JombangBanget.id – Bell’s Palsy atau kelumpuhan saraf wajah yang menyebabkan salah satu sisi wajah melemah atau tampak perot secara tiba-tiba dapat menyebabkan satu sisi wajah mengalami kelumpuhan secara mendadak, mulai dari dahi, kelopak mata hingga bibir.
RSUD Jombang mengingatkan masyarakat mengenali gejalanya dan segera memeriksakan diri.
’’Pada kasus Bell’s Palsy terjadi proses peradangan, pembengkakan, atau penekanan pada saraf fasialis,’’ kata Kepala instalasi Rehabilitasi Medik RSUD Jombang, Dr Agustina Mufidah SpKFR, dalam program Humas Menyapa dengan host Veni Istiani SKep Ns.
Baca Juga: Tabrakan Vario-Scoopy di Watugaluh Jombang, Dua Orang Luka
Saraf fasialis atau saraf kranial ketujuh berfungsi mengatur pergerakan otot wajah, termasuk otot bibir, kelopak mata, hingga dahi.
’’Gejalanya bisa diawali nyeri di belakang telinga yang muncul satu atau dua hari sebelum kelumpuhan,’’ terangnya.
Setelah itu, penderita bisa mengalami kelemahan pada seluruh otot ekspresi di salah satu sisi wajah. Kondisi ini membuat wajah tampak perot.
Makanan mudah mengumpul di salah satu sisi mulut, hingga air liur menetes dari sudut bibir.
Baca Juga: 80 Gerai KDKMP Jombang Diverifikasi, Ini Tahap Berikutnya
Penderita juga bisa mengalami penurunan kemampuan mengecap pada bagian depan lidah di sisi yang sama.
Mata juga dapat terasa pedih karena produksi air mata berkurang. Sebagian penderita menjadi lebih sensitif terhadap suara keras.
Wajah perot akibat Bell’s Palsy berbeda dengan kelumpuhan wajah yang disebabkan stroke. Pada stroke, biasanya terdapat gangguan lain akibat masalah pada sistem saraf pusat.
Seperti kelemahan anggota tubuh, gangguan bicara, menelan, atau keseimbangan.
’’Kalau Bell’s Palsy, kelainannya berada di perifer. Kelemahan bisa mengenai setengah wajah, mulai dahi, kelopak mata sampai bibir,’’ bebernya.
Ada beberapa kondisi yang menjadi faktor risiko Bell’s Palsy. Di antaranya, usia sekitar 40 tahun yang menjadi kelompok dengan angka kejadian cukup tinggi.
Baca Juga: Truk Ambruk di Tikungan Ngoro Jombang, 10 Buruh Tani Tertimbun Padi
Diabetes melitus, kehamilan, serta riwayat infeksi saluran pernapasan.
Terkait anggapan masyarakat Bell’s Palsy disebabkan terlalu sering terkena kipas angin atau angin malam, Agustina menyatakan penyebab pasti Bell’s Palsy hingga kini belum diketahui.
Paparan suhu dingin pada wajah dapat menjadi salah satu faktor pemicu peradangan pada saraf tepi. Sementara infeksi virus juga kerap dikaitkan dengan kondisi tersebut.
Karena itu, ketika wajah tiba-tiba mengalami kelumpuhan pada satu sisi, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke dokter. Penanganan lebih awal dapat membantu memperbaiki peluang pemulihan.
Baca Juga: Pengurus KPRI Sejahtera Jombang Dikejar Deadline, Data dan Dokumen Belum Lengkap
Dari sisi rehabilitasi, pasien dapat menjalani sejumlah latihan sesuai kondisi masing-masing.
Di antaranya massage, latihan penguatan otot-otot wajah, serta penggunaan modalitas tertentu. Seperti infrared, short wave diathermy (SWD), dan electrical stimulation, atau laser.
’’Setiap alat memiliki indikasi dan kontraindikasi. Jadi, tidak semua pasien mendapatkan modalitas yang sama. Terapi disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien,’’ jelasnya. (ang/jif)
Editor : Ainul Hafidz