JombangBanget.id – Sekitar 300 pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di Jalan Dokter Soetomo atau Kuliner Jombang kompak kembali berjualan di Alun-alun Jombang, Sabtu (9/12) malam.
Aksi itu sebagai bentuk protes atas sikap pemkab yang dinilai tidak tegas menindak para pedagang yang kembali menjamur di kawasan alun-alun.
Pantauan di lokasi, sejak sore para pedagang yang setiap harinya berjualan di sentra Kuliner Jombang di Jalan dr Soetomo memboyong lapaknya ke Alun-alun Jombang.
Mereka pun segera mendirikan lapak dan menggelar barang dagangannya di sejumlah sudut alun-alun.
Sebagian ada yang menjajakan pakaian, makanan ringan, hingga aksesoris.
”Malam ini (Sabtu) kita sengaja balik jualan di alun-alun,” kata salah seorang pedagang yang enggan menyebutkan namanya kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Aksi itu sengaja dilakukan sebagai bentuk protes para pedagang terhadap pemkab yang dinilai tidak tegas membuat kebijakan.
”Sebelumnya kami berjualan di kawasan alun-alun, kemudian pada saat Covid-19 merebak, kami bersedia direlokasi ke sentra Kuliner Jombang. Tapi kenapa sekarang di alun-alun dipakai jualan lagi,” imbuh dia.
Karena alasan itu, mereka balik ke tempat asal yang dulunya dipergunakan jualan. Terlebih setelah beberapa kali pengaduan pedagang tidak ditindaklanjuti.
”Ketika di alun-alun sudah tidak boleh untuk jualan, harus ditindak, tidak malah dibiarkan,” ujar dia.
Sementara itu, Ketua Serikat Pedagang Kaki Lima (Spekal) Jombang Joko Fattah Rochim mengakui, ratusan pedagang kembali berjualan di alun-alun sebagai bentuk protes kepada pemkab.
”Dulu seputaran alun-alun harus steril dari pedagang (PKL), ternyata sekarang bagaimana, makanya itu kami minta kalau steril harus steril,” kata Fattah.
Dijelaskan, ratusan pedagang yang balik jualan di alun-alun itu merupakan pedagang lama kawasan alun-alun.
”Waktu itu (Pandemi Covid-19) ada surat bupati tidak boleh jualan di seputaran alun-alun,” imbuh dia.
Kala itu, dia bersama pedagang berusaha agar tetap bisa berjualan.
Akhirnya diputuskan pedagang bisa berjualan dan menempati Jalan dr Soetomo.
”Pandemi Covid-19 dicabut, ternyata di alun-alun malah muncul pendatang atau pedagang baru,” ujar Fattah.
Yang membuat para pedagang kecewa, pemkab seolah melakukan pembiaran dengan mulai menjamurnya pedagang baru di kawasan alun-alun dan tak melakukan penindakan.
Sehingga dinilai tak komitmen menjalankan aturan yang dibuat sendiri.
”Sebenarnya saya sudah dua sampai tiga kali datang ke Satpol PP, hanya disampaikan akan ditindaklanjuti,” tutur dia.
Perjalannya, karena tak ada tindak lanjut membuat pihaknya jengah. Akhirnya balik lagi memilih jualan ke tempat asal.
”Listrik di sepanjang Jalan Dokter Sutomo kita padamkan, teman-teman jualan lagi ke alun-alun,” ujar Fattah.
Meski demikian, dalam aksi protes itu pihaknya ditemui jajaran pejabat pemkab, termasuk Pj Bupati Jombang Sugiat.
”Sudah ada titik temu baik dengan DLH, Satpol PP bersama pak Pj Bupati Jombang, kalau (kawasan alun-alun) harus steril,” tutur dia.
Dia juga menyinggung makin menjamurnya pedagang yang berjualan di pinggiran jalan saat malam hari, utamanya di Jombang kota.
”Termasuk angkirngan banyak yang jualan di jalur T (kawasan tertib lalu lintas), itu bagaimana tindakan pemerintah. Masak dibiarkan saja,” tutur Fattah.
Karena itu, diharapkan ketegasan pemkab dalam menangani persoalan PKL.
”Pemerintah harus tegas, jangan saling lempar. Antara dinas A ke B ke C, artinya harus memperkuat kerja sama yang baik. Misalnya alun-alun steril ya harus disterilkan tidak dibiarkan ada pedagang. Jangan sampai masyarakat dijadikan objek saling berbenturan,” kata Fattah. (fid/naz/fid)
Editor : Ainul Hafidz