JombangBanget.id - Ustad Muhammad Nur Iskandar dari PP Al Muhsinin, Tugu, Kepatihan, menjelaskan hikmah empat hal yang telah ditentukan Allah sejak dalam kandungan.
Hal itu diungkapkannya saat ngaji usai salat Duhur Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Selasa (5/8).
’’Empat hal itu ditentukan sejak dalam kandungan agar kita selalu berpikir dan bertindak positif,’’ tuturnya.
Beriman kepada takdir—termasuk empat hal ini—adalah bagian dari rukun iman.
Ini menjadikan kita: Tawakal dalam usaha. Sabar saat gagal. Syukur saat diberi. Sadar bahwa hidup ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Ketika janin berusia empat bulan, Allah Ta’ala mengutus malaikat meniupkan roh dan menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia celaka atau bahagia.
Pertama rezeki. Allah Ta’ala menetapkan rezeki setiap manusia—berapa banyak yang akan ia dapatkan, dari jalan mana ia mendapatkannya, dan bagaimana ia menggunakannya.
Sebagaimana disebutkan dalam QS Hud 6. ; Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.
Hikmahnya, membentuk sikap qana’ah, merasa cukup. Menenangkan hati dari rasa iri dan dengki terhadap rezeki orang lain.
Menumbuhkan tawakal dan semangat bekerja, karena Allah Ta’ala sudah menjamin rezeki setiap makhluk, tapi tetap memerintahkan usaha.
Kedua ajal. Sebagaimana disebutkan dalam QS Al A’raf 34. Apabila ajal tiba, maka mereka tidak dapat menundanya barang sesaat pun dan tidak (pula) dapat memajukannya.
Hikmahnya, menumbuhkan kesadaran akan kematian yang bisa datang kapan saja. Mendorong untuk bertobat dan memperbanyak amal saleh.
Menghindarkan dari rasa takut berlebihan terhadap dunia, karena ajal sudah ditentukan.
Ketiga amal. Ada orang yang amalnya seperti ahli surga, tapi akhirnya suul khotimah masuk neraka.
Ada orang yang amalnya seperti ahli neraka, tapi akhirnya khusnul khotimah masuk surga.
Hikmahnya, mendorong manusia untuk beramal dengan ikhlas, karena amal menentukan nasib akhir.
Mengajarkan kita untuk tidak merasa aman atau sombong dengan amal yang telah dilakukan. Memahami bahwa amal adalah sebab keselamatan, walaupun takdir sudah ditulis.
Keempat celaka atau bahagia. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: Ketetapan bahagia atau celaka adalah berdasarkan ilmu Allah yang qadim, bukan paksaan.
Hikmahnya, mengajarkan kita untuk tidak putus asa dari rahmat Allah Ta’ala, karena selama masih hidup, nasib akhir bisa berubah dengan tobat dan amal.
Menumbuhkan rasa takut dan harap: Takut terhadap dosa dan berharap rahmat Allah Ta’ala.
Serta mengingatkan kita untuk selalu berdoa agar diwafatkan dalam husnul khatimah. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz