Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Sosok dr Antina Nevi Hidayati Dokter Spesialis Jiwa RSUD Jombang: Termotivasi Hidup Sehat Berkat Ilmu DBT

Wenny Rosalina • Rabu, 11 Desember 2024 | 14:22 WIB
Photo
Photo

Jombangbanget.id - Dokter Antina Nevi Hidayati SpKj merupakan dokter spesialis jiwa pertama di Kabupaten Jombang yang bertugas di RSUD Jombang.

Ilmu soal kejiwaan tidak hanya bermanfaat untuk pasien yang ia tangani. Melalui dialectical behavior therapy (DBT), Nevi kini termotivasi untuk hidup lebih sehat.

”Tentu saja, ilmu yang saya dapatkan juga membawa manfaat besar bagi diri saya sendiri,” katanya.

Nevi praktik di tiga tempat, yaitu di RSUD Jombang serta rumah sakit dan klinik swasta di Jombang.

Jadwal itu menurutnya sudah cukup padat dan melelahkan baginya. Jadwal praktik ia ambil pada Selasa, Rabu dan Kamis. Sisa waktunya ia dedikasikan untuk keluarga.

Menurutnya, dokter spesialis jiwa harus mendengarkan banyak cerita dari puluhan pasien setiap harinya.

Nevi berprinsip harus memiliki waktu untuk me time dengan relaksasi. ”Relaksasi paling ampuh adalah dengan salat, selain itu juga berenang,” ungkapnya.

Kini ia juga tengah mengikuti pendidikan dialectical behavior therapy (DBT) atau terapi perilaku dialektis. Ada 81 orang di Indonesia yang tengah menjalani pendidikan.

Juga diikuti psikologi klinis, psikiater.

Pendidikan telah dilakukan sejak Februari 2023 secara daring. ”Karena gurunya juga orang luar negeri, di Indonesia belum ada,” katanya.

Dalam setahun, ia diminta untuk belajar dan mempraktikkan.

Puncaknya nanti bulan Februari tahun depan ada pendidikan luring selama lima hari di Tangerang.

Harapannya agar nanti setelah mengikuti pendidikan ini bisa lebih maksimal dalam memberikan pelayanan dalam hal disregulasi emosi.

”Karena saat ini banyak sekali disregulasi emosi yang dialami remaja, dan dewasa muda, seperti ibu-ibu muda begitu,” katanya.

Pendidikan itu telah membawa manfaat untuk Nevi secara pribadi, yaitu mindfulness. Tapi bagi Nevi mindfulness yang Nevi terapkan adalah mindful eating yang telah ia jalani sejak September.

Itu dilakukan karena menginjak usia 50 tahun, Nevi sudah mulai merasakan nyeri di bagian punggung dan lutut.

Ia kemudian berkonsultasi dengan rekan kerja bagian fisioterapi, hingga akhirnya direkomendasikan untuk menurunkan berat badan.

Ia kemudian mencoba menggabungkan ilmu yang didapatkan dari DBT dengan perilaku yang ia jalani sehari-hari.

Caranya dengan menggunakan bantuan catatan kalori, mencatat betul apa saja yang masuk dalam tubuhnya dan aktivitas apa yang dikeluarkan.

 ”Prinsipnya apa yang keluar harus lebih banyak daripada yang masuk, dari DBT saya belajar perilaku saya,” katanya.

Ia mempelajari dirinya sendiri, kapan ia mulai ingin makan, kapan ketika ia mulai ingin ngemil, sehingga di saat itu ia melakukan aktivitas yang lain.

”Misalnya tidak ada pasien gini biasanya saya ingin ngemil, artinya saya harus mencari kesibukan lain untuk mengalihkan keinginan ngemil saya,” katanya.

Sehingga saat ia makan, ia makan dengan kesadaran penuh, apa saja yang dimakan, bagaimana cara makan, berapa kalori yang ia makan.

”Dulu kebutuhan kalori saya 1.700-an, sekarang sudah 1.200-1.500-an. Berat badan dari 83, turun menjadi 73, turun lagi 71, dan sekarang stabil di angka 73, 74,” jelasnya.

Cara makan juga penting untuk mendukung program dietnya, yaitu dengan makan lebih lambat, memilih waktu yang tepat, dan tidak melakukan aktivitas lain ketika sedang makan.

Ia juga lebih mengenali dirinya sendiri. Jadi tahu, biasanya ia ingin ngemil kalau ada waktu luang, saat nonton TV, tidak olahraga karena tidur terlalu malam.

”Belajar itu saya jadi tahu,” jelasnya.

Biasanya ia olahraga renang 2-3 kali seminggu, atau jalan kaki di sekitar rumah atau ke alun-alun.

Di sana ia juga bertemu dengan banyak orang, mulai teman, hingga pasien kadang bertemu saat olahraga.

”Godaannya kalau olahraga ke alun-alun pengen beli nasi pecel pulangnya, tidak apa-apa sih, yang penting dicatat dan disadari, dan tidak berlebihan,” jelasnya.

Selain mengatur kalori yang masuk di tubuh, ia juga rutin puasa Senin dan Kamis. Menurutnya puasa juga memiliki banyak manfaat untuk dirinya secara pribadi.

Secara tidak langsung, selain ibadah ia juga mendapatkan manfaat kesehatan yang besar dari puasa.

”Ketika puasa saya berusaha untuk kalori yang masuk hanya 500, itu sudah cukup banyak untuk ukuran puasa,” katanya.

Dokter Spesialis Jiwa Pertama di Jombang

USAI lulus dari Fakultas Kedokteran Unair Surabaya tahun 2001, ia kemudian PTT di Puskesmas Selasari, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat yang saat itu masih dalam wilayah Ciamis.

Dua tahun ia bertugas di sana, pengantin baru Long Distance Relationship (LDR) dengan suaminya, Muhammad Rosyid Ridlo ST.

Dua tahun LDR, 2003 ia pulang dan menikmati masa kehamilan di rumah. Setelahnya ia mendaftar CPNS tahun 2004.

”Alhamdulillah diberikan rasa nikmat hamil besar di rumah,” jelasnya. Ia diterima dan ditugaskan di Puskesmas Gambiran, dari tahun 2005 sampai 2010.

Pada rentang tahun 2010-2015, ia melanjutkan pendidikannya di spesialis jiwa. Nevi kemudian lulus dan menjadi dokter spesialis jiwa pertama di Kabupaten Jombang dan diangkat di RSUD Jombang sampai sekarang. 

Selain  menjadi dokter spesialis jiwa, Nevi juga menjadi DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pelayanan) Jiwa, anggota komite medik dan anggota komite farmasi terapi RSUD Jombang.

Menurutnya, menjadi dokter bukan bagian dari cita-citanya.

Ia hanya manut dawuh ibu. ”Ibu selalu mengatakan, perempuan lebih baik ke kesehatan atau pendidikan, karena ibu saya seorang guru,” jelasnya.

Usai lulus SMAN 2 Jombang yang kala itu telah mendaftar di Teknik Fisika dan Psikologi kemudian banting setir ke kedokteran.

”Baru mendaftar, belum sampai lolos, karena dulu cita-cita saya tidak tentu, yang penting saya kuliah di ITB, itu saja.

Sebetulnya ibu saya tidak memaksa, hanya karena ucapan itu diulang-ulang terus, saya jadi berfikir keras sebelum memutuskan untuk kuliah, jurusan apa, kalaupun saat itu saya tetap ingin di Teknik Fisika, ibu pasti tetap mendukung,” jelasnya.

Kemudian spesialis jiwa diambil karena ia juga sempat tertarik untuk masuk Jurusan Psikologi. Selain sibuk di rumah sakit, Nevi juga punya hobi lain, yaitu nonton drakor.

Saat ini ia sedang mengikuti drama The First Responders. ”Banyak nilai yang saya dapatkan dari drama itu, jadi saya suka,” katanya.

Kini alumnus SDN Mojotrisno Mojoagung dan SMPN 1 Mojoagung tersebut juga sedang belajar soal Elektro Fisiologi Psikiatri.

Jika pelayanan psikiatri biasanya hanya dilakukan dengan wawancara, kini ada EEG (rekam otak) yang dapat mendeteksi kejiwaan pasien.  

”Jadi kita tahu nanti kalau pasien halusinasi, apa halusinasi sungguhan atau pura-pura. Tapi masih belum 100 persen digunakan, masih butuh penelitian-penelitian yang masih kita kembangkan,”  pungkasnya. (wen/naz)

 

 

Editor : Anggi Fridianto
#Pemkab Jombang #RSUD Jombang #dokter jiwa