JombangBanget.id – Sekitar 1.500 warga terdeteksi TBC dalam mobile skrining Dinkes Jombang sejak April hingga September 2026.
Setelah pemeriksaan terhadap sekitar 3.000 peserta menunjukkan separo di antaranya teridentifikasi dan kini menjalani terapi pengobatan.
Data Dinkes Jombang mencatat, dari sekitar 3.000 warga yang mengikuti jemput bola pemeriksaan kesehatan, sebanyak 1.500 orang di antaranya terdeteksi mengidap TBC.
Baca Juga: 1.210 Dusun di Jombang Kini Resmi Punya Pijakan Administratif
Seluruh warga yang teridentifikasi kini tengah menjalani terapi pengobatan secara intensif.
”Sekitar 50 persen dari tiga ribu warga, atau hampir 1.500-an terdeteksi dan saat ini dalam proses pengobatan,” ungkap Kepala Dinkes Jombang dr Hexawan Tjahja Widada, Jumat (4/9).
Berdasar pemetaan usia, mayoritas kasus infeksi paru-paru ini menyerang kelompok warga berusia di atas 40 tahun, dengan rata-rata usia penderita berada di angka 45 tahun.
Namun, yang perlu diwaspadai, penularan juga mulai mengintai kelompok rentan anak-anak.
Baca Juga: Tiga RS Jember Belajar Sistem Remunerasi ke RSUD Jombang
Hexawan membeberkan, penularan pada balita maupun anak-anak kerap terjadi di lingkungan domestik keluarga.
Pola asuh harian seperti anak yang dititipkan kepada kakek atau nenek yang terinfeksi TBC tanpa disadari menjadi rantai penularan paling rawan.
”Kalau anak-anak kecil, biasanya karena orang tuanya kerja lalu anak dititipkan ke mbahnya. Jika mbahnya terdeteksi TBC, anak bisa ikut tertular. Pola penularan seperti ini yang harus kita antisipasi bersama,” tegasnya.
Dampak positif deteksi dini dirasakan betul oleh Siti Khotimah, salah seorang warga peserta mobile skrining.
Ia mengaku sempat menderita batuk menahun yang tak kunjung sembuh meski sudah berkali-kali berganti obat toko.
Usai mengikuti skrining dan dinyatakan positif TBC, dirinya langsung mendapat penanganan medis secara gratis.
Baca Juga: Bukan Hanya Kerja Bakti, Jombang Bangun Budaya Bersih
”Awalnya batuk terus-menerus, minum obat biasa tetap tidak sembuh. Alhamdulillah setelah ikut skrining dan rutin minum obat selama empat bulan serta empat kali kontrol, sekarang sudah tidak batuk sama sekali,” tutur Siti.
Hexawan menegaskan, program mobile skrining sengaja digulirkan untuk memutus mata rantai penularan di tingkat tapak secara dini.
Mengingat TBC merupakan penyakit menular yang bisa disembuhkan total jika ditangani dengan terapi obat secara tepat dan disiplin hingga tuntas.
Pihaknya mengimbau masyarakat yang mengalami batuk persisten atau memiliki riwayat kontak erat dengan penderita TBC agar tidak ragu memeriksakan diri. (riz/naz)
Editor : Ainul Hafidz