”Masjid ini kalau tua ya tidak begitu tua. Karena masjid ini dibangun tahun 1996,” ujar Bhatoro Sino, ketua takmir Masjid Arahman kemarin.
Pria sekaligus pendiri masjid tersebut mengungkapkan, ide arsitektur masjid ia dapatkan dari pemikirannya sendiri. ”Masjid ini arsiteknya perpaduan dari masjid Turki, Cina dan Jawa,” bebernya.
Masjid yang didominasi warna merah itu, memang cukup mentereng dan megah. Masjid mempunyai kubah berukuan besar. Di sekitar kubah terdapat ornamen-ornamen bangunan Cina. Sedangkan, bagian serambi masjid dimodel seperti pendapa khas bangunan Jawa. Paling mencolok lagi, bagian tiang-tiang masjid terdapat ornamen khas Jawa. ”Bagian kubah itu saya meniru dari Turki, atapnya itu Cina dan ruangan utama itu Jawa,” ungkapnya.
Uniknya lagi, di serambi masjid terdapat sejumlah lampu gantung yang antik dan satu lampu gantung yang berukuran cukup besar. ”Saya juga suka barang-barang antik,” bebernya. Diungkapkannya, arsitek masjid dari berbagai negara itu.
Saah satu tujuan membangun masjid dengan gaya arsitektur perpaduan sejumlah negara itu, selain keindahan juga agar masyarakat tidak membeda-bedakan agama dan selalu bertoleransi antarsesama. ”Untuk ornamen Jawa agar masyarakat juga ingat kita ini orang Jawa. Harus mengingat budaya,” pungkasnya. (yan/naz)
Dulunya Masjid Kecil, Jumlah jamaah Terus Bertambah
SEMENTARA itu, Masjid Ar Rahman dulunya tidak semegah saat ini. Sebelum dilakukan renovasi pada 2014 lalu, bangunan masjid sangat kental nuansa masjid Jawa, dan berukuran lebih kecil. Seiring perkembangan masjid, jumlah jamaah terus bertambah.
”Bangunannya dulu tidak seperti sekarang. Dulu kecil karena jamaahnya sedikit juga,” kata Bhatoro Sino, ketua takmir Masjid Ar Ahman.
Terlebih lagi, di wilayahnya tersebut, dulunya banyak warga yang enggan ke masjid. ”Dulu orang-orang di sini banyak yang suka minum, berjudi. Untuk itu kami ingin mengubahnya tanpa harus melarang. Intinya dulu itu warga keluar pakai sarung ditertawakan. Sekarang keluar tidak pakai sarung malu,” bebernya.
Ia menceritakan, pada saat pembangunan dulu banyak kendala. Bahkan, pembangunan sempat terhenti selama dua bulan. ”Banyak ceritanya dulu, sampai-sampai pembangunan sempat terhenti,” ungkapnya.
Meski begitu, dirinya dan warga lainnya tetap berusaha untuk melanjutkan pembangunan masjid tersebut. ”Alhamdullilah sekarang jama’ahnya semakin banyak,” pungkasnya. (yan/naz) Editor : Jombang Banget