JombangBanget.id - Di balik kesibukannya sebagai Kepala Divisi Akuntansi dan Pelaporan Perumdam Tirta Kencana Jombang, Pungky Novitasari, S.Ak, juga menjalani peran penting sebagai seorang ibu.
Putranya yang kini berusia 2,5 tahun menjadi pusat perhatian sekaligus motivasi dalam keseharian.
Sejak memiliki buah hati, dinamika hidupnya di Jombang berubah signifikan.
Apalagi, ia harus menjalani kehidupan terpisah jarak dengan sang suami, Haryo Eko Purnomo, yang bekerja di Madiun dan hanya bisa pulang sekali dalam seminggu.
Kondisi ini menuntut Pungky untuk mandiri dalam mengatur waktu, tenaga, dan emosi antara tanggung jawab pekerjaan dan pengasuhan anak.
Rutinitas pagi hingga sore ia jalani berdua dengan sang buah hati. Pagi hari, Pungky menyiapkan seluruh kebutuhan anak sebelum berangkat bekerja.
Selanjutnya, anak dititipkan di daycare yang menurutnya aman sekaligus mendukung tumbuh kembang.
Sepulang kerja, ia menjemput anaknya dan kembali menjalani peran sebagai ibu di rumah.
Meski tantangannya tidak ringan, Pungky mengaku kini lebih menikmati fase ini.
”Sekarang sudah lebih enak, tidak seribet dulu. Usianya sudah 2,5 tahun, jadi jauh lebih enjoy,” ujarnya.
Di rumah, Pungky terbiasa melakukan berbagai aktivitas secara bersamaan. Saat anak bermain, ia membereskan rumah atau memasak.
”Kunci utama adalah bisa membagi waktu dan menyesuaikan ritme dengan kebutuhan anak,” ungkapnya.
Sejak usia tiga bulan, anaknya sudah dititipkan di daycare, tepat setelah masa cuti melahirkan berakhir.
Sempat pula ia menitipkan anak di Madiun, di rumah orang tua selama enam bulan.
Namun, kondisi itu membuatnya tidak tenang karena harus bolak-balik Jombang–Madiun.
Akhirnya, ia memutuskan membawa kembali anaknya untuk tinggal bersamanya di Jombang. ”Saya lebih fokus dan nyaman kalau anak saya di Jombang,” jelasnya.
Baginya, daycare bukan sekadar tempat penitipan, tetapi juga ruang belajar dan bersosialisasi.
Selama berada di daycare dari pagi hingga sore, anaknya sudah diajak bermain dan belajar.
Karena itu, ketika di rumah, Pungky memilih tidak terlalu memaksakan aktivitas belajar tambahan.
”Saya membebaskan anak untuk bermain agar tumbuh dengan bahagia dan alami,” tandas Pungky. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz