JombangBanget.id - Persoalan sampah di Kabupaten Jombang menjadi perhatian pemerintah pusat.
Kementerian Lingkungan Hidup (LH) segera menerjunkan tim untuk menghitung kebutuhan alat, mesin, dan teknologi agar pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Banjardowo makin optimal sekaligus menghasilkan nilai ekonomi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang Miftahul Ulum mengatakan, komitmen itu disampaikan Menteri LH Mohammad Jumhur Hidayat saat kunjungan ke TPA Banjardowo, Rabu (15/7).
Tim tersebut akan memberikan rekomendasi terkait kebutuhan peralatan dan teknologi yang sesuai dengan kondisi di TPA Banjardowo.
Baca Juga: Banyak Pengurus KDKMP di Jombang Berguguran, 18 Koperasi Desa Merah Putih Rombak Kepengurusan
”Pak Menteri akan segera mengirim tim untuk membantu memberikan masukan dan menghitung kira-kira kebutuhan alat, mesin, atau teknologi apa yang bisa membantu menaikkan nilai manfaat dan ekonomi dari pemilahan sampah yang ada di TPA,” ujarnya.
Saat ini, timbulan sampah di Kabupaten Jombang mencapai sekitar 530 ton per hari. Dari jumlah itu, sekitar 180 ton dikirim ke TPA Banjardowo dengan frekuensi sekitar 135 rit kendaraan setiap hari.
Sampah yang masuk tidak langsung ditimbun. Sebelum masuk ke landfill, sampah lebih dulu melalui proses penimbangan, pemilahan, dan pengomposan.
”Hanya residu yang akhirnya dibuang ke landfill,” bebernya.
Ulum menjelaskan, unit sorting di TPA memiliki kapasitas 25 ton per hari, sedangkan fasilitas pengomposan mampu mengolah dua ton per hari.
Efisiensi pemilahan mencapai 8,1 persen atau sekitar 2,275 ton per hari.
”Residu hasil pemilahan mencapai 22,72 ton per hari, sementara total sampah yang masuk ke landfill sekitar 153 ton per hari,” bebernya.
Pengurangan sampah juga dilakukan dari sumber melalui 34 TPS 3R yang tersebar di berbagai wilayah. Pantauan di TPA Banjardowo menunjukkan lahan baru sudah dipenuhi gunungan sampah.
Sementara area TPA lama tidak lagi digunakan dan kini ditumbuhi pepohonan. Dua alat berat tampak mengurai tumpukan sampah di lokasi.
Menteri LH Mohammad Jumhur Hidayat menilai sistem pengelolaan sampah di Jombang sudah berjalan baik karena tidak lagi hanya mengandalkan pola timbun, angkut, dan buang.
Menurut dia, pemilahan sampah sudah dilakukan sejak dari sumber.
”Secara manajemen pengelolaan sampah ini, Jombang sudah baik. Kebanyakan selama ini timbun, angkut, buang. Kalau di sini tidak,'' katanya.
Meski begitu, kapasitas pengolahan dinilai masih perlu ditingkatkan. Dengan timbulan sampah sekitar 530 ton per hari, fasilitas yang ada belum mampu mengolah seluruh sampah secara optimal.
Karena itu, dia mendorong kapasitas pengolahan ditingkatkan hingga 200 ton per hari sehingga sampah yang masuk ke TPA benar-benar hanya berupa residu.
Menurut Jumhur, peluang terbesar justru berasal dari sampah organik yang porsinya mencapai 55 hingga 60 persen dari total timbulan sampah.
Jika dipilah dan diolah dengan baik, sampah organik dapat menjadi produk bernilai ekonomi, salah satunya pellet biomassa sebagai bahan pendamping batu bara.
”Jika diolah menjadi pellet untuk pendamping batu bara, prosesnya tidak terlalu rumit dan harganya bisa berkisar antara 40 hingga 50 dolar AS per ton. Jika kita bisa mengolah 60 ton saja per hari, potensi pendapatan yang dihasilkan bisa mencapai sekitar Rp 30 juta per hari,” pungkasnya. (ang/naz)
Editor : Ainul Hafidz