BEBERAPA hari ini, suasana politik kita agak hangat. Sekelompok pensiunan jenderal angkat suara, menyampaikan pesan yang cukup tegas kepada Presiden terpilih, Prabowo Subianto.
Intinya: jangan terlalu dekat dengan Jokowi.
Di tengah arus utama harapan publik akan transisi kekuasaan yang mulus, suara ini terasa seperti rem tangan yang tiba-tiba ditarik saat mobil sedang melaju.
Wajar saja kalau ada keresahan. Para jenderal itu pasti punya pandangan dan pengalaman panjang soal kepemimpinan, keamanan, dan arah bangsa.
Tapi, tetap saja ada satu pertanyaan yang mengganjal di benak banyak orang: bukankah sudah waktunya para jenderal benar-benar beristirahat?
Pensiun bukan berarti berhenti peduli, tapi seharusnya jadi momen untuk melihat semuanya dari jarak yang lebih tenang.
Apalagi bagi mereka yang sudah bertahun-tahun berada di garis depan, pernah memimpin pasukan, pernah berhadapan langsung dengan ancaman terhadap negeri ini.
Pengalaman seperti itu tak ternilai. Tapi justru karena itu, harapan masyarakat adalah mereka bisa memberi contoh soal bagaimana menghadapi perubahan dengan kepala dingin.
Sekarang eranya sudah beda. Pemimpin tidak lagi muncul dari deretan pangkat, tapi dari suara rakyat.
Dan rakyat sudah memilih: Prabowo-lah yang diberi amanat.
Maka ketika ia mengambil keputusan politik, termasuk untuk tetap merangkul atau melanjutkan program-program era Jokowi, itu bagian dari hak prerogatifnya.
Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Mungkinkan PTN Kembali ke Khitah
Itu bukan soal “terlalu dekat” atau “terlalu lemah”, tapi soal menghormati keberlanjutan dan menjaga stabilitas.
Kalau ada yang tidak setuju, ya silakan saja, namanya juga demokrasi. Tapi
menyuarakannya dalam 8 pernyataan sikap dengan nada ultimatum dari masa lalu, rasanya kok kurang siipp.
Mungkin yang bikin gelisah bukan hanya soal Jokowi. Bisa jadi, ini soal perubahan zaman yang terasa makin cepat dan makin sulit dikendalikan. Dulu, semua terasa lebih tertib.
Satu komando, satu suara. Sekarang? Banyak suara, banyak saluran, banyak cara.
Dan bagi mereka yang terbiasa hidup dalam kerangka disiplin militer, dunia sipil yang penuh debat dan kompromi mungkin terasa seperti kekacauan.
Tapi ya begitulah demokrasi. Berisik, kadang bikin pusing, tapi itulah harga dari kebebasan.
Dan generasi sekarang sedang belajar menjalankannya. Bukan tanpa salah, tapi setidaknya tanpa represi.
Itulah kenapa penting bagi para jenderal yang sudah purnawirawan untuk mengambil peran baru—bukan sebagai pemain, tapi sebagai penonton yang bijak.
Memberi masukan seperlunya, menjaga marwah, tapi tidak lagi merasa harus ikut mengarahkan semua arah.
Jujur saja, bangsa ini sudah cukup lelah dengan konflik elite. Di bawah, rakyat butuh kepastian bahwa kepemimpinan ke depan bisa berjalan mulus, tanpa sandungan dari dalam.
Kalau yang muncul malah tekanan dari mereka yang dulu pernah memegang tongkat komando, bukankah itu justru menambah keruh air?
Padahal, justru sekaranglah saatnya untuk tampil sebagai peneduh. Para jenderal bisa menjadi simbol kedewasaan politik, bukan bagian dari kegaduhan.
Masyarakat masih sangat menghormati suara merek. Maka dari itu, alangkah patriotisnya bila suara tersebut digunakan untuk menenangkan, bukan menggelisahkan.
Bukan berarti harus diam. Tapi mungkin bisa lebih selektif bicara. Karena kadang, diamnya seorang tokoh besar bisa lebih berpengaruh daripada teriakannya.
Ada banyak cara untuk mencintai negeri ini. Tidak semua harus dilakukan dari atas mimbar atau media.
Ada kalanya, memberi ruang untuk generasi baru juga bentuk cinta yang paling tulus.
Biarkan mereka berproses, berbuat, bahkan mungkin berbuat sedikit kesalahan. lalu belajar untuk menjadi lebih baik.
Jadi, Jenderal -dengan segala hormat dan rasa cinta- saya mohon istirahatlah. Tenanglah.
Duduklah sejenak, nikmati pagi, lihat bagaimana negeri ini terus tumbuh, meski tanpa komando Anda lagi.
Kami tahu Anda semua masih peduli. Tapi sekarang, mungkin saatnya menunjukkan kepedulian itu dengan memberi contoh tentang cara melepas kendali dengan elegan.
Mari kita doakan, semoga negeri ini baik-baik saja. Terima kasih atas semua jasa dan pengorbanan Anda. Sekarang, biarlah giliran yang muda menapaki jalan sejarahnya.
Salam sehat penuh rahmat. (*)
Editor : Ainul Hafidz