JombangBanget.id – Angka penyakit menular tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Jombang terus melonjak.
Dari 11.300 warga yang sudah diperiksa, 1.474 orang dinyatakan positif TBC.
’’Setiap dua minggu, angka kasus TBC di Jombang terus bergerak naik. Hingga pertengahan Agustus 2025, tercatat 1.474 kasus baru dari 11.300 warga yang telah diperiksa,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dr Hexawan Tjahja Widada, (13/8).
Pemeriksaan terus dilakukan secara masif hingga akhir tahun, sesuai target dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri.
Selain pengobatan, dinas kesehatan juga fokus pada penemuan kasus, investigasi kontak erat, serta terapi pengobatan. Setiap terduga TBC langsung diperiksa.
Jika ditemukan positif, maka delapan hingga 10 orang terdekat dalam lingkup keluarga juga akan diperiksa melalui investigasi kontak.
’’Kontak yang terduga TB langsung kami berikan terapi profilaksis. Kontak-kontak ini juga akan terus diawasi. Semua pencatatan dilaporkan lewat aplikasi SITB (Sistem Informasi Tuberkulosis) dan terpantau langsung oleh kementerian,’’’ paparnya.
Salah satu strategi penting yang diterapkan adalah edukasi kepada masyarakat agar waspada terhadap gejala TBC.
’’Kalau ada batuk lama yang tidak sembuh lebih dari satu bulan, segera lakukan pemeriksaan ke puskesmas atau rumah sakit,’’ tegasnya.
Selain TBC paru, TBC juga bisa menyerang organ lain seperti otak, usus, hingga tulang.
Dalam kondisi tubuh lemah, pasien bisa mengalami TBC milier, yaitu infeksi berat dengan nanah yang menyebar ke seluruh paru-paru.
Baca Juga: Tekan Angka TBC, YABHYSA Gandeng Dinkes dan DPMD Jombang
Ia juga menekankan keterkaitan TBC dengan penyakit lain seperti HIV/AIDS, diabetes, dan malaria.
’’Kalau tubuh kurus tanpa sebab jelas, bisa jadi itu tanda HIV atau TB. Pemeriksaan harus dilakukan secara menyeluruh, karena TB dan AIDS, tuberkulosis, malaria saling berkaitan,’’ urainya.
Guna pencegahan, masyarakat diimbau untuk menjaga perilaku hidup bersih dan sehat.
’’Saat batuk, tutup mulut. Jangan sembarangan. Penularan TBC terjadi lewat udara, dan sangat mudah menyebar,’’ tandasnya.
TBC bisa sembuh dengan pengobatan yang tepat dan teratur. Pengobatan TBC biasanya melibatkan konsumsi obat antituberkulosis (OAT) selama minimal 6 bulan.
Bahkan bisa lebih tergantung pada kondisi pasien. Kunci keberhasilan pengobatan adalah disiplin dalam minum obat dan mengikuti anjuran dokter.
Risiko paling parah TBC yang tidak diobati, penyebaran infeksi ke organ lain dalam tubuh. Ini dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian.
Jika TBC tidak ditangani, bakteri dapat menyebar dari paru-paru ke organ lain seperti tulang, otak, jantung, dan ginjal. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz