Buku Gus Muhaimin Dibedah di Tambakberas Jombang, Begini Isinya

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 07:47 WIB
Mudir I Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng, DR KH Mustain Syafi’i (Kiai Tain). (IST)
Mudir I Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng, DR KH Mustain Syafi’i (Kiai Tain). (IST)

JombangBanget.id - Buku Meneladani Kepemimpinan 3 Kiai: KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri karya Dr Wasid SFilI dkk dibedah dalam diskusi yang digelar Suluh Nahdliyin di Al Maliki 2 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026).

Diskusi tersebut membahas sosok Gus Muhaimin Iskandar melalui keteladanan tiga kiai besar pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber. Di antaranya, Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, KH Azam Khairuman Najib (Gus Heru), Mudir I Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng, DR KH Mustain Syafi’i (Kiai Tain).

Baca Juga: Cak Imin Dorong Pesantren Jadi Kekuatan Ekonomi Indonesia

Serta pengamat politik Hendri Satrio.

Gus Heru mengatakan, buku tersebut mencoba membaca sosok Gus Muhaimin Iskandar dari berbagai perspektif, terutama dengan melihat keteladanan tiga tokoh besar yang menjadi panutan kepemimpinannya.

Menurut dia, latar belakang genealogis Gus Muhaimin juga tidak bisa dilepaskan dari jejaring pesantren besar di Jombang, khususnya Tambakberas, Tebuireng, dan Denanyar.

Karena itu, Gus Heru menyebutnya dapat dipandang sebagai representasi dari tiga lingkungan pesantren tersebut.

Baca Juga: Dua Opsi Pilih Ketum PBNU: Voting atau Musyawarah Ahwa

’’Cak Imin ini bisa dikatakan perwakilan Tebuireng, bisa dikatakan perwakilan Tambakberas, bisa dikatakan perwakilan dari Denanyar. Jadi wong sakti, kesaktien—terlalu sakti,’’ ujarnya disambut suasana cair dalam forum.

Gus Heru menilai buku tersebut memiliki pendekatan yang relatif berbeda karena mencoba mengupas ketiga tokoh pendiri NU dari perspektif politik kepemimpinan.

’’Baru buku ini yang mengupas dari sisi politik para masyayikh, para muassis. Kalau dari sisi pendidikan sudah berkali-kali, banyak sekali,’’ katanya.

Ia menegaskan, buku tersebut tetap terbuka untuk dikritisi karena tidak dimaksudkan sebagai karya yang sempurna.

’’Jenengan semua boleh setuju dengan buku ini dan boleh juga tidak setuju. Karena buku ini pasti ada kekurangan, belum tentu sempurna, dan tidak akan sempurna,’’ tuturnya.

Menurut Gus Heru, tantangan utama buku tersebut adalah mencoba membaca kepemimpinan Gus Muhaimin melalui tiga figur yang memiliki jasa besar dan pengaruh luas dalam sejarah NU.

’’Tiga tokoh yang sudah jauh jaraknya, yang terlalu besar jasanya, yang terlalu luas digambarkan keilmuannya. Tapi dicoba diduplikasi oleh Cak Imin, meskipun setetes dua tetes,’’ katanya.

Baca Juga: Ketua SC Muktamar NU Dirawat di RSUD Jombang, Diduga Kelelahan

Sementara itu, Kiai Tain menyoroti tiga figur yang menjadi fokus buku, yakni KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri. Menurutnya, ketiganya memiliki karakter kepemimpinan yang saling melengkapi.

’’Tiga figur ini saling melengkapi,’’ ujar Kiai Tain.

Ia kemudian mengingatkan kembali kapasitas keilmuan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Menurut Kiai Tain, KH Hasyim Asy’ari merupakan seorang hafiz Alquran dan pernah menempuh pendidikan di Madrasah Al-Shaulatiyah.

Baca Juga: Jalan Paving Desa Ngrandulor Jombang Rampung, Akses Warga Makin Lancar

’’Kita ini sungguh punya imam yang hebat, utamanya di Jombang ini. Kita ini tidak pernah ketemu Nabi, tapi kita punya beliau-beliau. Beliau-beliau adalah warasatul anbiya,’’ terangnya.

Di sisi lain, pengamat politik Hendri Satrio melihat penerbitan buku tersebut memiliki momentum yang menarik karena berdekatan dengan Muktamar NU, ketika nama-nama calon sudah mulai muncul.

’’Saya terima buku ini belum lama, sekitar beberapa hari yang lalu. Untung terbit pas Muktamar NU, yang calon-calonnya sudah ada semua. Kalau calonnya belum ada dan muktamar masih jauh, bisa jadi Cak Imin dikira mau maju nih,’’ kata Hendri.

Menurutnya, salah satu kekuatan politik Gus Muhaimin adalah jejaring pertemanannya yang luas lintas kekuatan politik.

Bagi Hendri, isi buku tersebut turut menggambarkan bagaimana jejaring dan pengalaman politik Cak Imin terbentuk.

’’Kalau baca buku ini, Cak Imin ini banyak temannya,’’ ucapnya.

Baca Juga: PPPK Jadi PNS Bisa Ringankan Beban Daerah, Asal TKD Utuh

Dalam diskusi tersebut, Hendri juga mengutip salah satu bagian penting dari buku yang menurutnya relevan untuk memahami makna kepemimpinan dalam tradisi NU.

’’Yang diteruskan pendiri NU bukan kekuasaan, melainkan nilai-nilai yang hidup dalam keteladanan,’’ ungkapnya.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pesan penting dari buku yang tidak hanya membicarakan sosok Gus Muhaimin.

Tetapi juga berusaha menghubungkan kepemimpinan politik dengan warisan nilai para muassis NU. (ang/jif/*)

Editor : Ainul Hafidz
bedah buku KH Mustain Syafii muhaimin Jombang cak imin