JombangBanget.id - Dr. Siti Rahayu, M.Pd. ingin mengabdikan diri sepenuhnya dalam bidang pendidikan.
Tak bosan, ia mengajak dan memberikan motivasi kepada siswanya, mulai dari pendidikan karakter, hingga pembiasaan untuk mencintai alam.
Pada 2021, Rahayu mulai kuliah S3, dengan segala perjuangan yang ia lakukan.
Kini, ia telah mengantongi gelar doktor dengan nilai IPK 3,85 dan publikasi jurnal Scopus Q2.
Ia diwisuda pada 27 September 2025. Gelar ini ia raih dengan biaya mandiri, sementara pendidikan S2 di Unesa sebelumnya didapat dari beasiswa program RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional).
Bagi Rahayu, pendidikan bukan hanya soal gelar, tapi juga tentang membangun karakter.
”Pendidikan bagi perempuan itu sangat penting. Negara bisa hancur karena perempuan, tapi juga bisa kuat karena perempuan. Pendidikan karakter jauh lebih utama daripada sekadar akademik,” tegasnya.
Menjadi guru sekaligus ibu dari keempat putrinya Ucha, Kiki, Cantik, dan Imel, serta menjadi seorang mahasiswa program doktoral, memiliki tantangan tersendiri bagi Rahayu.
Sangat sulit dan berat. Namun semua telah dilalui dengan lancar. Meski harus rela bangun tengah malam untuk mengerjakan tugas dan hari libur Sabtu dan Minggu digunakan untuk bimbingan online.
”Semua bisa lancar dengan dukungan suami, pekerjaan rumah bagi tugas dengan suami, dan saya selalu melakukan tugas dan pergi ke mana pun dengan izin suami,” jelasnya.
Banyak ilmu yang ia dapatkan sekaligus selama S3, selain ilmu akademik, menempuh pendidikan S3 saat sudah jadi ibu dan guru menuntutnya harus bersifat jujur, disiplin, teliti, tanggung jawab, terbuka dan menerima kritikan serta masukan.
Selain berpendidikan tinggi, Siti Rahayu juga salah satu guru berprestasi. Ia pernah menjadi guru berprestasi mewakili Kabupaten Jombang jenjang SMA di tingkat Jawa Timur 2018, juara 2 OSN Guru 2019, serta juara 2 lomba menulis esai tahun 2020.
Dua kali lolos ikut seleksi penghargaan dalam rangka hari guru yang diselenggarakan P4TK IPA, Bandung.
Ia juga pernah menjadi ketua MGMP Biologi dan pengurus selama tiga periode, serta Ketua Perkumpulan Guru Biologi “Folia” Jawa Timur.
Di SMAN Mojoagung, ia aktif menjadi pembina OSN sejak 2011, pernah bergabung di PGRI Jombang, namun sekarang non-aktif karena studi S3, dan sering dijadikan narasumber di sekolah-sekolah.
Ia menambahkan, menjadi guru berarti menjadi teladan bagi siswa dan anak-anak.
Karena itu, ia terus belajar, menulis buku, dan melakukan penelitian. Hingga kini, ia telah menulis lima buku ber-ISBN, tiga di antaranya tentang OSN Biologi, satu kumpulan best practice, dan satu buku AKM hasil kolaborasi guru-guru MIPA Jombang.
”Saya suka menulis sejak sering ikut diklat-diklat sekitar tahun 2017 dan waktu itu ada tuntutan dari pemerintah namanya SAGU SAKU (satu guru satu buku),” jelasnya.
Sebagai guru, ia ingin menjadi teladan bagi seluruh muridnya. Salah satu hal yang ia contohkan adalah dengan mengajak siswa memanfaatkan alam untuk dilestarikan.
Sejak pagi Siti Rahayu, sudah sibuk di green house sekolah. Mengajarkan siswanya cara menanam dan merawat berbagai sayuran.
Dari cabai, sawi, dan lain sebagainya semuanya tumbuh subur di lahan sempit yang disulap menjadi laboratorium hidup.
”Indonesia adalah negara agraris. Anak-anak perlu tahu dan menghargai profesi petani. Sayangnya, generasi sekarang banyak yang merasa malu menjadi petani,” tutur Rahayu.
Program yang digagasnya ini menjadi bagian dari pembiasaan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Yaitu kegiatan belajar yang menanamkan nilai kerja keras, cinta lingkungan, dan tanggung jawab.
Menariknya, penilaian siswa tidak hanya dari teori, tetapi juga dari pertumbuhan tanaman dan hasil panen yang mereka dapatkan.
Kegiatan bertanam ini bukan sekadar tugas sekolah, tetapi juga latihan karakter. Melibatkan siswa langsung dalam menanam bakal menjadi bekal yang baik untuk siswa setelah lulus sekolah.
Tak heran, sosok Waka Sarpras ini jarang ditemui di ruangannya. Hampir setiap hari ia turun langsung ke lapangan, membimbing siswa dengan penuh semangat.
”Penilaiannya bisa dilihat dari pertumbuhan tanaman, hingga hasil panen, itu menunjukkan keseriusan masing-masing individu dalam merawat tanaman,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz