JombangBanget.id - Persoalan Pasar Perak, Jombang yang kian terpuruk mendapat sorotan dari DPRD Jombang.
Ketua Komisi B DPRD Jombang mendesak pemkab segera mencari solusi konkret menuntaskan permasalahan di Pasar Perak.
Para wakil rakyat juga berencana menghadirkan para pihak, termasuk dari perwakilan pedagang ke gedung dewan.
”Kami akan melakukan koordinasi dengan dinas terkait hal tersebut. Perlu ada penanganan yang menyeluruh bersama dinas terkait dan para pedagang. Dalam waktu dekat kami mendorong dinas terkait segera menyelesaikan persoalan tersebut,” kata Ketua Komisi B DPRD Jombang Anas Burhani, Rabu (10/9).
Pihaknya juga berencana mengundang pihak dinas dan perwakilan pedagang untuk duduk bersama.
Rencana tersebut akan segera dikomunikasikan dengan seluruh anggota Komisi B DPRD Jombang.
”Terkait rencana pemanggilan dinas dan pedagang pasar, kami akan komunikasikan dengan anggota yang lain,” katanya.
Anas mengingatkan Komisi B sudah pernah melakukan koordinasi dengan dinas terkait mengenai penanganan Pasar Perak.
Hal itu dilakukan sekitar Januari 2025 lalu. Namun, hingga kini perkembangan di lapangan masih belum signifikan, bahkan kondisi pasar kian sepi.
”Jangan sampai Pasar Perak ditinggalkan pedagang dan bernasib sama dengan Pasar Ngrawan. Kami tentu tidak ingin pasar tradisional yang seharusnya menjadi pusat kegiatan ekonomi rakyat justru terbengkalai,” tegasnya.
Menurutnya, semakin banyaknya pedagang Pasar Perak yang meninggalkan lapaknya, bisa jadi dipicu semakin membeludaknya pedagang yang berjualan di pinggir jalan di kawasan sekitar pasar.
Baca Juga: Pasar Perak Makin Sepi, Satu per Satu Pedagang Gulung Tikar, Begini Respons Pemkab Jombang
”Mereka lebih dekat dengan pembeli, jadi yang jualan di pasar terdampak,” tandasnya.
Komisi B, lanjutnya, akan terus mendorong agar pemerintah kabupaten melalui dinas teknis mengambil langkah konkret, baik berupa evaluasi kebijakan, perbaikan fasilitas, maupun strategi lain yang bisa menarik minat pedagang untuk tetap bertahan.
Menurutnya, keberadaan pasar tradisional masih sangat vital sebagai penopang perekonomian masyarakat di daerah.
”Pasar bukan hanya soal tempat jual beli, tetapi juga ruang hidup bagi banyak pedagang kecil. Maka penanganannya tidak boleh setengah-setengah,” pungkas Anas.
Seperti diberitakan sebelumnya, kondisi Pasar Perak, Kecamatan Perak, kian memprihatinkan.
Ratusan lapak dan kios yang telah dibangun dengan anggaran Rp 10 miliar hingga kini tetap mangkrak.
Pedagang enggan menempati bangunan pasar dan memilih berjualan di pinggir jalan.
Berbagai upaya pemkab membujuk pedagang agar segera menempati lapak belum membuahkan hasil.
Pantauan di lokasi, ratusan bangunan lapak dan kios, baik di lantai dasar maupun di lantai dua kosong alias tak ditempati berjualan.
Deretan lapak dipenuhi debu yang cukup tebal.
Di salah satu sudut pasar, spanduk peringatan agar pedagang segera menempati kiosnya, terhitung sejak 9 Mei 2024, diikuti peringatan akan dilakukan penertiban.
Namun, di lapangan pedagang tak bergeming, dan memilih bertahan berjualan di emperan jalan di kawasan sekitar pasar.
Kabid Sarana Perdagangan dan Bapokting Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Jombang, Yustinus Harris Eko Prasetijo, tak menampik kondisi Pasar Perak banyak ditinggalkan pedagang.
”Saat ini ada 276 lapak yang tidak beroperasi. 131 kios dan 145 lapak los,” terangnya, Selasa (9/9).
Kondisi karut-marut pasar sudah berlangsung lama.
Pihaknya sudah melakukan berbagai upaya agar pedagang segera menempati lapak, namun belum membuahkan hasil maksimal.
”Kami juga sudah melakukan berbagai langkah, mulai dari sosialisasi kepada pedagang, memasang spanduk peringatan, hingga memberikan surat pemberitahuan resmi. Jadi pedagang tahu, kalau lapak tidak ditempati, kewenangannya kembali ke Disdagrin,” terangnya. (yan/naz)
Editor : Ainul Hafidz