Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Mengabadikan Nama dalam Karya Adalah Sebuah Ilusi

Anggi Fridianto • Rabu, 6 November 2024 | 18:42 WIB

Ilustrasi rubrik opini di JombangBanget.id
Ilustrasi rubrik opini di JombangBanget.id

Ratri Hapsari Ery Haliza dkk Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prodi Psikologi Islam

Jombangbanget.id - Mengabadikan nama dalam sebuah karya. Seringkali kita anggap sebagai sebuah tujuan untuk terus berkarya.

Namun apakah benar sebuah karya dapat mengabadikan nama kita secara sebenar-benarnya? Saya memiliki pendapat lain, dimana realitas dunia kita yang tidak akan pernah mencapai kekekalan sejati, akan menampik pernyataan tersebut.

Dalam konteks dunia yang terus bergerak dinamis, konsep keabadian karya terasa seperti sebuah paradoks. Karya seni, tak peduli seberapa monumental atau berpengaruh, tetaplah cerminan dan dokumentasi dari zaman itu sendiri.

Nilai estetika, sosial, dan budaya yang terkandung di dalamnya akan terus berevolusi seiring pergeseran zaman. Karya yang dipuja dan populer pada suatu masa, bisa jadi dianggap kuno atau bahkan tidak relevan di masa depan.

Selain itu, faktor eksternal seperti bencana alam, perang, atau bahkan perubahan iklim bisa dengan mudah memusnahkan karya fisik.

Karya digital, meski lebih awet, tetap rentan terhadap kerusakan data atau perubahan teknologi.

Bahkan jika sebuah karya berhasil bertahan dalam bentuk fisik atau digital, tidak ada jaminan bahwa generasi mendatang akan terus mengapresiasinya.

Minat dan selera publik terhadap suatu karya sangatlah fluktuatif dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tren budaya dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Jika kita merenungkan, dari sekian juta manusia yang mencoba berkarya berabad-abad lalu, ada berapa nama yang masih dikenang oleh kita? Ada berapa karya yang kita ketahui? Jawabannya hanya beberapa, tentu saja.

Jangankan nama, tidak semua karya mereka mampu kita ketahui dan kita kenang pada hari ini.

Lebih jauh lagi, konsep keabadian itu sendiri adalah sebuah ilusi. Segala sesuatu di alam semesta ini tunduk dan takluk pada hukum alam, termasuk karya seni.

Tidak ada yang benar-benar abadi.

Bahkan alam semesta yang begitu luas pun diperkirakan akan mengalami akhir hayatnya suatu saat nanti. Lantas, apakah konsep keabadian karya benar-benar nyata?

Tidak, konsep keabadian karya tidak benar-benar nyata dan tidak akan nyata pula. Namun, manusia tetap memiliki tujuan lain dari berkarya, meski tidak akan abadi seutuhnya, keinginan mereka untuk terus dikenang menjadi faktor utama dalam semangat berkarya.

Berkarya adalah sebuah ekspresi diri—mungkin juga alat pelarian dari hiruk pikuk dunia—sebuah cara untuk menunjukkan pikiran, juga kebebasan. Karya adalah cerminan dan dokumentasi zaman yang berkuasa.

Editor : Ainul Hafidz
#opini #Jombang