JombangBanget.id – Pengerjaan rehabilitasi Pasar Ploso dengan nilai kontrak mencapai Rp 3,9 miliar tak berjalan maksimal.
Setidaknya terlihat dari progres di lapangan mengalami keterlambatan sekitar 2 persen dari target.
Hal ini terungkap saat Komisi C DPRD Jombang melakukan sidak ke lokasi.
”Progres pekerjaan saat ini baru mencapai 33,1 persen, atau mengalami keterlambatan sekitar 2 persen dari target,” terang Ketua Komisi C DPRD Jombang M Zahrul Jihad, Jumat (10/10).
Hasil tinjauna di lapangan, keterlambatan disebabkan beberapa kendala teknis, terutama karena proses pemasangan atap belum dimulai dan pekerjaan sanitasi harus dilakukan secara manual.
”Alat berat tidak bisa masuk karena aktivitas pedagang di area pasar masih berjalan,” imbuh Zahrul.
Meski begitu, ia menilai keterlambatan tersebut masih tergolong wajar.
”Kalau baja atap sudah naik, progres pasti cepat terkejar. Jadi kami melihat proyek ini masih dalam tahap wajar,” tambahnya.
Senada, anggota Komisi C Syaifulloh menegaskan Pasar Ploso merupakan sentra ekonomi strategis bagi masyarakat wilayah utara Jombang.
”Kita minta pelaksana kegiatan dan pengawas proyek segera melakukan evaluasi teknis maupun administrasi. Progres fisik harus menyesuaikan dengan realisasi keuangan yang sudah dicairkan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Jombang Suwignyo mengatakan, secara umum progres dua proyek di Ploso, yakni rehabilitasi Pasar Ploso dan pembangunan Pasar Buah Ploso menunjukkan hasil positif.
Baca Juga: Puluhan Lapak Pedagang Pasar Ploso Dibongkar, Ini Opsi Tiga Lokasi Lapak Sementara
”Untuk kedua proyek, progresnya cukup bagus. Memang sempat ada sedikit deviasi dari rencana, tapi kini sudah kembali positif, bahkan ada yang melampaui target,” ujarnya.
Suwignyo menjelaskan, untuk proyek rehabilitasi Pasar Buah Ploso, pengerjaan pagar keliling telah selesai, dan kini fokus pada pemasangan atap.
Proses ini sempat tertunda karena menunggu kedatangan baja struktur, namun segera dilanjutkan begitu material tiba di lokasi.
”Begitu baja datang, pemasangan langsung dilakukan. Untuk pasar buah, progresnya sudah aman,” jelasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, proyek revitalisasi Pasar Ploso tak sepenuhnya berjalan sesuai yang direncanakan.
Setidaknya, dari sikap pedagang pasar yang enggan direlokasi, padahal sudah disiapkan tempat oleh pemkab di Lapangan Bawangan.
Akibatnya, para pekerja proyek harus berbagi tempat dengan para pedagang. Pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek dari Disdagrin Jombang Yustinus Haris mengklaim hingga kini progres pekerjaan masih aman.
”Saya tidak hafal angkanya, yang jelas memang masih plus kalau progresnya di sana,” lontarnya (1/10).
Disinggung terkait pedagang yang masih bertahan di pasar, pihaknya menyebut akan terus berupaya untuk melakukan pendekatan kepada pedagang agar mau direlokasi ke tempat sesuai hasil kesepakatan.
”Kemarin juga sudah rapat bersama di DPRD. Ada beberapa opsi yang ditawarkan, mulai di lapak sementara Bawangan, ada juga di trotoar depan asal tidak menganggu jalan, di tempat car free day juga boleh,” lontarnya.
Pihaknya juga mengakui belum semua pedagang berpindah.
Namun, sesuai kesepakatan setelah lapak depan dibongkar, seluruh pedagang harusnya tak berada di sana lagi.
”Ya tentu akan pelan-pelan. Yang jelas tetap diupayakan untuk pedagang pindah agar tidak menganggu aktivitas pekerjaan proyek,” pungkasnya.
Poryek rehabilitasi Pasar Ploso bersumber dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) dari Pemprov Jatim.
Nilai kontrak mencapai Rp 3,9 miliar dan dikerjakan oleh CV Panama asal Sampang.
Masa pengerjaan 18 Juli hingga 15 Desember 2025. Sedangkan proyek Pasar Buah di Sub Terminal Ploso dilaksanakan CV Jokotole asal Surabaya dengan nilai kontrak sebesar Rp 3,7 miliar. (yan/naz)
Editor : Ainul Hafidz