JombangBanget.id - Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi saat ini, Tita Aniqowardani SPd memandang pendidikan agama dan moral bagi anak usia dini merupakan fondasi yang tidak bisa ditawar.
Masa PAUD adalah fase paling sensitif dalam pembentukan karakter.
Saat anak-anak sedang berkembang secara sosial dan emosional.
Karena itu, nilai moral harus diajarkan dengan cara yang menyenangkan, dekat dengan dunia anak, dan mampu menyentuh hati mereka.
Metode paling efektif untuk menanamkan nilai keimanan dan etika melalui cerita, dongeng, panggung boneka.
Hingga tayangan edukatif bergambar yang menampilkan keteladanan para nabi.
Dari situ, anak-anak belajar tentang kejujuran, kasih sayang, dan budi pekerti tanpa merasa digurui.
Ia juga menekankan pentingnya pembiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Seperti berdoa sebelum dan sesudah melakukan aktivitas. Melafalkan surat-surat pendek.
Membalas salam. Bersalaman dengan orang yang lebih tua, hingga ikut serta dalam praktik ibadah bersama orang tua.
Semua ini bukan sekadar rutinitas, tetapi sarana pembentukan karakter religius yang tertanam kuat sejak kecil.
Baca Juga: Tanamkan Moral Sejak Dini, Ketua Himpaudi Kabuh Jombang Ini Perkuat Pendidikan Karakter PAUD
Nilai sopan santun diperkenalkan melalui empat kata sederhana namun bermakna.
Tolong, maaf, terima kasih, dan permisi. Dengan cara inilah, anak-anak belajar mengenai kejujuran, empati, dan kepedulian terhadap sesama.
Tita juga mengintegrasikan permainan peran seperti bermain rumah-rumahan atau menjadi koki kecil.
Agar anak bisa memahami arti tanggung jawab, kebersamaan, dan perhatian terhadap orang lain.
Lagu-lagu keagamaan serta nyanyian bertema moral turut menjadi sarana yang efektif karena mudah diingat dan disenandungkan anak-anak sepanjang hari.
Bagi Tita, pendidikan moral pada anak usia dini harus dilakukan secara nyata, berkesadaran, dan tetap menggembirakan agar anak merasa nyaman dan diterima sepenuh hati.
Tita juga menjalankan berbagai program prioritas di sekolah yang ia kelola. Sejalan dengan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Program ini dirancang agar anak berkembang secara utuh baik fisik, mental, sosial, maupun spiritual.
Melalui program stimulasi perkembangan, anak-anak difasilitasi untuk bermain edukatif, membaca, berolahraga, menggambar, dan berkreasi untuk meningkatkan kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial.
Sementara melalui program gizi seimbang, sekolah menyediakan makanan sehat, air minum, dan edukasi gizi.
Serta menjalin kemitraan dengan tenaga kesehatan sebagai bentuk dukungan terhadap tumbuh kembang anak.
Kreativitas anak juga dikembangkan melalui kegiatan seni, budaya, dan ekstra drumband yang melatih keberanian tampil dan kepekaan rasa.
Di sisi lain, pembinaan karakter religius dilakukan melalui praktik ibadah, murojaah, bersalawat, dan istighotsah yang digelar secara rutin. Kemitraan dengan orang tua pun tidak dilupakan.
Melalui program pertemuan rutin, penyuluhan perkembangan anak, serta kegiatan Father Day dan Mama Hebat, orang tua diajak terlibat langsung dalam pembentukan kecakapan hidup anak.
Seluruh rangkaian program ini terstruktur dalam jurnal mingguan yang dikemas menarik.
Setiap Senin, anak-anak mengikuti upacara untuk menumbuhkan disiplin dan cinta tanah air.
Selasa diisi kegiatan literasi untuk memupuk rasa ingin tahu. Rabu menjadi hari olahraga agar tubuh tetap bugar.
Kamis dipersembahkan untuk pelestarian budaya daerah, lengkap dengan baju tradisional dan permainan rakyat.
Sementara setiap Jumat menjadi momentum membersihkan lingkungan sekaligus memperdalam nilai spiritual dan moral.
Senam pagi dilakukan setiap hari dengan iringan musik dan tarian ceria agar anak selalu bersemangat.
’’Dengan seluruh ikhtiar ini, kami berharap anak-anak tidak hanya tumbuh menjadi pribadi cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, empati, dan karakter kuat,’’ tegasnya.
Ia ingin generasi muda kelak mampu menghadapi tantangan era digital tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai kebaikan yang menjadi pijakan hidup. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz