JombangBanget.id – Semangat Raden Ajeng Kartini terus hidup dalam kiprah perempuan masa kini.
Salah satunya tecermin dari perjalanan karier Maria Ulfah, S.Hut, MM, perempuan kelahiran Jombang, 16 April 1974, yang konsisten berkontribusi di berbagai sektor pemerintahan hingga pendidikan.
Bagi Maria Ulfah, Hari Kartini tidak lagi dimaknai sekadar seremoni mengenakan kebaya, melainkan refleksi perjuangan emansipasi perempuan agar semakin mandiri, berpendidikan, dan setara dalam berkarya di berbagai bidang.
”Kartini masa kini adalah perempuan yang berani mengambil peran, memiliki akses pendidikan, dan mampu berkontribusi nyata di berbagai sektor,” ujarnya.
Perjalanan kariernya menunjukkan hal tersebut. Lulusan S-1 Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor dan S-2 Magister Manajemen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya ini mengawali karier sebagai teknisi kehutanan di bidang konservasi tanah.
Ia kemudian menapaki berbagai posisi strategis, mulai dari staf di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Jombang, hingga menduduki sejumlah jabatan di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).
Di Bappeda, ia pernah menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Pengembangan Ekonomi Wilayah, Kepala Sub Bidang Industri, Perdagangan, Koperasi, Usaha Mikro, Ketenagakerjaan dan Transmigrasi, serta Kepala Sub Bidang Pengembangan Dunia Usaha dan Pariwisata.
Kariernya terus berkembang dengan menjadi Kepala Seksi Pemasaran dan Pengembangan Usaha Tanaman Pangan, Perkebunan dan Hortikultura di Dinas Pertanian, hingga dipercaya sebagai Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia di Bappeda.
Saat ini, ia mengemban amanah sebagai Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Non Formal di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, posisi yang semakin menegaskan peran strategisnya dalam membangun kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, perempuan memiliki peran kunci dalam pembangunan bangsa, terutama di bidang pendidikan.
Perempuan bukan hanya pendidik utama di rumah, tetapi juga guru profesional dan agen perubahan sosial yang memperkuat karakter generasi.
”Mendidik perempuan sama dengan membangun satu generasi,” tegasnya.
Ia juga menilai perempuan dapat berkontribusi luas dalam pembangunan, mulai dari pemberdayaan ekonomi, pengambilan kebijakan, hingga penguatan pendidikan dan kesehatan masyarakat.
Karena itu, kemandirian perempuan menjadi hal yang sangat penting, baik secara finansial, emosional, maupun sosial.
”Kemandirian membuat perempuan memiliki kontrol atas hidupnya, siap menghadapi situasi tak terduga, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri dan posisi tawar,” jelasnya.
Meski demikian, ia menekankan, kemandirian tetap harus seimbang dengan peran sebagai ibu dan istri dalam keluarga.
Dalam hal pendidikan, Maria Ulfah menyebutnya sebagai fondasi utama bagi perempuan. Selain pendidikan formal, perempuan juga dapat berkembang melalui pendidikan nonformal seperti kursus keterampilan, pelatihan kewirausahaan, hingga literasi digital.
Di tengah kesibukannya, ia tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas.
Perannya sebagai ibu dijalani dengan menjadi tempat berbagi bagi anak-anak, serta membangun komunikasi rutin bersama keluarga.
Bahkan, momen sederhana seperti berbincang selepas salat isya, ziarah ke makam orang tua, hingga waktu bersama keluarga dimanfaatkan untuk memperkuat nilai-nilai kehidupan.
Ke depan, ia berharap perempuan Indonesia memiliki kesetaraan akses dan kesempatan di semua sektor pembangunan, tanpa melupakan peran dalam keluarga.
”Perempuan harus bisa berdaya, mandiri, dan berkontribusi, sekaligus tetap menjaga harmoni dalam keluarga,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz