Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Rolak 70, Bendungan Terbesar di Jombang yang Kini Terlupakan

Jombang Banget • Sabtu, 10 Juni 2023 | 16:55 WIB
Kondisi bangunan rolak 70 di tahun 1925
Kondisi bangunan rolak 70 di tahun 1925
JOMBANG - Desa Bugasurkedaleman, Kecamatan Gudo, punya bangunan peninggalan kolonial sangat besar. Rolak 70 namanya. Bendungan terbesar di Kabupaten Jombang ini, masih jadi tumpuan penting, untuk sejumlah saluran besar di Jombang. Sayang, kondisinya masih tak terawat hingga kini.

Rolak 70, berada di perbatasan antara wilayah Jombang dan Kediri. Sisi luar bendungan dan pintu air, masuk wilayah Desa Bugasurkedaleman, Kecamatan Gudo. Namun sebagian besar sisi dalam bendungan, masuk wilayah Kediri.

Nama 70 sendiri, berasal dari banyaknya pintu air di bendungan yang jumlahnya 70 buah. Dalam sebuah foto  tahun 1925, terlihat jelas, bagaimana bendungan ini sangat megah dan luas. Bangunan pintu airnya berupa struktur batu kali yang berderet melengkung.

Setiap pintu air, dihubungkan dengan jembatan kecil yang bisa digunakan untuk melintas. Ada juga penyangga di sisi kanan jembatan kecil. Fungsinya, tempat alat pembendung. Hingga kini belum diketahui pasti tahun berapa rolak 70 ini dibangun.

Sejak awal dibangun, bendungan ini memiliki fungsi penting sebagai pengatur utama debit Sungai Konto Kediri. Khususnya yang akan melintas di wilayah Jombang. Seluruh pintu air itu berfungsi untuk membagi aliran sungai konto ketika banjir datang. Maklum saja, Sungai Konto Kediri sering banjir karena hulunya ada di dua pegunungan besar, Malang dan Kelud di Kediri, karena itu butuh bangunan pembagi air.

Setiap kali Konto Kediri debitnya tinggi, saat bendungan masih berfungsi, maka air akan dibagi masuk ke sisi kiri rolak 70. Di sinilah, air akan ditampung terlebih dahulu sehingga tak seluruh luapan air Konto Kediri masuk ke Jombang. “Jadi sebagai stabilizer dengan pembagian air itu, arusnya tidak akan besar, juga berguna untuk pengarian sawah di sekitar Gudo, jadi air terkontrol,” terang Imam Bustomi, Sekretaris Dinas PUPR Kabupaten Jombang.

Sayang, usai kemerdekaan bendungan besar ini lebih banyak tak terpakai dan tak terawat. Bagian bendungan sempat dipenuhi pasir ketika Sungai Konto jadi jalur erupsi Gunung Kelud. “Sampai kemudian bendungan beralih fungsi, banyak orang mulai cari pasir di dalam bendungan,” tambah dia.

Kondisi ini berlangsung sampai sekarang. Rolak 70 kini makin memprihatinkan,  seluruh pintu air nya sudah rusak. Jembatan penghubung juga sudah hilang. Seluruh pintu air, bahkan sempat tertutup tumpukan sampah kayu dan tanaman lain. Namun, setelah pembersihan, kondisinya kini sudah lebih bersih, meski kerusakannya belum banyak tersentuh perbaikan.

Kondisi di dalam waduk, bahkan lebih mengenaskan. Karena keberadaan galian pasir yang tak terkendali, seluruh dalam waduk sangat dalam. Bahkan kedalamannya tak bisa lagi berimbang dengan Sungai Konto. “Kalau di dalam waduk mulai 12-30 meter, padahal Konto maksimal di 10 meter,” lontar Bustomi.

Akibatnya, nyaris setiap tahun, Rolak 70 jadi penyebab banjir untuk kawasan Perak dan Bandarkedungmulyo. Perbedaan elevasi dalam kolam rolak 70 dan Konto, membuat tanggul sisi dalam waduk kritis dan mudah jebol. Arus yang masuk bendungan pun jadi makin deras. Ditambah hilangnya sejumlah pengendali pintu air, menyebabkan air banjir dari Sungai Konto sulit dikendalikan. (riz/rw) Editor : Jombang Banget
#Bendungan #Rolak 70 #Gudo #Bugasurkedaleman #Jombang