JombangBanget.id – Momentum kampanye, dimanfaatkan Siti Atikoh Supriyanti istri Capres Ganjar Pranowo untuk berkomunikasi dengan warga Jombang.
Saat blusukan ke Pasar Bareng, Jombang ia menyempat untuk sarapan pecel bersama warga sekaligus menyerap aspirasi para pedagang, Senin (29/1) pagi.
Atikoh tampak jadi sumber perhatian masyarakat saat datang ke Pasar Bareng dengan berjalan kaki.
Wajahnya tampak fresh dengan paduan baju putih dan kerudung pink.
Setiba di Pasar Bareng, ia kemudian masuk ke beberapa lorong lapak.
Selain menyapa warga, Atikoh juga membeli dagangan warga.
Mulai pedagang sayur, buah, daging, ayam potong sampai bumbu dapur.
Tak sedikit yang memanfaatkan momen ini untuk swafoto bersama.
Di depan pedagang, Atikoh juga menerima curhatan terkait bangunan dalam pasar yang bocor dan perlu rehab.
”Ini ada aspirasi dari pedagang terkait infrastruktur. Karena ini baru hujan, jadi agak becek. Tapi sudah ada rencana untuk rehab," ujar Atikoh.
Ia menyampaikan alasannya blusukan ke pasar tradisional karena untuk menampung aspirasi masyarakat.
Baca Juga: Jurus Jitu TPK Jombang Menangkan Ganjar-Mahfud, Gencar Sosialisasikan Program Pengentasan Kemiskinan
Menurutnya, para pedagang rata-rata mengeluhkan tingginya harga kebutuhan pangan hingga pasokan barang di pasar.
Ia juga mendengarkan keluhan yang sama di Pasar Bareng.
”Untuk memperbandingkan dari tiap-tiap daerah apakah keluhannya sama? Ternyata hampir sama, dari sisi kestabilan harga. Tadi juga ada keluhan pedagang soal harga jagung yang tinggi sekali,’’ terangnya.
Usai blusukan dan memborong nasi pecel yang ada di Pasar Bareng untuk sarapan bersama.
Rombongan Atikoh bergerak ke Pabrik sepatu untuk menyapa pekerja dan menyaksikan langsung produksi sepatu-sepatu buatan pekerja yang dijual ke luar negeri.
Hasil dari blusukannya ke Jombang akan disampaikan kepada suaminya Ganjar.
Ia berharap, keluhan masyarakat yang didapat selama di Jatim bisa direalisasikan pasangan capres Ganjar-Mahfud.
”Pertama, terkait harga kebutuhan yang masih tidak stabil di beberapa tempat. Kedua, petani yang mengeluhkan pupuk bersubsidi sulit mengakses. Ketiga, penyerapan tenaga kerja. Kemudian terkait dengan pendidikan. Itu highlight yang bisa saya tulis," pungkasnya. (ang/bin)
Editor : Ainul Hafidz