JombangBanget.id - Semangat Raden Ajeng Kartini terus hidup, menyesuaikan zaman.
Jika dulu Kartini berjuang membuka akses pendidikan bagi perempuan, kini tantangannya bergeser, bagaimana perempuan berani tampil, percaya diri, dan mengambil peran strategis di berbagai lini kehidupan.
Nilai itu menjadi napas pengabdian Supartini, S.Sos., MM, Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang. Bagi dia, Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum refleksi sekaligus penguatan kapasitas perempuan di era modern.
”Hari Kartini adalah momentum untuk mendorong perempuan agar lebih percaya diri, berpendidikan tinggi, dan berani berkarya di berbagai sektor,” ujarnya.
Dalam kesehariannya, Supartini berada di garda depan penguatan sumber daya manusia pendidikan.
Baca Juga: Kartini Masa Kini! Rektor UPJB Dorong Perempuan Harus Melek Digital dan Mandiri
Ia aktif membangun semangat para tenaga pendidik, khususnya perempuan, agar tidak ragu menunjukkan kemampuan terbaiknya. Menurutnya, peluang saat ini sudah terbuka lebar. Tinggal bagaimana perempuan berani melangkah dan mengambil kesempatan tersebut.
”Perempuan harus berani berkontribusi nyata, berinovasi, dan mewujudkan ide-ide kreatifnya, terutama di dunia pendidikan,” tegasnya.
Upaya itu ia lakukan melalui berbagai cara. Mulai dari memberikan motivasi, pendampingan, hingga apresiasi bagi tenaga pendidik berprestasi.
Baginya, pengakuan atas capaian sekecil apa pun dapat menjadi pemantik kepercayaan diri perempuan untuk terus berkembang.
Karier Supartini sendiri bukan perjalanan instan. Ia memulai langkahnya sejak 1998 sebagai pelaksana di SKB Ngoro.
Dari titik itu, ia mengenal dunia pendidikan nonformal sekaligus membangun fondasi pengabdian.
Perjalanan berlanjut saat ia bergabung di Dinas Pendidikan. Seiring waktu, dedikasi dan konsistensinya membuahkan kepercayaan. Pada 2021, ia dipercaya menjabat Kepala Subbagian Umum dan Kepegawaian.
Dua tahun kemudian, ia mengemban tugas sebagai Kepala Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter Siswa SD. Hingga akhirnya, pada 2026, ia menempati posisi strategis sebagai Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan.
Perjalanan tersebut ditopang latar belakang pendidikan yang kuat.
Ia mengawali pendidikan di SDN Candimulyo 3, melanjutkan ke SMPN 2 Jombang dan SMKN 1 Jombang jurusan Perkantoran. Semangat belajarnya membawa ia menempuh studi Administrasi Negara di Universitas Wijaya Putra, lalu melanjutkan magister Manajemen Sumber Daya Manusia di Universitas Dr. Soetomo.
Baca Juga: Kartini Zaman Now! Kepala SMKN Kudu Jombang Ini Ungkap Makna Emansipasi di Era Modern
Baginya, pendidikan adalah kunci utama dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan. Perempuan yang berpendidikan tidak hanya mampu mengembangkan diri, tetapi juga berperan besar dalam membentuk kualitas generasi.
Dalam lingkup keluarga, perempuan menjadi pendidik pertama yang menanamkan nilai dan karakter sejak dini. Sementara di lingkungan pendidikan, perempuan hadir sebagai sosok inspiratif dalam mentransfer ilmu pengetahuan.
Supartini juga menekankan pentingnya kemandirian perempuan di era modern. Kemandirian, menurutnya, bukan berarti meninggalkan peran sebagai istri atau ibu, melainkan kemampuan untuk menentukan arah hidup dan bertanggung jawab atas pilihan yang diambil.
”Dengan kemandirian, perempuan akan lebih percaya diri, bahagia, dan mampu berdiri secara finansial tanpa melupakan perannya dalam keluarga,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa proses belajar tidak hanya berlangsung di bangku sekolah.
Perempuan dapat berkembang melalui berbagai ruang, mulai dari keluarga, komunitas pemberdayaan, organisasi sosial dan keagamaan, hingga lingkungan pergaulan yang positif.
Di tengah kesibukannya sebagai pejabat publik, Supartini tetap menjaga perannya sebagai ibu. Ia tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga emosional bagi anak-anaknya.
Momen sederhana seperti berolahraga pagi sambil mendampingi anak bersepeda menjadi cara menjaga kedekatan keluarga.
Bagi Supartini, perempuan masa kini harus berani melampaui batas yang ada, sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai keluarga.
Ia percaya, ketika perempuan berdaya, dampaknya akan meluas, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat.
Ia pun berharap semakin banyak perempuan yang berani bermimpi besar dan mengambil peran sebagai agen perubahan di lingkungannya.
”Perempuan harus terus menggali potensi, berdaya, dan mampu memberikan dampak positif, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz