Karya: Salsa Zya Titis Firmansyah, dkk
UIN Satu Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Jombangbanget.id - Di suatu malam, Jeki dan Sarto pergi berburu burung puyuh di hutan. Suara burung gagak menambah kesan seram malam itu.
"Serem amat sih malam ini," kata Jeki. "Udah diem aja, jangan nakut-nakutin," jawab Sarto. Setelah 30 menit berjalan, hawa di sekitar terasa berbeda.
"Jek, lu ngerasa ada yang beda ga?" tanya Sarto. "Iya, makin serem aja," jawab Jeki.
Tiba-tiba, Jeki tersandung. "Aduh, sakit banget!" keluhnya. Mereka pun lanjut perjalanan tapi anehnya banyak sekali sesajen.
Selang beberapa lama, Sarto menyenggol sesajen, membuat burung gagak beterbangan. "Lu ngapain sih? Itu sesajen!" teriak Jeki.
"Gua ga sengaja!" jawab Sarto. Mereka terheran-heran kenapa banyak sekali sesajen, dan Jeki pun teringat bahwasanya malam itu adalah malam satu Suro.
Tiba-tiba, Sarto melihat burung puyuh dan mengejarnya tanpa memberitahu Jeki. Di semak-semak, ia melihat ular putih besar yang tiba-tiba berubah menjadi perempuan cantik.
"Akhh!!" teriak Sarto saat sosok itu berbalik menunjukkan wajah menyeramkan. Jeki berlari, tetapi Sarto terjerat ular. "Jek, tolongin gua!" teriak Sarto.
Jeki bingung dan takut, "Udah, berserah sama Tuhan aja!"
Setelah menjauh, Jeki terjatuh dan berlari keluar dari kabut hutan. Ia melihat Sarto dari jauh, yang ternyata berhasil lepas dari ular.
Namun, wajah Sarto pucat dan aneh. Mereka pun tiba di desa yang sepi sekali, dan penduduknya memiliki wajah pucat dan datar.
Jeki merasa aneh dan bertanya kepada Sarto, namun Sarto tidak menanggapi pertanyaan Jeki.
Di rumah kerabat Sarto, mereka bertemu kakek tua yang menyeramkan.
Jeki bertanya tentang desa itu kepada kakek tersebut, namun pertanyaan Jeki justru membuat kakek itu marah dan menunjukkan wujud aslinya sebagai siluman ular saat di hutan tadi.
Jeki pun berlari, tetapi Sarto justru menariknya kembali kedalam rumah. Jeki pun ketakutan saat melihat Sarto berubah menjadi ular dan melarikan diri.
Ia berlari sekencang-kencangnya dan berdoa memohon pertolongan kepada Tuhan agar selamat.
Tanpa sengaja ia tersandung dan jatuh hingga tidak sadarkan diri.
Jeki terbangun di rumah warga, terkejut mendengar bahwa ia tidak sadar selama tujuh hari. "Sarto?! Ya ampun!" teriaknya saat melihat tubuh Sarto yang terbujur kaku.
"Jiwanya sudah diambil para siluman," kata warga.
Jeki menangis meratapi kehilangan sahabatnya. "Semoga jiwa lu bisa bebas dari siluman itu, dan lu bisa tenang di alam sana" ucapnya sambil menangis tersedu-sedu dan pilu.
Editor : Ainul Hafidz