Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Rencana Rekor Muri Jaranan Dor Banyak Timbulkan Keresahan, Pj Bupati Jombang Bakal Lakukan Evaluasi

Anggi Fridianto • Rabu, 1 Mei 2024 | 13:57 WIB
BERI PENJELASAN: Pj Bupati Jombang Sugiat saat memberi keterangan ke awak media, Jumat (15/3).
BERI PENJELASAN: Pj Bupati Jombang Sugiat saat memberi keterangan ke awak media, Jumat (15/3).

Jombangbanget.id - Banyaknya keluhan terkait rencana rekor MURI jaranan dor yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Jombang, mendapat atensi serius dari Pj Bupati Jombang Sugiat.

Pihaknya bakal secepatnya melakukan evaluasi. Jika memberatkan, kegiatan tersebut bakal dibatalkan.

”Itu kan program yang sudah direncanakan sebelumnya. Memang saya akui, program itu bagian dari kebudayaan yang harus kita lestarikan,’’ ujar Pj Bupati Jombang Sugiat, kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (30/4).

Namun demikian, lanjut pria asli Japanan Gudo ini, jika memang program tersebut memberatkan masyarakat, maka akan dibatalkan.

”Kalau kemudian mencapai rekor MURI, tapi memberatkan dan membebani masyarakat, saya tidak mau,’’ jelas dia.

Sangat percuma Pemkab Jombang jika mendapatkan rekor MURI namun masyarakat terbebani dan menjadi korban.

”Untuk itu kita cari solusinya,’’ terang dia.

Pihaknya tak menampik jika sejumlah warga mengeluhkan rencana kegiatan rekor MURI jaranan dor tersebut.

Misalnya terkait dengan pembelian properti, atribut, pengerahan massa, transportasi, konsumsi dan lain-lain.

”Ada yang bilang disuruh beli dan sebagainya. Itu kan ada yang keberataan, karena tidak semua punya kemampuan. Kecuali buat sendiri, nanti kita bahas dulu,’’ jelasnya.

Pada intinya, Sugiat tak ingin ada masyarakat yang terbebani dengan rekor MURI jaranan dor.

”Apakah kita lanjut rekor MURI atau tidak kita bahas dulu,’’ pungkasnya.

Sebelumnya, Dinas P dan K Jombang terlalu berambisi mengejar rekor MURI tanpa melihat dampak KBM dan tindaklanjutnya.

Belum lagi, orang tua siswa yang merasa terbebani karena harus membeli properti jaranan. Apalagi harganya kini terdongkrak dari harga Rp 35 ribu sampai Rp 100 ribu per unit.

Salah seorang kepala SD menyampaikan, korelasi jaranan dor tidak ada tindak lanjut. Berdasar pengalaman pada rekor MURI sebelumnya, setelah gebyar pemecahan rekor, tidak ada lagi tindaklanjut yang dilakukan dinas atas kemampuan siswa.

”Misalnya diundang kembali untuk tampil kan bisa. Selama ini yang diundang hanya SD-SD besar saja, SD kecil seperti kami jarang dilibatkan,” keluhnya.

Belum lagi keluhan wali murid yang merasa keberatan karena harus membeli properti untuk memecahkan rekor MURI.

Seperti Tari Remo sebelumnya harus beli sampur, MURI Ishari harus beli songkok dan sekarang jaranan dor juga harus membuat sendiri. Karena tidak bisa membuat ya akhirnya beli lagi. 

”Ya orang tua nabraknya ke kami, bolak-balik kok iuran beli ini-itu, begitu keluhan wali murid yang sering kami dengar,” bebernya.

Jika nanti sampai hari H siswa belum memiliki jaranan, maka akan diadakan melalui dana BOS.

Padahal, pengeluaran sekolah sendiri untuk kegiatan pembelajaran dan operasional lainnya semakin besar.

Belum lagi ketika harus datang ke titik tampil, juga memerlukan biaya untuk transportasi. Mengangkut siswa dengan mobil juga perlu sewa kendaraan yang tidak sedikit.

Termasuk honor untuk pelatih, konsumsi setiap latihan. Bahkan, semua ekstrakurikuler mandek karena seluruh jadwal diisi dengan latihan jaranan dor.

”Karena harus latihan jaranan dor setiap hari, setiap latihan juga menyediakan air minum, ke lokasi juga butuh transportasi dan butuh konsumsi,” pungkasnya. (ang/bin)

 

Editor : Anggi Fridianto
#jaranan dor #rekor muri #Dinas P dan K Jombang #Sugiat #Pj Bupati Jombang