JombangBanget.id – Komisi C DPRD Kabupaten Jombang menilai perencanaan proyek jembatan gedung kesenian lemah.
Ini menyebabkan pelaksanaan molor sehingga tidak selesai tepat waktu.
’’Komisi C menemukan sejumlah persoalan mendasar, terutama pada aspek perencanaan,’’ kata nggota Komisi C DPRD Jombang, Syaifulloh, saat dengar pendapat, Senin (17/11).
Konsultan perencana dinilai tidak memiliki kompetensi khusus di bidang perencanaan jembatan yang seharusnya dibuktikan dengan SKA Keahlian Konstruksi Jembatan atau sertifikasi teknis lainnya.
’’Setiap pekerjaan jasa konsultansi wajib diberikan kepada pihak yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya,’’ ungkapnya.
Perencanaan jembatan dikerjakan oleh pihak yang tidak memiliki SKA sesuai. Sehingga risikonya sangat besar. Struktur bisa bermasalah, dan desain tidak akurat.
’’Bahkan membahayakan keselamatan pengguna di masa depan,’’ tegasnya.
Dalam pemaparan konsultan perencana terungkap adanya review design hingga pengulangan perencanaan.
Penjelasan teknis yang disampaikan dinilai tidak menunjukkan pemahaman memadai terkait konstruksi jembatan.
Komisi C menilai progres fisik saat ini menunjukkan indikasi kuat bahwa proyek Jembatan Gedung Kesenian tidak akan selesai dalam tahun anggaran berjalan atau tidak mungkin tuntas sesuai kontrak.
’’Komisi C meminta seluruh pihak yang terlibat, konsultan pengawas, kontraktor pelaksana, serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PPK dan bidang teknis) lebih intens melakukan koordinasi dan menyusun timeline baru yang realistis, profesional, dan berbasis data teknis,’’ ungkapnya.
Baca Juga: Dua Jembatan di Sungai Ngotok Ring Kanal Jombang Dipenuhi Eceng Gondok, Begini Penampakannya
Kepala Bidang Tata Bangunan dan Bina Konstruksi Dinas PUPR Jombang, Edy Yulianto, mengatakan, pihak kontraktor mengajukan jadwal baru usai kehilangan waktu pekerjaan akibat adanya acara di gedung kesenian.
’’Namun hingga kini kami belum menerima timeline baru dari kontraktor, sudah hampir 12 hari. Ini akan menjadi bahan pertimbangan kami,’’ ujarnya.
Perkembangan fisik proyek saat ini 42 persen, dengan keterlambatan 7,8 persen.
Edy juga membuka fakta bahwa sejumlah hambatan teknis tidak terdeteksi dalam perencanaan awal.
Pada proses penggalian pondasi, ditemukan sumber air yang tidak pernah diprediksi oleh perencana.
’’Perencanaan pondasi jembatan tidak menghitung adanya sumber air. Kami memahami itu sebagai kelemahan perencanaan,’’ jelasnya.
Selain itu, hujan deras yang terjadi terus-menerus selama sepekan menyebabkan tanah di area galian pondasi longsor.
Termasuk area yang berdekatan dengan tiang listrik PLN, sehingga ikut tergerus.
’’Kondisi itu membahayakan, sehingga tiang listrik harus segera dipindah. Semua prosedur sedang kami lalui,’’ ungkapnya. (yan/jif)
Editor : Ainul Hafidz