Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Afvour Watudakon Jombang Jadi Biang Keladi Banjir Lahan Pertanian, Ketua Hippa: Butuh Normalisasi

Ainul Hafidz • Kamis, 1 Februari 2024 | 14:20 WIB

 

JADI SUMBATAN: Pohon yang tumbuh di tengah Afvour Watudakon Desa Podoroto, Kecamatan Kesamben dibersihkan, Rabu (31/1)
JADI SUMBATAN: Pohon yang tumbuh di tengah Afvour Watudakon Desa Podoroto, Kecamatan Kesamben dibersihkan, Rabu (31/1)

JombangBanget.id – Banjir yang setiap tahun melanda lahan pertanian di Kecamatan Kesamben, lebih disebabkan saluran afvour Watudakon.

Saluran yang menjadi biang keladi banjir itu harus segera dinormalisasi.

Ketua Himpunan petani pemakai air (Hippa) Desa Kedungbetik, Thoriq Huda, mengatakan ada beberapa saluran buang di kawasan sekitar yang menjadi penyumbang banjir tahunan di lahan pertanian.

”Kuncinya ada di Afvour Watudakon dari mulai Dusun Ngemplak (Desa Kedungbetik) sampai ke timur arah ke Kesamben,” katanya.

Salah satu penyebabnya, menurut dia, kondisi saluran buang yang sudah lama mengalami pendangkalan.

Kondisi itu didukung dengan banyaknya pepohonan hingga tanaman liar yang tumbuh subur di kanan kiri dan tengah saluran.

”Tanggulnya juga sudah banyak yang tipis, waktu banjir sampai tidak kelihatan ada tanggul,” imbuh dia.

Dalam analisanya, banyaknya pepohonan di sekitar sampai sekarang mengakibatkan aliran air tidak lancar.

Ketika debit naik, bakal meluber ke sawah.

”Sementara saluran lainnya, air bertemu di afvour (Afvour Watudakon),” ujar Thoriq.

Baca Juga: Afvour Kedungbajul Meluap, Dinas PUPR Jombang: yang Terdampak Wilayah Langganan Banjir

Karena itu dirinya berharap, ada penanganan pada saluran utama tersebut. Ada pengerukan atau perbaikan afvour.

“Itu saja, karena di situ jadi hambatan air waktu musim hujan,” bebernya.

Hingga saat ini belum ada koordinasi dengan kelompok Hippa lain.

Namun, sebelumnya muncul rencana membuat surat ke pemilik kewenangan saluran.

Harapannya, agar langkah penanganan masalah tahunan bisa lebih cepat.

”Teman-teman dulu sudah pernah menyampaikan ke kabupaten, berhubung ikut di BBWS Brantas, jadi hanya menunggu ditindaklanjuti saja,” ujar dia.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Jombang M Rony menyampaikan saluran buang Watudakon memang ikut BBWS Brantas.

Selama ini, yang menjadi masalah berada di Afvour Watudakon.

Sehingga pihaknya juga melakukan komunikasi dengan kelompok pemakai air.

”Jadi kami komunikasi dengan induk Hippa untuk bersurat ke pemerintah pusat, supaya Afvour Watudakon menjadi prioritas dilakukan normalisasi,” tuturnya.

Sebab, banjir tahunan yang melanda lahan pertanian di Kecamatan Kesamben, salah satunya disebabkan dari air saluran buang yang sangat dangkal.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Jombang Bayu Pancoroadi, melalui Kabid Sumber Daya Air (SDA) Sultoni, tak menampik bila saluran buang butuh normalisasi.

Baca Juga: Lewat CSR, PT CJI Jombang Bantu Warga Normalisasi Sungai Londo di Jatigedong

Selain kondisinya sangat dangkal, di sekitarnya juga banyak tumbuh tanaman keras.

”Jadi jangka panjangnya butuh normalisasi, supaya tampungan air semakin besar. Juga tidak ada lagi sumbatan,” katanya.

Hanya saja, pihaknya tak bisa melakukan langkah sendiri mengingat kewenangan berada di BBWS Brantas.

”Sebenarnya sudah diteruskan ke teman-teman balai (BBWS Brantas),” tutur dia.

Selama ini, saluran dinormalisasi pada hilirnya yang berada di Desa Blimbing, Kecamatan Kesamben.

”Dua tahun lalu sudah ada, tapi hanya di perbatasan Jombang dengan Kabupaten Mojokerto, sementara ke hulu belum pernah,” ujar Sultoni.

Karena alasan itu pihaknya hanya bisa melakukan penanganan darurat.

Membersihkan pohon tumbang hingga ke tengah saluran.

Termasuk pembersihan tanaman keras yang tumbuh subur hingga aliran air tersendat.

”Ada banyak pohon, seperti waru, pohon randu dan pohon ketepeng,” terangnya.

Dijelaskan, hulu Afvour Watudakon berada di Desa Kedungbetik dan hilirnya berada di Desa Blimbing, Kecamatan Kesamben. Berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto.

”Panjang saluran di Jombang 20 kilometer, sementara lebarnya 20 meter, di hulu terjadi penyempitan karena banyak tanaman keras,” pungkas dia. (fid/bin)

Editor : Ainul Hafidz
#Pertanian #Dinas PUPR Jombang #HIPPA #banjir #Kesamben #Jombang #afvour watudakon #disperta jombang