisa dilakukan dengan cara lain. Tidak harus MURI.

Misalnya dengan melakukan pembinaan serius pada komunitas-komunitas jaranan di Jombang.

Serta menampilkan jaranan pada setiap event.

Sebab dari MURI tari remo boletan sebelumnya, juga tidak memiliki dampak yang signifikan kepada siswa.

Baca Juga: Rencana Pemkab Gelar Rekor Muri Jaranan Dor Disorot Aktivias, LInK Jombang: Terkesan Dipaksakan dan Bikin Resah Orang Tua

’’Yang aktif tari remo ya anak-anak yang tergabung di ekstrakurikuler tari. Yang ISHARI kemarin juga hanya dipelajari anak-anak yang di esktrakurikuler banjari,’’ ungkapnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Senen, mengatakan, boleh menggunakan dana BOS untuk mendukung kegiatan siswa.

Apalagi jaranan dor bisa dipakai untuk kegiatan proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5) siswa.

’’Boleh pakai BOS untuk kegiatan bikin jaranan dor, karena itu bagian dari pembelajaran siswa,’’ ungkapnya.

Dalam pembelajaran kurikulum merdeka, siswa diwajibkan untuk membuat satu karya.

Jaranan dor masuk dalam tema kearifan lokal.

’’Siswa bikin jaranan dor tidak hanya semata-mata untuk MURI saja, tapi juga masuk dalam pembelajaran siswa,’’ urainya. (wen/jif)

Editor : Ainul Hafidz
#Sekolah #jaranan #siswa #Pemkab #SD #Dor #SMP #tari