JombangBanget.id - Nungki Eka Permata Sari AMdFt, fisioterapis RSUD Kabupaten Jombang punya cara pandang tersendiri dalam memaknai Hari Kartini.
Ia menilai perempuan harus berpendidikan sebagai cara mewujudkan generasi emas.
Perempuan kelahiran Banyuwangi, 20 Maret 1992, ini melihat Hari Kartini bukan sekadar peringatan tahunan.
Lebih dari itu, menjadi bentuk apresiasi atas kehadiran dan peran perempuan yang kini semakin luas dan setara di berbagai bidang.
Baca Juga: Hari Kartini, Kepala SMAN Kesamben Jombang Ajak Perempuan Lebih Mandiri dan Percaya Diri
’’Hari Kartini adalah bentuk penghargaan terhadap peran dan kesetaraan perempuan. Dulu terasa mustahil, sekarang banyak hal sudah bisa dicapai perempuan,’’ katanya.
Menurutnya, salah satu makna penting Kartini adalah perubahan cara pandang terhadap pendidikan perempuan.
Jika dulu pendidikan menjadi hal yang terbatas, kini justru menjadi kebutuhan utama.
’’Pendidikan bukan lagi hal tabu bagi perempuan, tapi keharusan. Karena ibu adalah dunia pertama bagi anak-anak,’’ tegasnya.
Ia menilai, kualitas generasi masa depan sangat ditentukan dari perempuan sebagai madrasah pertama dalam keluarga.
Untuk itu, perempuan harus memiliki bekal pendidikan yang baik, baik secara akademis maupun moral.
Sebagai tenaga kesehatan, Nungki juga melihat perempuan memiliki peran penting dalam pembangunan, khususnya di bidang kesehatan.
Ia percaya perempuan memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi dan potensi besar untuk berkembang.
Dalam upaya menggerakkan perempuan, ia menekankan pendekatan yang lebih komunikatif dan menyentuh sisi emosional.
Menurutnya, perempuan lebih mudah tergerak jika dilibatkan secara langsung dan diberi pemahaman yang utuh.
’’Perempuan itu dekat dengan cerita. Kalau pembangunan dikemas dalam cerita yang menarik dan mereka dilibatkan langsung, pasti lebih mudah bergerak bersama,’’ jelasnya.
Perempuan membutuhkan ruang, kesempatan, serta dukungan nyata agar mampu berkontribusi secara maksimal.
Dengan pendekatan yang tepat, perempuan akan mampu memberikan yang terbaik di lingkungannya.
Lulusan D3 Fisioterapi Universitas Indonesia ini juga menilai, perempuan masa kini harus berani mengambil peran dan terus mengembangkan diri.
Dunia kesehatan menjadi salah satu ruang penting bagi perempuan untuk berkarya sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.
Melalui profesinya, Nungki berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi pasien sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Baginya, semangat Kartini tidak hanya tentang kesetaraan, tetapi juga tentang keberanian untuk terus belajar, beradaptasi, dan memberi kontribusi nyata.
’’Perempuan akan selalu bisa berkembang, selama diberi kesempatan dan didukung,’’ tandasnya. (ang/jif)
Editor : Ainul Hafidz