JombangBanget.id - Wakil Sekretaris MUI Jombang, KH Khairil Anam, menjelaskan kiat menjalani kehidupan.
’’Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam mengibaratkan orang hidup di dunia ini ibaratnya seperti tamu. Beliau bersabda; Jadilah kamu di dunia ini seperti tamu,’’ tuturnya saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (13/12).
Pertama, tamu itu harus manut dan nurut pada tuan rumah.
’’Begitu juga manusia di dunia ini, juga harus manut dan nurut kepada tuan dunia yaitu Allah SWT,’’ terangnya.
Kedua, tamu itu sebentar. Dengan demikian hidup di dunia itu sebentar, yang lama di akhirat.
Dunia terbatas, yang langgeng abadi selamanya itu di akhirat.
’’Karena itu, jangan sampai tertipu dengan kehidupan dunia. Sesibuk apapun urusan kita di dunia, jangan sampai melupakan urusan akhirat. Karena akhirat itu yang lebih baik dan lebih langgeng daripada dunia,’’ jelasnya.
Satu hari di akhirat nanti, sama dengan seribu tahun kehidupan dunia.
Sebagaimana disebutkan dalam QS Alhajj 47.
Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.
Dibanding kehidupan dunia, tentu sangat pendek. Maksimal, orang hidup di dunia hanya seratus tahun.
Itu pun sekarang sangat sedikit orang yang usianya sampai seratus tahun.
Dibanding kehidupan akhirat, hidup kita di dunia ini tidak sampai satu jam.
Padahal di akhirat nanti kita hidup jutaan tahun.
Bahkan abadi selama-lamanya. Yang di surga abadi merasakan kenikmatan. Yang di neraka ada yang dinaikkan ke surga setelah dosa-dosanya dibersihkan.
Ada juga yang selama-lamanya di neraka.
’’Jadi sangat rugi kalau demi dunia sampai melupakan akhirat,’’ tegasnya.
Ibarat enak satu jam, menderita selama-lamanya.
Gus Anam menjelaskan, hidup kita merupakan pemberian Allah SWT.
’’Jadi semestinya, kita harus hidup seperti keinginan yang memberi kehidupan yakni Allah SWT,’’ tegasnya.
Yakni untuk mengabdi dan ibadah kepada Allah SWT. Sebagaimana disebutkan dalam QS Adzariyat 56.
Bentuk ibadah itu sendiri bermacam-macam. Kita salat, puasa, zakat itu ibadah.
Berbakti kepada orang tua juga ibadah. Mencari rezeki halal untuk nafkah keluarga juga ibadah.
Membesarkan dan mendidik anak juga ibadah. Berbuat baik kepada tetangga, saudara, teman dan semua orang juga ibadah.
’’Apapun yang kita lakukan sesuai tuntunan Allah SWT dan Rasulullah bernilai ibadah,’’ tegasnya. Juga apapun yang kita lakukan dengan niat menggapai rida Allah SWT.
’’Orang yang bekerja dengan niat ibadah, orientasinya bukan banyaknya. Tapi halalnya,’’ tandasnya. (jif/naz/fid)
Editor : Ainul Hafidz