JombangBanget.id - KH Agung Bahroni, Sekretaris MUI Kecamatan Jombang, dengan penuh wibawa berbagi pencerahan tentang lima penyebab kebodohan yang kerap tak disadari.
Usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, pada Senin (16/7), ia menguraikan satu per satu akar masalah yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam jurang ketidaktahuan.
1. Kesombongan Intelektual: Merasa Paling Pintar
Pertama, KH Agung menyoroti sifat ujub—kebanggaan diri yang berlebihan. "Merasa paling pintar di zamannya membuat hati tertutup rapat dari nasihat dan ilmu baru," ujarnya tegas.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW: “Tiga hal yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang kagum pada dirinya sendiri.”
Sebagai teladan, ia memaparkan kerendahan hati Imam Syafi’i, yang pernah berkata, “Setiap kali aku berdiskusi, aku berharap kebenaran muncul dari lisan lawan bicaraku, bukan dari lisanku.” Sikap ini, lanjutnya, adalah kunci menuju ilmu sejati, jauh dari ilusi keunggulan diri.
2. Keras Kepala: Memaksakan Pendapat yang Keliru
Penyebab kedua adalah keras kepala, yakni bersikukuh pada pendapat meski kebenarannya meragukan. KH Agung mengutip Ibnu Qayyim: “Tak ada yang lebih merusak agama daripada hawa nafsu dan pendapat yang dipaksakan.”
Ia juga mengenang nasihat Ali bin Abi Thalib: “Kebenaran tidak diukur dari orangnya, tetapi orang diukur dari kebenaran. Kenali kebenaran, maka kau akan tahu siapa yang berada di jalannya.”
Kata-kata ini mengingatkan jamaah untuk selalu rendah hati dan terbuka terhadap kebenaran, alih-alih terjebak dalam ego.
3. Ikut Campur Urusan yang Bukan Haknya
Penyebab ketiga adalah kebiasaan ikut nimbrung dalam setiap urusan, meski di luar kapasitas atau tanggung jawab. “Ini tanda kurangnya adab dan pemahaman akan batas diri,” tegas KH Agung. Ia mengutip nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya: “Wahai anakku, jika suatu urusan bukan urusanmu, jangan mencampurinya. Itu bisa mencelakakanmu dan merendahkan kehormatanmu.”
Sikap ini, lanjutnya, mencerminkan kurangnya kepekaan terhadap batasan, yang justru mempercepat langkah menuju kebodohan.
4. Merendahkan Orang Lain: Pintu Kesombongan
Keempat, KH Agung menyoroti sifat meremehkan orang lain, yang merupakan cerminan kesombongan.
“Merendahkan orang lain atau mengabaikan pendapat mereka adalah jalan menuju kehancuran,” katanya. Ia mengingatkan sabda Rasulullah SAW: “Tak akan masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan, meski hanya sebesar biji sawi.”
Al-Fudhail bin ‘Iyadh, seorang tabi’in, juga dihadirkan sebagai pengingat: “Orang paling bodoh adalah yang merasa paling tinggi di antara manusia, padahal ia masih bergelimang dosa.” Jamaah pun terdiam, merenungi betapa kesombongan bisa menutup pintu kebijaksanaan.
5. Kebodohan Ganda: Tidak Sadar Akan Ketidaktahuan
Puncak kebodohan, menurut KH Agung, adalah ketika seseorang tidak menyadari ketidaktahuannya sendiri—atau dalam istilah klasik, jahlun murakkab.
“Ini kebodohan ganda yang paling parah,” ujarnya. Imam Ghazali pernah berkata, “Kebodohan terburuk adalah ketika seseorang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.”
Sebagai teladan, ia mengisahkan Imam Malik yang kerap menjawab “La adri (aku tidak tahu)” saat menghadapi puluhan pertanyaan. Ketika ditanya alasannya, Imam Malik menjawab, “Mengakui ‘aku tidak tahu’ adalah bagian dari ilmu.”
Sikap ini mengajarkan jamaah untuk merangkul ketidaktahuan sebagai langkah awal menuju kebenaran.
Dengan penuh makna, kajian ini menggugah jamaah untuk introspeksi. KH Agung menutup dengan pesan: “Jauhi lima sifat ini, dan bukalah hati untuk ilmu dan kebenaran.” Suasana masjid pun dipenuhi semangat untuk terus belajar dan memperbaiki diri, meninggalkan kebodohan di belakang. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz