Gus Yahya Bandingkan Prabowo dan Soeharto soal NU

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 08:40 WIB
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf. (Anggi Fridianto/Radar Jombang)
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf. (Anggi Fridianto/Radar Jombang)

JombangBanget.id – Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya membandingkan posisi Presiden Prabowo Subianto dengan Soeharto dalam konteks hubungan dengan NU.

Menurut Gus Yahya, Prabowo tidak berada dalam posisi seperti Soeharto ketika berhadapan dengan Gus Dur.

Pernyataan itu disampaikan Gus Yahya di sela Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Baca Juga: Gus Salam Buka Suara soal Dugaan Intimidasi di Muktamar NU Jombang

Ia sekaligus menepis anggapan Prabowo menghendaki dirinya tidak kembali memimpin PBNU.

Gus Yahya juga memastikan tetap maju dalam kontestasi kepemimpinan PBNU pada Muktamar Ke-35 NU.

Ia mengaku mantap dengan keputusan tersebut dan menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala.

’’Allahu Robbuna. Niatku ora kliru," kata Gus Yahya usai pembukaan Muktamar NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kamis (27/8).

Baca Juga: Pemuda Ngaku Polisi Ditangkap, Peras Korban dengan Video Call

Langkah tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab dalam menjalankan khidmah kepada Nahdlatul Ulama.

Gus Yahya juga merespons isu mengenai dugaan campur tangan Presiden Prabowo dalam proses internal Muktamar.

Termasuk kabar yang menyebut Prabowo tidak menghendaki dirinya kembali memimpin PBNU.

Dia memastikan hal itu tidak benar. Karena Prabowo tidak seperti Seoharto yang kala itu tidak suka dengan Gus Dur selaku Ketua Umum PBNU.

’’Prabowo tidak dalam posisi seperti Soeharto, lingkungan politik juga tidak sama,’’ katanya.

Gus Yahya berpandangan, tidak ada kepentingan politik yang rasional bagi Prabowo untuk mencampuri urusan internal NU.

Baca Juga: Renungan Minggu: Jangan Menyerah Saat Doa Belum Terjawab, Ini Pesannya

Bahkan, intervensi terhadap organisasi keagamaan terbesar tersebut justru bisa berdampak buruk terhadap posisi politik Presiden Prabowo.

’’Mengintervensi NU akan sangat membahayakan posisi politik Prabowo,’’ ujarnya.

Dia juga membandingkan relasinya dengan Prabowo dengan hubungan Gus Dur dan Soeharto pada masa lalu.

’’Posisi saya terhadap Prabowo juga tidak sama dengan posisi Gus Dur terhadap Soeharto. Saya kooperatif, bahkan supportif.  Gus Dur kritis sesuai kebutuhan konteks sosial politik saat itu,’’ terangnya.

Baca Juga: LPJ Diterima Aklamasi, Gus Yahya Ungkap Rasa Syukur

Gus Yahya menilai tidak ada dasar yang masuk akal bagi Presiden Prabowo untuk menolak dirinya kembali memimpin PBNU.

’’Tidak ada alasan yang masuk akal bagi Prabowo untuk menolak saya,’’ ungkapnya.

Gus Yahya kemudian mengungkap adanya informasi mengenai pihak tertentu dari lingkungan pemerintahan yang mengumpulkan sejumlah pengurus NU dari daerah.

Kemudian diminta agar tidak memilih dirinya. Bahkan, disebut pula adanya imbalan uang.

Namun, Gus Yahya meminta agar dugaan tersebut tidak langsung dikaitkan dengan sikap resmi Presiden Prabowo.

Jika benar ada aparat atau orang di lingkungan pemerintahan yang melakukan manuver dengan membawa nama presiden, menurutnya, tindakan tersebut justru berpotensi merugikan Prabowo.

Baca Juga: LPJ Diterima Aklamasi, Gus Yahya Ungkap Rasa Syukur

’’Kalau ada anak buah bermanuver mencatut Prabowo, semestinya Prabowo menegur, bila perlu memberi sanksi,’’ tegasnya.

Dia menilai pihak-pihak tersebut justru bisa menyeret presiden untuk kepentingan agenda pribadi atau kelompok.

’’Mereka mengorbankan Prabowo untuk agenda mereka sendiri,’’ tandasnya.

Gus Yahya juga meminta agar tindakan korektif dilakukan secara terbuka apabila manuver tersebut memang dilakukan secara terang-terangan.

Baca Juga: Tak Punya Lahan Luas? SIKAP SMAN 2 Jombang Punya Solusi

’’Karena mereka melakukan dengan terbuka, mestinya teguran dan sanksi atas mereka juga terbuka,’’ jelasnya.

Menurutnya, sikap resmi presiden harus dibedakan dengan tindakan individu yang berada di lingkungan pemerintahan.

Di tengah munculnya isu politik uang menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU, Gus Yahya menyatakan tetap percaya terhadap integritas PWNU dan PCNU.

Dia menilai pengurus wilayah dan cabang merupakan kader organisasi yang memiliki tanggung jawab moral dalam menentukan masa depan jam’iyah.

’’PW dan PC adalah kader-kader. Bukan pedagang, apalagi maling,’’ ucapnya.

Gus Yahya meyakini para pengurus NU di daerah tetap berpegang pada nurani dan loyalitas terhadap organisasi.

Baca Juga: Silatnas Asparagus di Tambakberas Jombang, Gus Sentot Gandeng Emil

’’Mereka punya nurani dan kesetiaan terhadap organisasi. Mereka akan melindungi komitmen moral mereka dari ancaman apa pun, apalagi sekadar uang," tutur Gus Yahya.

Saat ditanya apakah tetap yakin PWNU dan PCNU akan menggunakan hak pilih sesuai kepentingan organisasi, Gus Yahya menjawab tegas.

’’Ya. Haqqul yaqin," ucapnya. (ang/jif)

Editor : Ainul Hafidz
NU gus yahya prabowo Jombang soeharto