JombangBanget.id – Usulan Pemkab Jombang membangun exit tol baru di Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben disambut positif PT Astra Infratoll Jomo selaku pemegang konsesi.
Namun, pihak pengelola tol menegaskan pembangunan exit tol bukan perkara mudah.
Selain butuh kajian detail, biayanya juga sangat besar.
”Pada prinsipnya, kami tentu menyambut gembira usulan itu, selama ada perintah dari Kementerian PU kami tinggal jalan. Karena secara teori, exit tol baru akan selalu diikuti dengan perkembangan ekonomi atau pusat keramaian baru,” terang Zanuar Firmanto, Kepala Departemen Operasional PT Astra Toll Jombang-Mojokerto (Jomo).
Meski begitu, Zanuar mengingatkan banyak hal yang harus dikaji.
”Yang jelas kami akan diajak diskusi dan kementerian juga ya,” lontarnya.
Ia mencontohkan, exit tol harus keluar di jalur yang setara atau satu tingkat di bawahnya.
”Exit tol itu harus keluarnya di jalur yang setara atau satu tingkat di bawahnya, misal di Jombang kan Bandarkedungmulyo itu keluar di jalan nasional yang kelasnya sama, yang Tembelang keluarnya di jalan provinsi, jaraknya satu kelas,” ujarnya.
Sedangkan di Kesamben, hingga kini belum ada kelas jalan tersebut. Artinya, butuh akses tambahan yang panjang hingga menuju jalan kabupaten atau provinsi.
”Contoh juga di Bandarkedungmulyo itu kita kan harus bikin akses sampai dua kilometer, otomatis ini berhubungan dengan pembebasan lahan juga,” jelasnya.
Soal biaya, Zanuar menegaskan pembangunan exit tol sesuai standar Kementerian PU bukan hal murah.
Baca Juga: Tol Trans Jawa Bakal Punya Exit di Kesamben Jombang? Ini Rencana dan Progres Terbarunya
”Kalau lihat dari yang kita bikin sebelumnya, satu titik itu paling tidak Rp 300 miliar, itupun cuma konstruksinya, belum pembebasan lahan,” tambahnya.
Karenanya, meski usulan menarik, ia menekankan perlunya kepastian siapa pihak yang akan membangun.
”Itulah yang harus dibicarakan nanti, kalau memang jadi, ya pelaksanaannya seperti apa, biayanya juga ikut siapa. Karena untuk akses jalan keluar itu kan butuh treatment khusus,” pungkasnya.
Sementara itu, Pemkab Jombang melalui Bapperida telah merampungkan kajian feasibility study (FS) untuk exit tol Kesamben. Lokasi yang dipilih berada di Desa Watudakon.
”Kajiannya sudah selesai. Hasil kajian ini menjadi dasar kami untuk mengusulkan ke PT Jasa Marga dan Kementerian PU. Soal direalisasi atau tidak, itu kewenangan mereka, termasuk pertimbangan untung ruginya,” ujar Kepala Bapperida Jombang Hartono.
Hartono menyebut, Desa Watudakon dipilih karena memiliki akses jalan kabupaten.
Namun, risiko tetap ada, terutama kelas jalan yang belum memadai untuk kendaraan berat.
”Risikonya memang kendaraan besar tidak boleh masuk, hampir sama seperti yang ada di Probolinggo. Kecuali nanti ada peningkatan kelas jalan,” imbuhnya.
Usulan pembangunan exit tol tersebut akan segera dikirim ke pemerintah pusat.
”Pengalaman kami, dari usulan sampai realisasi itu butuh waktu lama. Jembatan Baru Ploso saja dulu butuh berapa tahun prosesnya,” ujarnya.
Kajian FS ini merupakan inisiatif Bupati Jombang Warsubi. Pemkab diminta menyiapkan kajian sebagai dasar perencanaan, terutama karena wilayah Kesamben menunjukkan pertumbuhan aktivitas ekonomi cukup pesat.
”Pantauan kami, di Kesamben sekarang juga banyak gudang dan perusahaan. Apakah mereka sudah tahu akan ada rencana exit tol atau tidak, kami kurang tahu. Bisa jadi mereka ini berspekulasi,” ungkap Hartono. (riz/naz)
Editor : Ainul Hafidz