Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal: Berbahagia dengan Karunia dan Rahmat Allah

Rojiful Mamduh • Rabu, 29 Oktober 2025 | 12:23 WIB
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Pengasuh PP Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafiz, menjelaskan pentingnya berbahagia dengan karunia dan rahmat Allah Ta’ala.

Hal itu diungkapkannya saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Selasa (28/10).

’’Katakanlah dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan,’’ tuturnya mengutip Quran Surat Yunus ayat 58.

Ada dua hal yang menjadi dasar kegembiraan seorang mukmin. Fadlullah, karunia Allah, segala nikmat yang Allah anugerahkan tanpa kita minta: Kehidupan, kesehatan, kekuatan, udara, waktu, dan akal.

Rahmatullah, rahmat Allah, penjagaan, kasih sayang, dan bimbingan Allah agar nikmat itu menjadi berkah.

Allah menegaskan, kegembiraan sejati, bukanlah pada apa yang dikumpulkan manusia. Harta, jabatan, popularitas, atau keindahan dunia. Karena semua itu fana dan bisa lenyap.

Kebahagiaan hakiki ketika hati bersyukur atas karunia dan rahmat Allah.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.

Orang yang hatinya merasa cukup dengan anugerah Allah akan selalu bahagia, meski dunia tidak berpihak kepadanya.

Umar bin Khaththab radiyallahu anhu berkata: Kebaikan dunia dan akhirat terkumpul pada dua perkara: Rida terhadap takdir dan sabar menghadapi ujian.

Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu berpesan: Kekayaan yang paling besar adalah hati yang merasa cukup.

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: Barang siapa yang rida dengan pembagian Allah, maka dia adalah orang terkaya di dunia.

Ada lelaki miskin di masa tabi’in bernama Abu Hazim Salamah. Ia hidup sederhana, hanya makan roti kering dan air.

Suatu hari seorang khalifah datang menemuinya dan berkata: Wahai Abu Hazim, mengapa engkau tampak bahagia padahal hidupmu sangat miskin?

Abu Hazim menjawab dengan tenang: ’’Bagaimana aku tidak bahagia, sedangkan aku hidup dalam karunia Allah — sehat, beriman, dan bisa menyebut nama-Nya setiap hari.

Sedangkan engkau, wahai khalifah, mungkin memiliki dunia tapi kehilangan ketenangan.

Khalifah pun meneteskan air mata.

Ia sadar, kebahagiaan tidak pernah bisa dibeli dengan harta, karena tempatnya bukan di tangan, melainkan di hati yang mengenal Allah. (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#berbahagia #Rahmat #allah #Karunia