Jombangbanget.id - Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso sekaligus Dewan Pertimbangan MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, menjelaskan pentingnya menjauhi maksiat. Baik maksiat yang terang-terangan maupun yang samar.
’’Syekh Abdul Qodir Al Jilani mengatakan, maksiat itu ada kalanya jali ada kalanya khofi,’’ tuturnya.
Maksiat jali atau terang-terangan contohnya membicarakan aib orang melalui mulut. ’’Maksiat khofi contohnya membicarakan keburukan orang lain dalam hati,’’ terangnya.
Maksiat khofi ini berbahaya karena bisa muncul dalam ucapan dan perbuatan.
Contohnya adalah rasa iri dengki alias tidak suka orang dapat nikmat dan ingin nikmat orang lain hilang.
Agar tidak muncul dalam ucapan dan tindakan, maksiat khofi dalam hati harus dibersihkan. ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Cara membersihkan hati yakni dengan membaca Alquran dan mengingat mati,’’ jelasnya.
Suatu hari Imam Junaid al-Baghdadi duduk-duduk di Masjid Asy-Syuniziyyah. Bersama penduduk Bagdad lainnya, menunggu jenazah yang hendak disalati.
Di depan mata Imam Junaid, tampak seorang pemuda sedang meminta-minta.
’’Andai saja orang ini mau bekerja hingga terhindar dari perbuatan meminta-minta tentu lebih bagus,’’ kata Imam Junaid dalam hati.
Kondisi aneh terasa ketika Imam Junaid pulang dari masjid. Ia punya rutinitas salat dan munajat sampai menangis tiap malam.
Tapi, kali ini ia benar-benar sangat berat melaksanakan semua wiridnya. Dia hanya bisa begadang sambil duduk hingga mengantuk.
Dalam gelisah, Imam Junaid tertidur. Tiba-tiba saja orang fakir yang ia jumpai di Masjid Asy-Syuniziyyah itu hadir dalam mimpinya.
Baca Juga: Toriqoh 312, Menuju Allah SWT
Si pengemis digotong para penduduk Bagdad lalu menaruhnya di atas meja makan yang panjang. Orang-orang berkata kepada Imam Junaid, ’’Makanlah daging orang fakir ini. Sungguh kau telah mengumpatnya.’’
Imam Junaid terperangah. Ia merasa tidak pernah mengumpat pengemis itu. Sampai akhirnya ia sadar bahwa ia pernah menggunjingnya dalam hati soal etos kerja.
Dalam mimpi itu Imam Junaid didesak untuk meminta maaf atas perbuatannya tersebut. Sejak itu, Imam Junaid berusaha mencari si fakir ke semua penjuru.
Hingga suatu ketika Imam Junaid melihatnya sedang memunguti dedaunan di atas sungai untuk dimakan.
Dedaunan itu adalah sisa sayuran yang jatuh saat dicuci. Segera Imam Junaid hendak menyapanya dan tanpa disangka orang itu berkata lebih dulu; ’’Apakah kau akan mengulanginya lagi wahai Abul Qasim?’’ ’’Tidak. Semoga Allah mengampuni diriku dan dirimu.’’
Imam Junaid beruntung, peringatan untuk kesalahannya datang lewat mimpi sehingga bisa berbenah diri.
Lantas, bagaimana dengan orang-orang yang gemar mengumpat, mencela orang lain, bukan saja dalam hati, tapi juga terang-terangan lewat lisan atau tulisan.
Warga toriqoh dibimbing zikir dengan kaifiyah dan haiah tertentu agar zikir mudah masuk ke dalam hati. Jika zikir sudah masuk ke hati, maka akan selamat dari maksiat jali maupun maksiat khofi. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz