Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Begini Serangkaian Acara Haul Gus Dur ke-14 di Jombang, Gelar Diskusi hingga Gali Nilai Luhur 2 Tokoh Besar

Achmad RW • Senin, 18 Desember 2023 | 14:20 WIB
KENANG GUS DUR: (Dari kiri) Emma Rahmawati, Akhol Firdaus dan Masruroh saat memimpin diskusi meneladani etika demokrasi Gus Dur di Minha Sabtu (16/12) siang.
KENANG GUS DUR: (Dari kiri) Emma Rahmawati, Akhol Firdaus dan Masruroh saat memimpin diskusi meneladani etika demokrasi Gus Dur di Minha Sabtu (16/12) siang.

JombangBanget.id - Puluhan masyarakat dan aktivis menggelar diskusi meneladani etika demokrasi Gus Dur di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (Minha), Sabtu (16/12) siang.

Gus Dur diungkapkan sebagai peletak sejumlah pondasi demokrasi kemanusiaan.

Suasana berbeda terlihat di selasar lantai 2 Minha Jombang.

Puluhan orang mulai mahasiswa, aktivis perempuan, disabilitas, aktivis lintas iman hingga Gusdurian berkumpul.

Dimulai dengan menonton bareng film “Di Bawah Bendera Demokrasi” sebuah film dokumenter yang berisi banyak bercerita tentang hidup Gus Dur dengan upayanya membumikan demokrasi yang berkemanusiaan di Indonesia.

Seluruh hadirin, tampak khidmat mengikuti film yang diputar itu.

Banyak murid, anak ideologis dan sahabat Gus Dur yang bersaksi bagimana Gus Dur punya peran penting dalam kehidupan demokrasi kemanusiaan di Indonesia.

Setelah 45 menit selesai, diskusi dibuka Masruroh Korwil Jaringan Gusdurian Jawa Timur, yang didapuk menjadi moderator.

Pemateri pertama Emma Rahmawati Pengasuh Pondok Pesantren Seblak, membuka kesaksian Gus Dur yang masih keluarganya.

“Saat Gus Dur masih hidup, saya masih berusia sangat muda, dua kali bertemu langsung dalam forum keluarga yang artinya tidak intens sekali,” ungkap Emma.

Secara perlahan, dia menjadi tahu jika Gus Dur meletakkan pondasi penting dalam kehidupan demokrasi dan bernegara.

Baca Juga: Cerita Ari F Dewi Alumnus UI yang Kini Kuliah di Asutralia

Khususnya pada keberpihakan kaum perempuan.

“Saat saya dewasa dan fokus di bidang perlindungan perempuan, saya sadar ternyata betapa besar peran Gus Dur. Memang Gus Dur hanya memerintah 2 tahun, tapi beliau meletakkan dasar kesetaraan gender di institusi negara ini,” ungkapnya.

Misalnya, melalui Inpres Pengarusutamaan Gender, Gus Dur meletakkan pondasi aturan yang akan sangat ramah dan pro perempuan di kehidupan pemerintahan dan kebijakan pemerintah.

Inpres itu kemudian jadi rujukan kebijakan ramah lingkungan.

“Bagi saya tidak berlebihan jika menyebut Gus Dur adalah salah satu pembela hak perempuan,” lontar Emma serius.

Hal fundamental lain yang dilakukan Gus Dur untuk menunjukkan keberpihakannya pada perempuan, wujud kesetiaan kepada pasangan.

Emma menegaskan, Gus Dur tokoh agama dari pesantren yang enggan berpoligami di saat banyak tokoh agama di pesantren melakukannya.

“Gus Dur penentang poligami. Beliau benar-benar tidak mau, karena beberapa kesempatan itu datang kepadanya dan beliau katakan tidak, dan sikapnya tak pernah berubah sampai akhir hayat beliau,” tambahnya.

Karena itu banyak hal yang diletakkan pondasinya oleh Gus Dur dan perlu terus diteruskan perjuangannya.

Terutama dalam berdemokrasi dan keberpihakan kepada perempuan.

“Gus Dur sudah meneladankan, saatnya kita melanjutkan,” tegas dia.

Sementara itu, pemateri kedua Akhol Firdaus, juga memberikan kesaksian soal banyaknya pelajaran demokrasi kemanusiaan dari Gus Dur.

Khususnya keberpihakan Gus Dur terhadap kalangan minoritas.

Peninggalan Gus Dur inilah yang menurutnya sangat penting diteladani.

“Perjuangan menatap Indonesia lebih ramah kepada semua kelompok,” lontarnya.

Gus Dur disebut mewakafkan dirinya ke Indonesia seumur hidup.

“Beruntung kita punya tokoh yang seumur hidup mengijabahkan diri untuk Indonesia lebih adil. Sebagai bangsa, sebagai umat Islam kita beruntung mewarisi mutiara pemikiran Gus Dur,” tambah dia.

Direktur Institue for Javanese Islam Research (IJIR) ini juga menyebut, Gus Dur meletakkan pondasi besar saat memimpin NU.

Menurutnya, Muktamar Situbondo 1984 dengan Gus Dur terpilih sebagai ketua, titik anjak besar bagi perkembangan intelektual Indonesia.

“Cara Gus Dur mengubah wajah Islam di Indonesia, juga demokrasi di Indonesia luar biasa melalui Muktamar Situbondo. Merintis bagaimana anak santri, tidak hanya pulang dari pondok lalu jadi kiai. Santri harus dididik pendidikan tinggi,” lontarnya.

Itu diwujudkan Gus Dur dengan berbagai macam cara. Mulai beasiswa untuk kelas menengah ke bawah. Hasilnya pun luar biasa.

“Di akhir 1990-an, LSM pemikiran yang dinahkodai anak muda NU tumbuh. Anak muda NU yang dulu hanya belajar kitab kuning kemudian membaca feminis, Mark, Durkheim dan pemikir islam kontemporer,” tambah dia.

Dengan cara itu, Gus Dur melahirkan banyak pemikir islam dari kalangan NU, mulai kalangan anak-anak petani yang dulu sangat sulit mendapat akses tersebut.

“Hasil engineering Gus Dur melahirkan kelompok Civil Society yang mampu mengimbangi kekuatan negara yang overpower,” lontar dosen UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung ini.

Akhol berharap momentum kelahiran civil society yang telah dirintis Gus Dur harus terus dilanjutkan.

Baca Juga: Ini Wisata Terbaru di Wonosalam Jombang, Bisa Jadi Referensi Pecinta Hiking  

Civil society ala Gus Dur yang diharapkan jadi alat penyeimbang kekuatan negara dan harus terus dijaga.

“Sebagai pewaris Gus Dur, kita harus mengembalikan civil society tetap berjarak dengan instrumen negara. Dan menjaga keseimbangan, tugas Gusdurian jadi lebih sulit,” tegas dia.

Sementara itu, Kepala Minha Jombang Wicaksono Dwi Nugroho, menyampaikan diskusi itu bagian dari rangkaian Haul Gus Dur ke-14.

Tujuannya, untuk menggali nilai luhur dari tokoh besar sekaligus Presiden RI ke-4 asal Jombang tersebut.

“Di Minha kami punya modal dua tokoh besar, KH Hasyim Asy’ari dan Gus Dur. Inilah yang harus digali terus nilai mereka berdua agar jadi pelajaran penting untuk semua. Ini memang kegiatan pertama, namun diharapkan akan jadi agenda rutin ke depan,” pungkasnya. (riz/bin/fid) 

Editor : Ainul Hafidz
#gus dur #perempuan #civil society #Jombang #gusdurian