Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Gus Zu'em: Gencatan Iran & AS: Perspektif Hudaibiyah

Ainul Hafidz • Senin, 27 April 2026 | 07:09 WIB
KH Zaimuddin Wijaya As
KH Zaimuddin Wijaya As'ad atau Gus Zu'em.

DALAM logika perang modern, gencatan senjata sering dipahami sebagai jeda yang rapuh, sekadar menarik napas sebelum kembali saling menekan. Ia jarang dirayakan sebagai kemenangan.

Lebih sering dicurigai sebagai taktik: siapa yang sedang mengulur waktu, dan siapa yang sedang menata ulang kekuatan.

Namun sejarah Islam, pada bulan Dzulqo’dah seperti sekarang, tahun 6 Hijrah lalu, menawarkan perspektif yang tidak biasa: Perjanjian Hudaibiyah.

Perjanjian gencatan senjata yang menjadi contoh klasik tentang bagaimana sesuatu yang tampak merugikan Islam justru berujung kemenangan.

Baca Juga: FRMJ Desak Evaluasi Program Motor Operasional Desa di Jombang, Dinilai Bertentangan dengan Efisiensi Anggaran

Isi perjanjian itu, jika dicermati, jelas sekali tidak adil. Sehingga para sahabat merasa keberatan Rasulullah menyepakatinya.

Tetapi Nabi Muhammad melihat lebih jauh dari sekadar teks perjanjian.

Beliau membaca momentum ketika disepakati gencatan senjata 10 tahun yang berarti terciptanya perdamaian selama itu.

Al-Qur’an kemudian menyebutnya sebagai fathan mubina (kemenangan yang nyata).

Bukan karena isi kesepakatannya, melainkan karena sikap Rasulullah dan apa yang terjadi setelahnya. Dalam suasana damai, interaksi terbuka.

Penduduk Mekah bisa berdiskusi tentang Islam dengan aman. Dakwah bergerak tanpa hambatan.

Orang-orang yang sebelumnya memusuhi, mulai mengenal. Dan dalam waktu yang relatif singkat, lahirlah peristiwa besar: pembebasan Mekah ( fathu Makkah ), tanpa pertumpahan darah.

Di titik ini, banyak orang tergoda menarik kesimpulan sederhana: damai adalah kemenangan. Gencatan senjata adalah peluang.

Dan sejarah seolah memberi legitimasi atas optimisme itu. Tetapi di sinilah kita perlu berhati-hati.

Pelajaran Hudaibiyah bukan sekadar “damai membawa kemenangan”, melainkan “damai yang dimanfaatkan dengan kesiapan akan melahirkan kemenangan”.

Baca Juga: Motor Baru Operasional Desa Seragam Honda PCX Putih, Anggaran Tembus Segini

Ada variabel penting yang sering diabaikan: kualitas internal umat saat damai itu terjadi. Tanpa itu, damai hanyalah jeda. Bukan titik balik.

Konteks inilah yang menarik untuk membaca dinamika gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat yang disepakati di Pakistan.

Di tengah berbagai tafsir geopolitik, ada harapan yang mengemuka: bahwa konflik yang mereda akan membuka mata dunia terhadap nilai-nilai Islam yang selama ini tertutup oleh kabut perang.

Harapan itu tidak keliru. Perang memang cenderung menyederhanakan realitas. Ia mengikis identitas menjadi sekadar 2 posisi: kawan atau lawan.

Dalam situasi seperti itu, wajah Islam sering kali tertutup oleh narasi konflik. Ketika senjata berhenti, setidaknya ada ruang bagi dunia untuk melihat lebih jernih.

Namun harapan tetaplah harapan. Ia tidak otomatis menjadi kenyataan.

Narasi alternatifnya justru lebih menantang: gencatan senjata bisa saja tidak menghasilkan apa-apa, jika tidak ada kesiapan untuk mengisinya.

Bahkan dalam banyak kasus, jeda justru lebih menguntungkan pihak yang paling siap, bukan pihak yang benar.

Dalam dunia yang dikendalikan oleh arus informasi global, perang tidak berhenti ketika peluru berhenti.

Ia berlanjut dalam bentuk narasi. Apa yang dilihat publik internasional bukan selalu kenyataan di lapangan, melainkan apa yang ditampilkan, dipilih, dan dibingkai.

Dalam kondisi seperti itu, berharap bahwa dunia akan otomatis “memahami Islam” bisa jadi terlalu optimistis.

Baca Juga: Disporapar Jombang Sukses Gelar Festival 16.30, Gabungkan Wisata, Seni dan UMKM

Di sinilah kedalaman “pelajaran” Hudaibiyah sering kali luput. Nabi Muhammad tidak hanya menerima perjanjian, tetapi juga menyiapkan umat untuk mengisi masa damai itu.

Ada konsolidasi internal, penguatan akhlak, dan perluasan dakwah. Damai bukan tujuan akhir, melainkan sarana dan ruang kerja.

Maka gencatan senjata atau perdamaian itu akan jadi peluang bila umat mampu memanfaatkan momentum itu. 

Jika umat Islam mampu menghadirkan nilai-nilainya dalam praktik kehidupan yang penuh keadilan, keteguhan, dan kemanusiaan, maka jeda ini bisa menjadi jalan yang penuh rahmat.

Tetapi jika yang terjadi justru fragmentasi, konflik internal, saling menjatuhkan, maka gencatan senjata atau suasana damai seperti saat ini, hanya akan menjadi catatan sejarah yang buruk bagi genarasi selanjutnya.

Maka dari itu, mari kita syukuri kedamaian yang kita nikmati ini.

Dengan senantiasa merawat kebersamaan dan kerja keras untuk menyadarkan anak bangsa negeri ini.

Sadar bahwa perdamaian itu anugerah yang sangat mahal yang jika kita tidak bisa menjaganya, akan meluluh-lantakkan bangunan kebangsaan yang tersusun dari darah dan air mata para pahlawan kita.

Wallahu-a’alam bishshawab. (*)

Editor : Ainul Hafidz
#gus zu'em #gencatan senjata #hudaibiyah #Jombang #Kolom Gus Zuem