ARLANTA Daneswara, cowok penyuka senja yang memiliki senyuman manis. Cowok yang menyembunyikan lukanya di balik senyumannya yang selalu ia perlihatkan di depan banyak orang.
Tidak ada yang mengetahui bagaimana sebenarnya kehidupan Arlan, hingga pada suatu hari, mereka baru mengetahui fakta di balik kehidupan Arlan.
Hembusan angin menerpa wajah Arlan yang kini sedang duduk di balkon kamar.
Kebiasaan yang tidak bisa ia tinggalkan, melihat sinar senja yang menyiratkan semburat rindunya kepada bunda.
Senja yang selalu membuatnya jatuh cinta berkali kali kepada sang senja.
Netra hitam pekat milik Arlan focus memandangi senja di arah barat.
“Dulu, bunda selalu nemenin Arlan lihat senja di sini,gimana kabarnya bunda di sana?
Mungkin sekarang bunda di atas sana lagi liat Arlan ya? Bun, ayah udah nggak kayak dulu lagi, ayah selalu marahin Arlan, bentak Arlan, sama kayak pas papa bentak bunda dulu.
Entah kenapa, setiap Arlan lihat senja, Arlan ngerasa kalau bunda ada di samping Arlan. Arlan pengen dipeluk sama bunda”.
Arlan berbicara sambil menatap sang senja berharap sang bunda bias mendengar isi hatinya.
“Arlan...!!!”. Teriak David yang membuat Arlan terjingkat, ia langsung beranjak dari tempat duduknya dan turun ke ruang tamu.
“ Iya ayah,ada apa?”. Tanya Arlan sambil menundukkan kepalanya.
“Plaakkk” Bukannya jawaban yang ia dapat, melainkan tamparan keras di pipi kirinya.
Air matanya luruh membasahi pipi Arlan, bukan karena rasa sakit yang menjalar di pipi. Melainkan karena ia sudah lelah menghadapi sikap ayahnya.
“Kenapa nilai matematikamu turun? Ini akibat kamu kebanyakan main handphone. Nilai 90 itu termasuk angka yang buruk lan.
Mulai hari ini, kamu tidak boleh keluar rumah! Kamu harus belajar di kamar! ucap David dengan nada tinggi.
“Anak yang tidak berguna,”ucap David lagi sambil merobek kertas hasil ulangan Arlan dan melemparkannya ke wajah Arlan lalu melenggang pergi dari sana.
“ Bun, Arlan nggak berguna, kata ayah Arlan nggak berguna. maafin Arlan bun, maaf,” Arlan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya dan mengunci pintu kamarnya rapat.
Arlan merobohkan dirinya di atas ranjang. Kepalanya terasa sangat pusing. Tapi hal itu tidak menghalangi dirinya untuk belajar demi mendapatkan hati David.
“Kerjain MTK gue! Cepetan keburu pak Andri datang! perintah Dion kepada Arlan yang juga sedang mngerjakan tugas miliknya.
“Tapi gue belum selesai ngerjain tugas gue” jawab Arlan.
“Gue gak peduli, penting tugas gue udah kelar sebelum pak Andri masuk”
Dion menaruh buku tugasnya di hadapan Arlan, mau tudak mau, Arlan harus mengerjakan tugas milik Dion.
Bel jam pertama berbunyi. Pak Andri memasuki kelas di saat Arlan baru saja menyelesaikan tugas milik Dion.
Sedangkan milik dirinya sendiri belum tuntas. “Untuk tugasnya lansung dikumpulkan di meja guru”. ucap Pak Andri.
Siswa dan siswi yang lain maju untuk mengumpulkan tugasnya. Sedangkan Arlan berusaha mengerjakan tugasnya secepat mungkin.
Pak Andri meliahat Arlan yang masih terlihat focus mengerjakan tugas.
“Arlan, mana tugas kamu?”.
“Be- belum pak”.
“Saya udah ngasih tugas dari semunggu yang lalu. Tapi kamu belum menyelesaikan tugas! Biasanya kamu yang paling pertama mengumpulkan tugas.
Saya kecewa sama kamu. Sekarang kamu lari memutari lapangan sepuluh kali!”.
Arlan menurut saja. Ia bergegas turun ke lapangan untuk menjalani hukumannya.
Baru saja ia mengitari lapangan empat kali, kepalanya terasa pusing, pandangannya agak memburam.
“Lemah. Baru gitu aja udah berhenti”. Ejek Dion dari atas sana. Arlan menggelengkan kepalanya.
“Gue gak lemah, gue kuat,” Yakinnya kepada dirinya sendiri. Dia terus mengitari lapangan sampai pada putaran terakhirnya.
Ia merasakan cairan kental keluar dari hidungnya disertai dengan bau anyir. Tanpa pikir panjang, ia langsung menutupi hidungnya dengan kedua tangannya dan bergegas lari menuju kamar mandi.
Dia mengelap darahnya dengan tisu dan membersihkan tangannya dengan air. Arlan melihat dirinya di depan cermin, terlihat sangat kacau, tidak seperti biasanya.
Bibirnya pucat dan matanya semakin menghitam. Bel berbunyi, tanda jam istirahat dimulai.
Arlan pergi ke kantin dengan Alka, sahabat Arlan yang selalu membela dirinya ketika di bully teman-temannya.
Di tengah tengah mereka berdua asyik menikmati makanan, Dion dan teman-temannya melewati meja yang ditempati mereka.
Dengan sengaja, Dion menumpahkan jus jamu tepat di seragam Arlan.
“Eh, sorri Lan, sengaja”.
“Lo nggak liat ada orang di sini?”
“Liat, kan emang gue sengaja numpahin ke Arlan” Jawab Dion santai dan melenggang pergi dari kantin.
“Ayo Lan, bersihin baju lo, gue bantu,” ajak Alka.
“Lan, dipanggil ke ruang kepsek sekarang,”. Arlan tidak menjawab, ia langsung bergegas menuju ruang kepsek.
“Assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam, masuk Lan”.
“Duduk, saya mau bicara sama kamu”.
“Silakan pak”.
“Sebentar lagi ada olimpiade MTK dan seperti biasa saya memilih kamu untuk mewakili sekolah, tapi sebelum itu kamu harus melakukan tes psikolog.
Itu adalah salah satu syarat dari lomba ini,” ucap kepala sekolah.
“Gimana, kamu siap kan?”. Tanya kepala sekolah
“Siap, pak”.
“Baik, saya harap kamu tidak mengecewakan bapak”.
“Ya pak saya akan berusaha semaksimal mungkin”.
“Setelah ini bapak yang antarkan kamu”.
Keesokan harinya, Arlan kembali dipanggil ke ruang kepsek untuk datang melihat hasil tes psikolog kemarin.
“Bapak nggak nyangka kamu punya penyakit ini, Lan”.
“Maksud bapak?”. Tanya Arlan yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan barusan.
“Ini, kamu baca sendiri”. Ucap kepsek sambil menyodorkan amplop yang berisi kertas hasil tes psikolog.
Awalnya, Arlan masih tidak paham dengan ucapan kepsek tadi.
Hingga pada Akhirnya, mata Arlan tertuju pada tulisan yang dicetak tebal.
Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Dia terkejut bukan main, mengetahui penyakir mental yang ia alami selama ini.
“Bapak malu sama sekolah lain Lan, sekolah-sekolah lain mengeluarkan perwakilan terbaik dan waras untuk lomba ini, bapak membanggakan kamu, kamu adalah harapan terakhir, bapak sangat kecewa dengan kamu.”
“Tapi saya masih bias ikut kan pak?. Tanya Arlan polos.
“Kamu tidak waras Lan! Dan pastinya kamu tidak diperbolehkan ikut!”.
“Ma- maaf pak”. Ucap Arlan sambil menundukkan kepalanya dan beranjak pergi dari ruang kepsek.
Arlan berjalan sambil terus memeluk kertas hasil tesnya. Ia menuju taman belakang sekolah. Dia memilih untuk tidak masuk ke kelas.
Netranya tertuju pad tulisan tebal tadi.
“Ini semua gara-gara ayah sama papa. Andaikan ayah sama papa sayang sama Arlan, hidup Arlan pasti bahagia, Arlan nggak bakal punya penyakit ini.
Bunda, Arlan nggak waras hidup sama ayah, Arlan pengen ikut bunda aja, Arlan pengen dipeluk sama bunda.
Nda, izinin Arlan ikut bunda ya? Arlan capek, Arlan nggak kuat”. Gumam Arlan.
Bendungan air mata yang sejak tadi berusaha ia pending, luruh begitu saja membasahi kertas.
Tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing, cairan kental disertai bau anyir keluar dari hidungnya.
Ia menutupi hidungnya dengan tangan. Darah yang keluar semakin banyak dan mengenai kertas yang ia bawa.
Pandangannya memburam dan menghitam, kepalanya terasa sangan sakit, Arlan tidak bias menopang keseimbangan tubuhnya sampai pada detiik selanjutnya, ia terjatuh pingsan.
Sebelum Arlan menutup matanya, samar samar Arlan mendengar suara Alaka meneriaki namanya.
Arlan membuka matanya, menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih. Serta selang infus yang menempel di tangan kiri, serta seragam yang terkena noda darah.
Arlan kebingungan apa yang terjadi pada dirinya. Pintu terbuka, seseorang dengan memakai seragam putih dan stetoskop yang mengalung di lehernya memasuki ruangan sambil membawa amplop hasil pemeriksaan.
“Ini hasil pemeriksaan kamu, semangat ya dek, kamu pasti bisa, masih ada waktu untuk sembuh. Oh iya, tadi teman kamu masih keluar sebentar, saya tinggal duluan ya”.
Arlan memandangi kertas yang kini ada di tangannya. Ia membuka kertasa itu perlahan dan membaca isi dari kertas tersebut.
Namun, ada satu kalimat yang membuat Arlan merasa seperti dihantam balok kayu yang besar. Chronic Kidney Disease (CKD).
Arlan putus asa. Benar-benar putus asa. Arlan melepas paksa infus di tangan kirinya, melarikan diri dari rumah sakit. Berjalan menelusuri jalan, dan hembusan angin menerpa wajahnya.
“Hidup gue gak pernah berguna”. Lirih Arlan
“Ya Allah, kalau memang Arlan nggak lama lagi hidupnya, Arlan pengen banggain ayah dengan cara dapetin nilai terbaik di hari kelulusan nanti”.
Ucap Arlan sambil tersenyum tipis membayangkan bagaimana bahagianya ayah dan dirinya yang akan mendapat pelukan hangat.
Sejak hari itu, Arlan selalu menghabiskan waktunya di kamar untuk belajar dan belajar.
Sedangkan Alka, ia sudah mengetahui penyakit Arlan selalu menemani untuk cuci darah dan kemoterapi lainnya. Hingga di hari kelulusan tiba, harapan Arlan menjadi kenyataan, ia lulus dengan nilai terbaik dan menjadi juara satu di kelas.
“Arlan harap ayah bisa luluh dengan ini,“ gumamnya.
Malam hari ini, anak-anak kelas 12 merayakan hari kelulusan mereka dengan penuh kebahagiaan termasuk Arlan. Kini dia sedang duduk bersama Alka.
“Kelihatannya tugas gue udah selesai ka,”. Ucap Arlan sambil memandangi gemerlap bintang di atas langit.
“Maksud lo?”. Tanya Alka. Namun Arlan tidak menjawab, hanya menanggapi pertanyaan itu dengan senyuman manis.
“Makasih udah mau nemenin gue cuci darah, maksih untuk semuanya ya ka”.
“Gue nggak paham sama maksud lo Lan”
“Lo bakalan paham suatu hari”. Ucap Arlan sambil menepuk pundak Alka.
“Gue pulang dulu, takut bokap gue marah dan mukulin gue lagi”. Pamit Arlan.
Ia memilih pulang sendiri menaiki motornya. Entah kenapa malam ini, anginnya terasa sangat dingin menusuk tubuh Arlan.
Ia sangat menikmati hari ini dan menantikan pelukan hangat dari David. Tiba-tiba pandangannya kabur, ia mendengar suara klakson yang sangat keras dari belakang yang membuat kepalanya terasa sakit.
Bukannya takut Arlan malah tersenyum.
“Ini waktunya Arlan ketemu bunda “.
“Brakk”. Arlan tertabrak mobil dan terpental jauh dari motornya. Darah mengalir di mana-mana.
“Lan, bangun nak, ini ayah”. Ucap David sambil menepuk pelan pipi Arlan. Dengan perlahan, Arlan membuka matanya menatap ayahnya yang sudah menangis di sampingnya.
“Yah”. Panggil Arlan.
“Maafin Arlan yah, Arlan belum bisa jadi anak yang baik buat ayah, Arlan nggak berguna yah, Arlan bener-bener minta maaf”.
“Nggak Lan, ayah yang salah, ayah nggak pernah merhatiin keadaan kamu, ayah nggak tau kalau kamu punya penyakit seserius ini,”.
“Ayah udah cukup kok dengan nyekolahin Arlan, makasih yah, karena ayah, Arlan bisa ngrasain gimana rasanya dibilang nggak waras, gimana rasanya cuci darah, makasih yah, ini waktunya Arlan ketemu sama bunda.
Arlan pengen ketemu bunda, peluk bunda, cium bunda di atas sana”.
“Maksud kamu apa Lan?”. Nafas arlan mulai tersengal-sengal. Tangannya meremas kuat ranjang rumah sakit, menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.
“A-Arlan p-pergi dulu y-ya yah, m-mau ketemu b-bu-bunda”. Hingga pada akhirnya Arlan benar-benar menutup matanya dan tidak akan bangun untuk selamanya.
Arlan pergi dari dunia ini dan pergi bertemu bundanya. Meninggalkan David dengan penuh penyesalan dalam hidupnya, menyia-nyiakan seorang anak yang paling berharga dalam hidupnya. (*)
Karya : Chelsey Maysha Sastarinba
(Santri Kelas 11 MA Darussalam Ngesong Sengon Jombang)
Editor : Ainul Hafidz