TANGGAL 18 November merupakan hari bersejarah bagi warga persyarikatan Muhammadiyah.
KH. Ahmad Dahlan yang nama kecilnya Muhammad Darwis di Yogyakarta pada tahun 1912 mendeklarasikan berdirinya organisasi yang saat ini menjadi salah satu terbesar di negeri ini.
Memilih nama Muhammadiyah artinya Pengikut Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga: Hadir di Milad ke-113 Muhammadiyah di Tembelang Jombang, Begini Pesan Bupati Warsubi
Ada dua alasan didirikannya Muhammadiyah.
Pertama, semangat merdeka yang menyala agar terlepas dari penjajahan, karena terlalu lama dijajah sehingga kehidupan negeri di bidang sosial, pendidikan, dan kesehatan sangat memprihatinkan.
Kedua, bahwa bersyarikat atau berorganisasi adalah perintah agama, antara lain dalam Alquran surat Ali Imron ayat 104 dengan misinya yaitu amar ma’ruf nahi munkar.
Pula terjadi ritual-ritual keagamaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, yaitu tahayul bid’ah dan khurafat.
Saat ini tahun 2025 sudah berusia 113 tahun, artinya bahwa sudah 1 abad lebih Muhammadiyah bersama masyarakat dan pemerintah membangun kesejahteraan bangsa, sebagaimana tema milad tahun ini.
Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, M Si., Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menegaskan bahwa tema ini mencerminkan fokus dan tekad Muhammadiyah untuk semakin memperkuat dan memperluas upayanya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tengah berbagai tantangan nasional, seperti kesenjangan sosial dan ekonomi.
Dengan tema ini, Muhammadiyah ingin memastikan bahwa kesejahteraan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat Indonesia.
Berdasarkan data, bahwa saat ini Muhammadiyah telah memiliki, 5.345 sekolah/madrasah.
Baca Juga: Demo Anarkis Bukan Solusi, NU dan Muhammadiyah di Jombang Kompak Serukan Jaga Kondusifitas
177 perguruan tinggi, 102 pondok pesantren,126 rumah sakit, 231 klinik kesehatan, 635 panti asuhan, 13.000 masjid musala, 437 lembaga keuangan.
Memiliki aset lahan 21 juta meter persegi, 28 kali lebih besar dari segara Singapura.
Total aset kekayaan sekitar 400 trilliun, termasuk urutan 4 ormas keagamaan terkaya di dunia yang 3 nomor sebelumnya milik-milik non muslim.
Mengapa aset Muhammadiyah nampak besar karena semua aset milik satu nama atau holding bukan Franchise.
Sedangkan keberadaan kepengurusan Muhammadiyah di Jombang pula telah dideklarasikan sebelum proklamasi kemerdekaan, yaitu pada tanggal 17 Mei 1924 atau 12 tahun setelah berdiri di Yogyakarta.
Adalah 3 serangkai yaitu Gus Rifai, Gus Salim, dan Gus Kusen, yang ketiganya putra KH. Mimbar Sambong.
Sebelum deklarasi, ketiga tokoh tersebut sowan dan memohon restu kepada KH. Bisri Syansuri Denanyar dan ke KH. Wahab Chasbullah Tambakberas.
Restu dari KH. Wahab Chasbullah akan berdirinya Muhammadiyah di Jombang bukanlah tanpa alasan.
Pertama, bahwa Yai Dahlan dan Yai Wahab adalah sahabat ketika sama-sama berguru kepada Syech Bakir di Makkah.
Kedua, dalam buku Tambak Beras Menelisik Sejarah Memetik Ukhuwah terdapat tulisan karya Ning Nidaus Sa’adah pada halaman 343-345, dinyatakan bahwa KH. Abdurrochim Chasbullah adik dari KH. Wahab Chasbullah telah beristri dengan keponakan KH. Ahmad Dahlan yaitu Nyimas Siti Wardliyah putri dari KH. Ma’shum seorang penghulu keraton Yogyakarta.
Bahkan Kiai Abdurrochim sempat tinggal beberapa waktu di Yogyakarta lalu diminta kembali ke Jombang setelah berdirinya NU tahun 1926 dan diserahi menjadi Ketua NU Tembelang.
Sampai saat ini dzuriyah Yai Abdurrochim masih ada di Tambak Beras.
Pada masa perkembangan Muhammdiyah di Jombang antara tahun 1940-1975, pula ada 3 nama yang turut andil yaitu KH. Zoechal Koesoemo, H. Abdul Rachim dan Hadikoesoesumo.
Nama pertama tersebut adalah putra ke tiga Ki Bagus Hadi Kusumo tokoh kemerdekaan pahlawan nasional anggota BPUPKI.
Nama kedua salah seorang pejabat Pemerintah Kabupaten pada masa Bupati R. Hasan dan Ismail (1962-1973).
Nama ketiga adalah ahli dalam memijat dan masuk dalam pengurus Laskar Hizbullah Batalion Jombang Bidang Kesehatan.
101 tahun usia Muhammadiyah di Jombang turut mensejahterakan bangsa khususnya bagi warga Jombang.
Tercatat 14 sekolah, 15 madrasah, 1 SLB , 35 lembaga pendidikan ‘Aisyiyah (PAUD), 184 masjid musholla, 2 panti asuhan, 4 klinik dan 3 rumah sakit, yaitu Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang, RSU PKU Muhamadiyah Mojoagung dan RSU. dr. Moedjito Dwidjosiswojo Jombang.
Sedangkan di bidang ekonomi, mengelola 4 lembaga keuangan, 1 kandang ayam pullet 30 ribu ekor, 10 green house (GH) melon 20 ribu pohon.
Muhammadiyah telah berusia 1 abad lebih, punya andil yang cukup turut mensejahterakan bangsa.
Apa yang telah dilakukan adalah murni untuk kepentingan bangsa.
Pesan yang populer KH. Ahmad Dahlan, hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah, menjadi semangat bagi warga Muhammadiyah menuju Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. (*)
Penulis:
Hadi Nur Rakhmad
Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jombang
Editor : Ainul Hafidz