JombangBanget.id — Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Jombang mengalami peningkatan signifikan sepanjang Januari 2026.
Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang mencatat sebanyak 112 kasus DBD terjadi dalam rentang waktu 1 hingga 29 Januari 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dr Hexawan Tjahja Widada, memastikan hingga saat ini belum ada laporan korban meninggal dunia akibat DBD di wilayah Jombang.
”Per tanggal 1 sampai 29 Januari tercatat 112 kasus DBD. Sejauh ini belum ada informasi kasus meninggal dunia karena DBD,” ujar dr Hexawan.
Berdasarkan data yang dihimpun dari puskesmas dan rumah sakit, Kecamatan Diwek menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni sekitar 30-an kasus.
Pasien DBD tercatat menjalani perawatan baik di puskesmas maupun rumah sakit, dan sebagian lainnya telah dipulangkan setelah kondisi membaik.
”Data kami berasal dari laporan puskesmas dan rumah sakit. Seluruh rumah sakit se-Kabupaten Jombang turut melaporkan kasus DBD,” jelasnya.
Hexa menjelaskan, melonjaknya kasus DBD salah satunya dipicu perubahan cuaca ekstrem.
Kondisi cuaca yang tidak menentu, dari hujan kemudian panas, sangat mendukung perkembangbiakan jentik nyamuk.
”Kalau dari hujan lalu panas, jentik nyamuk itu mudah tumbuh. Berbeda kalau hujan terus-menerus, biasanya jentik ikut hanyut terbawa air,” terangnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Jombang mengintensifkan berbagai upaya pencegahan.
Baca Juga: Musim Hujan Tiba, Kasus DBD di Jombang Melonjak, Dinkes Catat Capai Segini
Di antaranya melalui kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) setiap hari Jumat di seluruh desa, sosialisasi keliling oleh masing-masing puskesmas, serta imbauan kewaspadaan DBD kepada masyarakat.
Selain itu, dilakukan pula pemberian abate dan fogging fokus di wilayah-wilayah yang ditemukan kasus.
Namun demikian, dr Hexa menegaskan perubahan perilaku masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam pencegahan DBD.
”Yang paling utama adalah perubahan perilaku. Kami sudah bersurat ke Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama agar sekolah-sekolah lebih memperhatikan kebersihan lingkungan,” tegasnya.
Ia menyoroti area sekolah yang berpotensi menjadi sarang jentik nyamuk, seperti kolong meja dan kamar mandi, yang harus dibersihkan secara rutin.
”Sekolah-sekolah itu banyak kolong meja, kamar mandi, dan tempat-tempat yang bisa menjadi sarang jentik. Ini harus menjadi perhatian bersama,” tambahnya.
Hexa juga memastikan tidak ada lokus khusus penyebaran DBD di Jombang.
Karena itu, langkah antisipasi dilakukan secara menyeluruh di seluruh wilayah kabupaten.
”Kami tidak menetapkan lokus tertentu, karena antisipasi dilakukan secara menyeluruh,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz