JombangBanget.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jombang menemukan 160 kasus HIV baru, per Kamis (7/8).
Jumlah tersebut, menurun separo dari tahun 2024 yang mencapai 310 kasus.
Sebagai upaya deteksi dini, Dinkes bakal melakukan skrining terhadap 37.800 warga di tahun 2025 ini.
Kepala Dinas Kesehatan Jombang, Hexawan Tjahja Widada menyampaikan, penderita HIV belum tentu penderita AIDS.
”Data itu HIV bukan AIDS, jadi beda ya,” ujar dia, Minggu (10/8).
Dijelaskan, penderita HIV yang telah ditemukan mayoritas usia produktif, yaitu 25 sampai 49 tahun.
Namun Hexa menyebut, ada juga kasus HIV yang diderita anak-anak. Sayangnya, ditanya soal Jumlah ia enggan menyebutkan.
”Jangan kalau jumlah, karena sangat sensitif, yang jelas ada, tertular dari ibunya,” ungkapnya.
Hexawan juga menjelaskan bahwa HIV berbeda dengan AIDS.
Penderita HIV, jika patuh minum obat dan menjalani pola hidup sehat, bisa bertahan hidup 20 hingga 30 tahun.
Berbeda lagi jika sudah masuk tahap AIDS. Biasanya, daya tahan tubuhnya akan drop, organ tubuh bisa terganggu, dan lamanya bertahan hidup sulit diprediksi.
Baca Juga: Kasus HIV/AIDS di Jombang Meningkat, Kadinkes: yang Sudah Ketemu Hanya Sebagian Kecil
”Itu tergantung seberapa berat kasusnya, dan biasanya hanya dokter spesialis imunologi yang bisa menentukan,” jelasnya.
Sepanjang 2025, tercatat 13 pasien HIV yang berkembang menjadi AIDS, dan seluruhnya telah meninggal dunia.
Upaya skrining dan deteksi dini terus digencarkan untuk mencegah meluasnya penularan.
Hal itu disampaikan melalui Peraturan Bupati Jombang Nomor 57 Tahun 2025 Tentang Rencana Aksi Daerah Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome, Tuberkulosis dan Malaria Tahun 2025-2030.
Target skrining mencapai 37.800 di tahun 2025. Sasaran skrining meliputi ibu hamil, calon pengantin, wanita pekerja seksual, lelaki seks dengan lelaki (LSL), waria, pengguna narkoba suntik.
Warga binaan atau napi, pasien TBC, orang dengan infeksi menular seksual, pasangan dengan HIV, hingga pelanggan pekerja seksual.
Ia menegaskan, skrining bukan berarti orang yang diperiksa pasti berisiko, melainkan sebagai langkah deteksi dini. (wen/ang)
Editor : Ainul Hafidz