JombangBanget.id – Tren investasi di Kabupaten Jombang menunjukkan geliat positif.
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) mencatat, capaian nilai investasi hingga triwulan kedua tahun ini telah menembus Rp 971 miliar.
Angka tersebut mendekati target tahunan sebesar Rp 1,5 triliun.
Plt Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Joko Triono menyampaikan, penerimaan nilai investasi pada triwulan kedua mencapai RP 971 miliar.
Dengan rincian, triwulan (Januari-Maret) mencapai Rp 504 miliar dan triwulan kedua (April-Juni) Rp 467 miliar.
”Alhamdulillah capaian nilai investasi cukup memuaskan. Per tribulan kedua mencapai Rp 971 miliar dari total target RP 1,5 triliun,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang, Senin (13/10).
Joko menyebut, data capaian investasi pada triwulan ketiga belum dapat disampaikan secara mendetail dikarenakan masih menunggu laporan dari provinsi.
”Kami belum dapat laporan dari provinsi,” jelas dia.
Angka investasi sebesar itu bersumber dari dua sektor, yakni Penanaman Modal Asing (PMA), Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Sedangkan, investasi Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK) belum dapat diakumulasikan.
”Untuk saat ini nilai tersebut baru dari PMA dan PMDN, belum termasuk IUMK,” jelas dia.
Baca Juga: Genjot Investasi Industri Utara Brantas, Bupati Jombang Datangi Bappenas hingga Bertemu Investor
Sementara itu, DPRD Kabupaten Jombang mendorong upaya peningkatan investasi dan pengembangan sektor pariwisata di Jombang.
Para wakil rakyat tengah mengebut dua regulasi strategis guna memperkuat sektor investasi.
Yakni, Rancangan Peraturan Daerah (Raperda tentang Kerja Sama Daerah dan Raperda tentang Kepariwisataan.
”Raperda Kerja Sama Daerah sudah memasuki tahap jawaban bupati terhadap nota penjelasan DPRD. Ini merupakan inisiatif DPRD untuk memperluas peluang kerja sama daerah, termasuk dengan pihak luar negeri,” kata Ketua DPRD Jombang Hadi Atmaji.
Sementara itu, penyusunan Raperda Kepariwisataan menjadi langkah penting dalam merespons perkembangan sektor wisata Jombang.
Hadi mencontohkan potensi wisata religi di berbagai pondok pesantren besar seperti Mambaul Maarif Denanyar, Bahrul Ulum Tambakberas, Darul Ulum Rejoso, dan Tebuireng.
Menurutnya, jika dikelola secara terpadu dengan dukungan akses transportasi memadai, potensi tersebut dapat menjadi magnet wisata unggulan yang menarik investor.
”Melalui pembentukan regulasi yang tepat, kami berharap mampu menciptakan kepastian hukum bagi investor serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah berbasis potensi lokal,” tandasnya. (ang/naz)
Editor : Ainul Hafidz