JombangBanget.id – Program Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Jombang untuk merengkuh penghargaan Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) kesenian jaranan dor dengan melibatkan sekitar 50 ribu siswa pada Oktober nanti dikeluhkan banyak pihak.
Selain menganggu jam belajar siswa di kelas, juga pertimbangan biaya yang dikeluarkan baik sekolah terutama orang tua.
”MURI itu hanya mengejar kuantitasnya saja, tidak pada kualitas. Yang terparah, KBM (kegiatan belajar mengajar) sangat terganggu," ungkap salah satu kepala sekolah yang meminta namanya dirahasikan kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Lebih lanjut ia mengatakan, pencapaian rekor MURI cenderung hanya dipakai untuk mencari pamor, tanpa ada substansi yang didapatkan.
Apalagi, setelah MURI tidak ada tindak lanjut dari apa yang sudah dilakukan.
”Kalau memang MURI, minimal siswa SMP dan SD di Jombang setelah lulus harus mengerti jaranan dor, atau remo, ishari, bukan hanya tau lo yo, itu sangat berbeda,” ungkapnya.
MURI hanya untuk target kuantitas saja, bukan pada kualitas pendidikan.
Padahal, Menurutnya, jika tujuannya untuk melestarikan Kebudayaan asli Jombang, cara lain masih bisa dilakukan tanpa mengganggu jam pelajaran.
Seperti mengadakan lomba-lomba, menampilkan kesenian asli daerah pada saat event-event tertentu, atau meminta selolah agar memiliki ikon kesenian daerah.
”Masih banyak cara lain untuk melestarikan Kebudayaan selain MURI, lomba-lomba itu kan bagian dari kelestarian budaya,” ungkapnya.
Persiapan latihan kesenian jaranan dor untuk mengejar rekor MURI sangat menyita jam belajar siswa.
Baca Juga: Dinas P dan K Jombang Berencana Gelar Pecah Rekor Jaranan Dor
Mereka harus latihan rutin dan digilir beberapa kelas. Belum lagi tenaga yang melatih juga merupakan siswa dari ekstrakurikuler tari.
Selanjutnya latihan satu kelas di jam olahraga, nanti mendekati hari-H latihan bersama-sama menjadi satu di jam belajar secara bertahap setiap kelas.
”Awal-awal masih bisa dilakukan setiap jam istirahat, itupun jam istirahat sangat pendek, nanti mendekati hari-H biasanya menghalalkan segala cara, jam pertama sampai istirahat pertama untuk satu kelas, kemudian dilanjutkan jam berikutnya untuk kelas yang lain lalu bersama-sama satu sekolah, itu kan sangat mengganggu KBM yang seharusnya berjalan," keluarnya.
Apalagi berkaca dari pencapaian rekor MURI-MURI sebelumnya, dampak terhadap capaian pembelajaran siswa tidak ada.
Juga tidak ada pelestarian budaya setelahnya. Gebyar pelestarian budaya hanya satu hari saja.
”Gebyarnya hanya satu hari, tidak semua siswa kemudian latihan jaranan dor setiap hari, tidak mungkin itu," tambahnya.
Belum lagi dampak lain selain persiapannya yang membutuhkan waktu lama.
Yaitu biaya, meski meminta siswa untuk membuat properti jaranan dengan barang bekas.
Sekolah tetap mengeluarkan anggaran dana BOS untuk membeli perlengkapan dan operasional lainnya.
”Sementara masih belum tahu nilainya, yang pasti beli cat untuk jaranannya, kalau jaranannya sendiri anak-anak bikin dari kardus bekas, tali rafia untuk rambut jaranan, mereka iuran untuk beli," ungkapnya.
Belum biaya untuk makeup atau aksesori yang digunakan.
Meski hingga kini dinas belum memberikan informasi lebih lanjut terkait kostum dan riasan, berkaca pada gelaran untuk pencapaian MURI sebelumnya, tetap ada beberapa siswa yang menggunakan aksesori lengkap.
”Kalau remo dulu pakai sampur, ada beberapa yang pakai lengkap dan riasan lengkap,” katanya.
Setelah MURI, properti yang digunakan siswa juga akan menganggur. Menurutnya sama seperti mengajarkan anak-anak nyampah barang yang tidak berguna.
”Setelah MURI selesai, propertinya dibuat apa, kelihatannya sepele hanya satu jaranan, lha kalau dikalikan berapa puluh ribu siswa, apa tidak banyak sama seperti mengajarkan anak-anak bikin sampah," pungkasnya.
Menanggapi hal tersebut, Senen, kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang mengatakan, jika persiapan tidak harus dilaksanakan selama jam belajar, bisa dilakukan ketika jam istirahat, atau setelah pulang sekolah.
”Mengenai jadwal latihan, memang kami serahkan ke sekolah masing-masing, sama seperti tari remo boletan sebelumnya,” ungkap Senen.
Begitu juga persiapan sarana yang digunakan seperti jaranannya yang dibuat mandiri oleh siswa.
Senen menyebut, membuat kreasi jaranan itu dengan cara yang sederhana, menggunakan barang-barang bekas yang ada di sekitar siswa.
”Kami minta anak-anak membuat sendiri, sebisa mereka,” jelasnya.
Senen menyebut, MURI jaranan dor dilakukan, karena pemerintah memiliki pekerjaan rumah untuk melestarikan kesenian asli Jombang.
”Ini salah satu langkah konkretnya agar tidak terjadi seperti Reog Ponorogo, juga batik yang diklaim negara tetangga,” pungkasnya. (wen/naz/fid)
Editor : Ainul Hafidz