JombangBanget.id - Muhammad Ahmad Zukhruf merupakan warga Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang kini menempuh kuliah di Institute Fatimah Al Fihriyyah Maroko.
Keinginannya untuk memperdalam ilmu agama di Maroko sudah terwujud sejak 2024 lalu.
”Setelah lulus jenjang aliyah, saya inginnya mondok, tapi orang tua menginginkan saya untuk kuliah di luar negeri,” kata putra pasangan Irfan Sholeh dan Siti Fatehah ini.
Lahir dan besar di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Zukhruf memulai pendidikannya di MI Bahrul Ulum Tambakberas hingga 2017.
Setelah itu ia baru mulai nyantri dan bersekolah di MTs dan MA NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus sejak 2017-2023.
Lulus jenjang aliyah, ia tak langsung kuliah, karena ingin mempersiapkan diri ke Maroko. Ia belajar di pondok dan mengikuti seleksi beasiswa PBNU Maroko.
Maroko dipilih karena memiliki peluang yang besar untuk menempuh pendidikan.
Jumlah mahasiswa yang masih sedikit, dan dinilai menjadi tempat yang tepat untuk memperdalam ilmu Bahasa Arab.
”Di Maroko hanya ada sekitar 300 mahasiswa Indonesia yang disebarkan di seluruh Maroko,” jelasnya.
Ia kemudian mengikuti seleksi beasiswa PBNU Maroko. Secara garis besar, di Maroko ada dua sistem pendidikan.
Yang pertama adalah Ta’lim Ali, di mana pendidikan tinggi yang lebih modern, dan keilmuan yang dikaji lebih umum.
Baca Juga: Warga Jombang Kuliah di Yordania Ini Berbagi Kisah, Nikmati Kuliah sambil Belajar Berorganisasi
Yang kedua ada Ta’lim Atiq yang lebih kepada mempelajari pendidikan silam tradisional yang berfokus pada studi agama dan Bahasa Arab klasik.
”Kalau cari beasiswa, yang dicover Kemenag lebih kepada sistem pendidikan Ta’Lim Ali, sedangkan kalau mau ke Ta’Lim Atiq, ya seperti beasiswa PBNU ini, seperti yang saya jalani sekarang ini,” jelasnya.
Mode belajar di sistem pendidikan Ta’Lim Atiq juga sama seperti di pondok-pondok yang ada di Indonesia.
Zukhruf dapat mewujudkan keinginannya dan keinginan kedua orang tuanya sekaligus, dengan nyantri di Maroko.
Untuk dapat beasiswa tersebut, salah satu syarat utamanya adalah harus hafal Alquran 30 juz.
Menurutnya, ini lebih berat daripada syarat beasiswa Kemenag pada pendidikan Ta’lim Ali.
”Biasanya yang lain hafal 6 atau 2 juz juga tidak apa-apa kalau PBNU saklek harus 30 juz,” jelasnya.
Calon mahasiswa juga harus memiliki pemahaman ilmu syariat, seperti Nahwu Sorof, Fiqih, dan keilmuan lain yang diajarkan di pesantren.
Tidak harus mahir, tapi memahami pengetahuan dasar.
”Sebab yang ditanyakan tidak njelimet, tapi luas, minimal tahu muqodimah setiap keilmuan,” jelas pria yang ingin jadi pesepak bola ini.
Tes yang lain adalah Bahasa Inggris, Bahasa Prancis, dan Matematika.
Hanya saja tiga syarat ini tidak menjadi penilaian utama, utamanya kemampuan Bahasa Prancis, sering kali diberikan dispensasi.
Dalam perkuliahan bahasa yang digunakan adalah Bahasa Arab Fushah atau Bahasa Arab kuno.
”Di sini ada mata kuliah Bahasa Prancis, mau tidak mau ya belajar, karena mengajarnya juga pakai Bahasa Prancis, tapi lagi-lagi mahasiswa Indonesia dimaklumi,” ungkap pria kelahiran 20 Juli 2004 tersebut.
Yang membuatnya kagum dengan Maroko adalah kecerdasan warganya.
Sebab, dilihat dari keterampilan menggunakan bahasa, hampir semua orang di Maroko mahir menggunakan Bahasa Prancis, Bahasa Inggris, Bahasa Amazigh sekaligus mahir menggunakan Bahasa Arab fushah.
”Di mana Bahasa Arab fushah adalah Bahasa Arab yang kuno, biasanya hanya digunakan pada lingkungan akademisi, saya kira itu hanya dikuasai orang-orang tertentu, tapi ternyata semuanya memiliki kemampuan yang sama, meskipun itu hanya supir taksi, mereka menyesusaikan dengan bahasa yang kita gunakan,” jelasnya.
Zukhruf waktu seminggu pertama kuliah mengaku kesulitan memahami bahasa yang digunakan.
Bahkan ia baru merasakan nyaman mengikuti perkuliahan dan faham setelah tujuh bulan berjalan. Buku-buku yang ia baca juga seluruhnya berbahasa Arab fushah.
”Ada juga novel Bahasa Prancis yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Arab,” ungkapnya.
Saat ini, Zukhruf sudah menyelesaikan ujian tingkat satu atau setara dengan dua semester di Indonesia. S1 di Maroko juga hanya ditempuh dalam waktu tiga tahun saja.
Meski ujiannya beragam. Utamanya Ta’Lim Atiq, ada dua ujian akhir sekaligus, yaitu ujian nasional dan skripsi.
”Tugas akhir apa, sebetulnya terserah institusi masing-masing. Tapi secara umum kalau Ta’Lim Ali hanya skripsi saja, kalau ujian nasional di sini sama persis dengan ujian nasional di Indonesia,” jelasnya.
Selain mendalami ilmu agama, di Maroko ia juga aktif berorganisasi.
Sebagai pelajar asal Indonesia, ia masuk dalam anggota PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Maroko.
Ia juga masuk dalam anggota Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko.
Yang biasanya sering mengadakan kajian-kajian kitab, beberapa bulan sekali juga diadakan seminar-seminar.
Hari libur di Maroko cukup panjang, yaitu tiga bulan. Biasanya pelajar berkumpul di ibu kota untuk pemilihan ketua PPI baru.
Juga ada acara-acara lain seperti islamic cultural day, seperti pameran dan pertunjukan.
”Agustus berkumpul semua di ibu kota karena mahasiswa Indonesia menyebar se Maroko,” ungkapnya.
Jika ingin terus belajar, di Maroko juga ada kuttab yang berada di pedalaman-pedalaman Maroko. Seluruh pembiayaan belajar ditanggung oleh kerajaan.
”Kalau ingin belajar di sana tinggal sowan sama fatihnya atau kiainya, semua gratis makan biaya pendidikan juga gratis, tapi tidak ada ijazahnya,” ungkapnya.
Maroko memiliki empat musim yang kini masih dalam kategori musim semi. Cuaca cukup panas 30-40 derajat celcius.
”Kalau musim panas bisa sampai 45 derajat di Kota Fez, tempat tinggal saya. Tapi saya belum pernah merasakan musim panas. Biasanya kalau musim panas pada lari ke Rabat, yang lebih dingin,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz